14 April 2012

1 Yohanes 1:1–7 (Khotbah Minggu, 15 April 2012)

GEREJA ADALAH PERSEKUTUAN DALAM HIDUP KEKAL

Kita baru saja memperingati malam passion, kematian dan kebangkitan Yesus. Dalam peringatan itu ada yang sampai meneteskan air mata. Hanya saja saya tidak tahu, apakah orang yang menangis itu karena sungguh-sungguh menyadari penderitaan Yesus akibat dosanya ; atau, orang itu menangis karena penderitaannya sendiri. Lalu, pada hari kebangkitan kita diajak untuk bersukacita. Dari semua acara passion, Jumat Agung, dan Minggu Kebangkitan ; pesan yang hendak disampaikan adalah, adanya pengampunan dosa dan kehidupan kekal.

Yohanes  sungguh-sungguh mendengar, melihat, dan meraba, yang terjadi pada Yesus. Ia adalah Firman Hidup. Semua itu mengajak Yohanes untuk mewartakan/bersaksi adanya hidup kekal. Artinya ; kehidupan manusia tidak sekedar lahir – bergumul – mati – kemudian dihantar ke kuburan. Tetapi ada kehidupan kekal. Dan untuk itulah sesungguhnya mengapa kita perlu beriman. Iman kita lebih terarah kepada kehidupan yang kekal itu. Siasialah kita beriman kalau hanya menghadapi kehidupan saat ini. (I Korintus  15 : 19) : ‘Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia’.


Orang-orang yang beriman ditandai dengan membangun persekutuan. Di dalam persekutuan itulah, orang-orang beriman menantikan hidup kekal itu. Orang-orang yang berada di dalam persekutuan adalah orang-orang yang percaya akan hidup kekal. Kalau ada orang di dalam suatu persekutuan tetapi ia tidak dipercaya hidup kekal, ia akan menjadi batu sandungan di dalam persekutuan itu.

Yang dimaksud dengan persekutuan adanya rasa kebersamaan. Konteks gereja mula-mula membangun persekutuan (Kisah 2 : 42 - 47) ; memecahkan roti dan berdoa, ada banyak  mujizat dan tanda, kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan, bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul, makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, mereka disukai semua orang. Dengan kata lain, di dalam persekutuan terjalin begitu indah. 

Supaya persekutuan yang indah itu dapat terpelihara, maka persekutuan itu dilandasi pada Bapa dan AnakNya, Yesus Kristus.  (5) Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Di dalam persekutuan itu tidak ada alip-alipan, ‘patar songon indahan di balanga’. Semuanya harus ada keterbukaan. Di situ akan tampak kebenaran. Di dalam gereja tidak ada yang tersembunyi. Hidup di dalam persekutuan itu harus penuh dengan sukacita. Setiap anggota harus merasakan sukacita dan damai sejahtera di dalam persekutuan itu. Tidak ada yang jenuh, tidak ada yang bersungutsungut. Tidak membedakan status anggotanya. Dengan demikian, setiap anggota persekutuan sungguh-sunguh menikmati kasih Allah, sehingga setiap anggota setia menantikan hidup kekal itu.

 Bagaimana Persekutuan (Gereja) masa kini, apakah masih memelihara persekutuannya dengan benar, yang dilandasi oleh Terang yang dari Bapa dan AnakNya Yesus Kristus ? Secara Tata Gereja pasti ‘Ya’. Tapi perlu dipertanyakan ulang tentang realitanya. Apakah Gereja masih bersaksi dan apa yang perlu kita saksikan / wartakan ? Haruslah : Kasih Allah ! Bersaksi adalah amanat Tuhan Yesus kepada orang-orang percaya. Cara menjadi saksi Kristus bukan hanya dalam bentuk verbal (kata-kata) semata, namun yang lebih utama lagi dilakukan dalam bentuk nyata, yaitu kata, perbuatan dan atau sikap. Yang membuat orang bersukacita. Kesaksian orang Kristen, bukan supaya bagaimana kita menjadi besar, tetapi supaya Nama Allah makin dimuliakan.

Gereja sebagai tempat persekutuan yang indah, penuh sukacita seharusnya dirasakan oleh setiap orang yang tergabung dalam persekutuan sambil menantikan hidup kekal itu. AMIN

Pdt. H. Gurning
GKPI Rawamangun

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar