27 September 2012

Mazmur 19:8-14 (Khotbah Minggu)


                                              FIRMAN TUHAN LEBIH MANIS DARIPADA MADU 
         Ada kewajiban bagi pengendara sepeda motor untuk menggunakan helm. Suatu kali saya naik sepeda motor dengan tidak mengenakan helm. Memang tidak ada polisi yang menangkap tetapi rasa was-was menghantui hati, sebab bagi yang melanggar aturan akan kena tilang. Hati saya tidak nyaman selama mengenderai. Hati yang tidak nyaman itu adalah akibat melanggar aturan lalu lintas, yang mestinya saya taati.

          Dalam nas ini, umat Tuhan diajak untuk mematuhi aturan Tuhan. Ketaatan terhadap peraturan Tuhan ini bukan soal ditangkap atau tidak tetapi menyangkut bagaimana manusia menikmati hidup ini. Disebutkan, firman Tuhan itu sempurna dan tepat. Aturan Tuhan itu memang cukup banyak sebagai pengembangan dari Hukum Taurat. Tetapi, aturan itu tidak usah dihafalkan.Sesungguhnya semuanya itu sudah Tuhan masukkan di dalam hati setiap orang-orang percaya. Maksudnya, kita sebenarnya sudah tahu akan firman Tuhan itu, tapi apakah kita mau menjalankan atau tidak. Itu sangat tergantung pada kemauan hati kita. Bagi setiap orang yang mau merenungkan dan memberlakukan Taurat Tuhan akan memperoleh manfaat langsung di dalam hidupnya. Melalui renungan ini ada 4 manfaat bagi kehidupan manusia. 
            1.      menyegarkan jiwa (8)…….memberikan hikmat.
Taurat Tuhan itu bukan sekedar aturan yang menilai benar atau salah. Lebih dalam lagi, firman Tuhan itu mengingatkan  manusia itu pada hakekatnya. Manusia itu adalah gambaran Allah, manusia itu memiliki jiwa yang Allah kehendaki. Kehendak Allah itu dituangkan dalam firmanNya yang setiap saat dapat kita nikmati. Firman Tuhan penuh dengan hikmat yang dapat memberi pengetahuan baru bagi yang berkenan merenungkannya. Firman Tuhan menyadarkan manusia akan segala perbuatan yang telah dan akan dilakukan. Mungkin manusia itu sudah jauh melangkah atau mengejar yang tak bermanfaat, yang hanya melelahkan dirinya sendiri. Manusia menjadi stress. Atau, manusia itu merasa jenuh menjalani hidup ini karena menurutnya tidak ada lagi yang baru. Tidak ada lagi pengharapan.
Firman Tuhan mengingatkan manusia yang jauh dari Tuhan, agar berkenan melepaskan berbagai beban hidupnya. Firman Tuhan juga memberikan hikmat, agar manusia tahu apa yang perlu dilakukannya. Dengan demikian, manusia itu memiliki pengharapan baru dan menjadi dinamis dalam hidupnya. Itu sebabnya disebutkan, firman Tuhan menyegarkan jiwa. Manusia itu di-refresh dari stressnya. Orang yang merenungkan firman Tuhan akan memperoleh kesegaran jiwa.
Ada kisah seorang Bapak, yang selama hidupnya bekerja keras. Selama bekerja ia mengabaikan banyak hal ; keluarga, sosial, bahkan kerohanian/gereja. Setelah mengakhiri masa kerjanya, ia berhasil mengumpulkan banyak harta ; dan puji Tuhan, anak-anaknya juga berhasil dalam berbagai hal. Tapi setelah beberapa lama pensiun, ia menjadi bingung, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak diperhitungkan di dalam komunitas (keluarga, parsahutaon, parmargaon, bahkan di gereja ia menjadi kikuk). Semua ini terjadi karena sejak aktif ia tidak membiasakan diri berkumonitas. Si Bapak ini makin bingung ketika ia membicarakan hartanya pada anak-anaknya, tetapi tidak ada anak-anaknya yang tertarik. Sebab semuanya memang sudah mapan. Bapak ini memandang hidup ini telah gelap gulita. Hidup stagnan, tiada perubahan dan pengharapan. Kesaksian Bapak ini, ia kemudian sering membaca firman Tuhan. Ia merasa memperoleh hikmat, sehingga ia kembali memiliki semangat hidup. Salah satu Nas menjadi pegangan, yang membuatnya bersemangat dan diberlakukannya di dalam hidupnya adalah (Kisah 20:35) : “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." Ia kemudian beraktifitas dalam kegiatan sosial, dengan membantu banyak orang-orang yang lemah. Dengan pelayanannya itu, ia mengalami pembaharuan. Ia memperoleh kesegaran jiwa.
2.      menyukakan hati (9)…….membuat mata bercahaya.
Tuhan memberikan hati bagi manusia, supaya manusia bertindak (bekerja, melayani, berbuat sesuatu) didorong oleh hati itu. Semua firman Tuhan itu sudah melekat dalam hati manusia itu. Itu sebabnya, firman Tuhan itu menyukakan hati manusia. Misalnya. Firman Tuhan berkata : ‘Kasihilah sesamamu manusia’. Manusia tentu  meng-ya-kan dan meng-amin-kan itu, sebab firman itu sesuai dengan hati manusia. Tetapi karena terlalu mengandalkan pikiran, maka kita sering  gagal mengasihi, padahal itu yang Tuhan kehendaki dari manusia. Mestinya manusia memberlakukan firman Tuhan sebab itulah yang membuat kita bersukacita. Hati yang bersukacita akan terpancar melalui wajah/mata kita.
3.      takut akan Tuhan (10-11).
Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang malu melakukan dosa, yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ia bebas dari kungkungan dosa, merdeka, melampaui hidup duniawi, hidup yang penuh sukacita. Ia berkenan bagi Tuhan. Hidup yang demikian disebutkan (11) ‘lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.’
4.      Bebas dari yang tak disadari (13).
Tuhan sesungguhnya memberikan manusia kesadaran. Tindakan yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain. Tetapi perbuatan yang tidak disadari dapat menimbulkan kekacauan. Kacau karena terjadi kesalahan, kesesatan, tidak sopan, dapat menyakiti orang lain.
Kesalahan yang tidak disadari sebenarnya bisa dimaafkan orang lain. Tetapi kesalahan yang berulang-ulang apalagi menyakiti orang lain tentu sangat berbahaya. Suatu saat, orang yang tersakiti itu akan menegur orang yang melakukan kesalahan itu. Namun, karena ia tidak sadar akan kesalahannya, maka ia tidak akan pernah mengakuinya. maka terjadilah ‘perang argumen’. Firman ini mengungkapkan, orang yang diterangi firman Tuhan akan bebas dari kesesatan yang tidak disadari.

Dengan demikian, orang-orang yang taat pada peraturan, Taurat Tuhan akan hidup dengan dinamis, memperoleh kehendak hatinya, tidak berbuat dosa, dan bebas dari kesesatan. Ia hidup dalam anugerah Tuhan. Ia menikmati manisnya kehidupan ini. Hidup ini menjadi indah.

Pemazmur mulanya memandang kehidupan dunia ini penuh pergumulan ; kegelisahan, tak terpuaskan, bagaikan tanah yang tandus dan kering, tanpa pengharapan. Pemazmur sadar, bahwa hidup yang demikian akibat manusia tidak taat pada firman Tuhan. Pemazmur bersaksi, bahwa hanya ketaatan pada firman Tuhanlah maka manusia ciptaanNya dapat mengalami kesegaran jiwa dan hati yang penuh sukacita. 
Kesaksian pemazmur ini mengajak kita juga untuk hidup dalam firman Tuhan. Kita mau membaca, merenungkan dan memberlakukan firman Tuhan di dalam seluruh kehidupan kita, sebab firman Tuhan itu bagaiman emas yang indah dan lebih manis dari madu. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar