18 Oktober 2012

Amsal 23:15-26 (Minggu, 1 Nop 2015)



           TUJUKANLAH HATIMU KE JALAN YANG BENAR


Sembilan bulan lamanya seorang anak dalam kandungan dan kemudian dilahirkan oleh ibunya. Anak itu kemudian dirawat, dipelihara, dibesarkan oleh orangtuanya. Apa yang diharapkan orang tua dari anak yang dikandung, dilahirkan, dirawat dan dibesarkan itu ? Tak lain dan tidak bukan, hanyalah agar anak tersebut bertumbuh menjadi orang yang bijak. Orang tua akan bersukacita, bersukaria, dan bersorak-sorak bila anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang bijak. 

Dalam kehidupan orang Israel ada tiga hal penting untuk menciptakan manusia yang bijak : hikmat (nasehat), pendidikan dan orangtua. Hikmat adalah sumber pengajaran yang dapat menumbuhkan sikap mental dan tata-krama yang menunjang kedayagunaan dan kemajuan dalam pengabdian. Hikmat memberikan kemampuan intelektual yang tajam dan tinggi serta kemampuan yang kritis dalam membuat pertimbangan-pertimbangan untuk pengambilan keputusan.
Hikmat (nasehat) menjadi bahan ‘kurikulum’ yang diajarkan kepada anak-anak bangsa di Israel. Pengajar yang utama bukanlah guru di sekolah-sekolah atau imam di tempat ibadah, melainkan orangtua menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya di rumah.
Orang yang beroleh hikmat akan hidup dengan jujur. Jujur berarti berkata-kata dan bertindak dengan apa adanya, tidak ada dusta dalam hidupnya. Kejujuran menjadi sangat penting untuk keharmonisan hidup. Ketidakjujuran akan menjadi ancaman, baik kepada dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Orang yang beroleh hikmat juga tidak akan pernah iri hati. Orang yang berhikmat akan menjaga hatinya sedemikian rupa. Bagi orang berhikmat, segala sesuatunya sudah ditetapkan Tuhan. Maka sekalipun orang-orang berdosa memiliki kelebihan, itu adalah wewenang Tuhan. Orang berhikmat percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan segala sesuatu bagi anak-anaknya. Bedanya, orang yang tidak jujur memperolehnya dengan kejahatan dan itu tidak akan membuatnya bersukacita. Sedangkan orang yang memperolehnya dengan kejujuran akan menikmatinya dengan sukacita.
Tuhan adalah sumber hikmat itu. Oleh sebab itu, setiap orang yang ingin berhikmat maka ia harus senantiasa menujukan (mengarahkan) hatinya ke jalan yang benar. Orang tua memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyampaikan hikmat itu kepada anak-anaknya. Sebab orang tua adalah guru yang terutama dalam mengajarkan hikmat tersebut.
Orang yang berhikmat akan ditandai juga dengan praktek hidup yang benar (etika). Orang yang berhikmat bukan hanya berteori (berwacana), tetapi ia menjalani hidup secara benar. Orang berhikmat mengetahu segala yang bermanfaat dan yang tak berguna di dalam hidupnya. Ia akan menjauhi diri dari ‘peminum anggur’ dan ‘pelahap daging’…….yah, semacam parmitu beratlah. Peminum anggur dan pelahap daging adalah gambaran orang-orang yang rakus, serakah, tidak mampu mengendalikan nafsunya. Orang berhikmat akan jauh dari hidup yang demikian.
Orang berhikmat tentu saja akan selalu menghormati orang tua. Penghormatan terhadap orang tua ditandai dengan ketaatan kepada kebenaran yang telah diajarkan. Sekalipun orang tua yang melahirkan anak sudah renta tetapi ajarannya akan selalu up to date. Sebab yang diajarkan orang tua adalah hikmat yang akan berlaku sepanjang zaman. Anak-anak yang taat dan setia pada hikmat yang diajarkan akan menyukakan orangtuanya. Dengan taat kepada ajaran hikmat maka si anak tidak akan pernah menjadi anak durhaka, melainkan memberikan sukacita bagi ayahnya.
Berikanlah hatimu kepadaku’. ‘ku’ dalam ay 26 ini adalah hikmat/nasehat itu sendiri, yaitu Allah. Allah adalah sumber hikmat itu. Karena itu, setiap orang harus memperhatikan kata-kata firman Allah dengan betul-betul. Dengan demikian, nasehat ini bukan hanya berlaku bagi anak-anak kecil tetapi kepada semua umat manusia pada segala usia. Firman Allah menuntun manusia agar menjadi bijak. Setiap orang hendaklah taat kepada firman Allah maka Tuhan berkenan bagi umatNya. Kedudukan orang tua atau guru dapat menjadi jurubicara dari hikmat itu.

Tuhan telah menyelamatkan kita dengan kasihNya. Tuhan menghendaki umatNya agar hidup dengan jujur. Kejujuran seseorang hanya dirinya dengan Tuhan yang mengetahuinya. Namun cepat atau lambat, kejujuran seseorang akan terkuak. Ketidakjujuran akan menimbulkan keburukan bagi dirinya dan orang lain. Oleh sebab itu peliharah kejujuran di dalam hati kita.
Mari kita senantiasa memandang kepada Tuhan agar kita dimampukan menjalani hidup dengan kejujuran. Dunia masa kini adalah dunia yang penuh tipu-muslihat, dusta. Di dalam rumah tangga, pekerjaan, terlebih di dalam gereja Tuhan, maka kejujuran sangat menentukan ketenangan dan kedamaian. AMIN


Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar