15 Februari 2013

2 Korintus 3:12-4:2 (Khotbah Minggu)


KEMERDEKAAN TUHAN MEMULIAKAN

Kita sering menyapa orang yang sudah kita kenal sambil memberitahukan raut wajahnya. Misalnya : - eh…kok kamu bersedih, wah….ceria sekali kelihatannya, bah….kok ngelamun ? Yah,…kita memang diberikan kemampuan membaca wajah orang-orang yang ada di sekitar kita. Kondisi wajah seseorang dapat faktor dari luar maupun dari dalam. Kita bisa memberi perawatan rambut, wajah, kulit, sehingga tampak anggun, cerah, cantik. Itu pengaruh dari luar. Sedangkan pengaruh dari dalam ditentukan oleh hati, jiwa, pikiran kita. Ketika hati kita sedang sukacita, jiwa kita tentram-damai, atau pikiran kita begitu tenangnya, maka wajah kita turut memancarkan itu.
Kita mengenal tokoh Musa sebagai pemimpin umat Tuhan. Salah satu peristiwa yang cukup dikenang dalam kepemimpinannya adalah perjumpaannya dengan Tuhan di Gunung Sinai.  Dalam perjumpaan itu, Tuhan mengadakan perjanjian dengan umatNya. Perjanjian Tuhan itu dituliskan/dituangkan dalam dua loh batu, yang sekarang kita kenal Kesepuluh Firman. Perjumpaan Tuhan dengan Musa itu berlangsung selama 40 hari/malam; tidak makan roti dan tidak minum air.
Lalu Musa turun dari gunung Sinai itu dengan membawa dua loh di tangannya. Secara manusia, Musa tentu merasa letih-lesu, wajahnya kusam/capek. Tetapi tanpa disadari Musa, kulit mukanya justru bercahaya (Kel. 34:29). Wajah Musa bercahaya karena ia telah berbicara dengan TUHAN dan menerima firmanNya dan siap memberlakukannya dengan sukacita.
Bagaimanakah umat menyambut Musa yang membawa do loh batu berisi firman Tuhan itu ?
1.       Mereka ketakutan
Kehadiran Musa dengan cahaya itu merupakan pancaran sinar Tuhan, yang penuh kemuliaan itu. Namun, umat yang berdosa itu tidak mampu memandang sinar Tuhan pada wajah Musa. Umat yang masih dipenuhi dosa tidak kuasa menatap sinar Tuhan itu.
2.       Umat tidak memahami akan Hukum Tuhan
Musa sangat bersukacita saat menerima perjanjian Tuhan, yang tertuang dalam hukum Tuhan. Namun, tidak demikian dengan umat, umat tidak menerima firman itu dengan sukacita. Pikiran dan hati mereka terselubung oleh dosa. Mereka tidak dapat memahami perjanjian Tuhan itu. Mereka memandang firman Tuhan sebagai beban. Mereka tidak kuasa menikmati janji Tuhan itu sebagai janji keselamatan bangsa itu. Mereka tidak pernah membiarkan firman itu berbicara kepada dirinya. Hati mereka terselubung. Jiwa mereka tidak pernah terpuaskan, hati dan pikiran mereka terkungkung. Mereka tidak dapat menerima firman Tuhan karena mereka belum menerima Tuhan sepenuhnya. Sampai kedatangan Yesus ke dalam dunia sebagai penggenapan dari janji Allah, mereka tidak dimengerti. Bangsa Israel tidak mengerti maksud sebenarnya dari Hukum Taurat. Paulus mengatakan bahwa selubung ini hanya dapat dibuka  jika orang menafsirkan hukum itu dengan mengimani Yesus sebagai Kristus.
Firman Tuhan berkata (16), jika orang berkeinan membuka selubung dalam dirinya, maka ia harus berbalik kepada Tuhan. Mereka perlu berbalik kepada Tuhan agar hati mereka dibukakan. Dengan menerima Yesus maka selubung itu akan terkuak, maka hati manusia dapat memandang Tuhan, lalu manusia dapat memahami dan memberlakukan kehendak Tuhan. Dalam hidup yang demikianlah manusia menikmati sukacita. Segala usaha, pekerjaan yang digeluti tidak dipandang sebagai beban hidup tetapi bagian dari panggilan hidup. Saat demikianlah manusia dibebaskan dari tekanan, ia bisa menikmati kehidupan. Itulah manusia yang merdeka. Tuhan mau memerdekaan manusia.

Pergumulan hidup seringkali menghampiri hidup manusia ; entah itu rumah tangga, pekerjaan atau bisnis, ekonomi, pasangan hidup, keluarga, sakit-penyakit, keturunan dsb. Lalu, kita tidak mampu melihat jalan keluar dari pergumulan itu. Kita hanya ingin jalan keluar yang kita kehendaki. Kita tidak membiarkan apa kata  Tuhan bagi kehidupan kita. Selain itu betapa sulitnya kita mengubah sebahagian dari sifat-sifat kita yang tidak berkenan bagi Tuhan dan sesama, dan kita mempertahankan keegoisan kita. Hal-hal ini membuat kita terkungkung. Kita menjadi tidak mampu memancarkan kasih Tuhan.
Kita lupa, bahwa sesungguhnya kita diutus Tuhan ke dalam dunia ini untuk maksudNya. Kita perlu mengundang Roh Allah mendiami hati kita, sehingga kita dibebaskan dari kungkungan dosa, yang menjadi beban dalam hidup ini. Ay. 17 : ‘Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Kehidupan manusia tanpa Roh Allah adalah kehidupan yang terbelenggu, terkungkung.
Banyak hal yang membuat kita terbelenggu dalam hidup ini ; budaya, kemajuan zaman, kekayaan/kemiskinan. Semua ini karena hati manusia tertutup bagi Roh Tuhan.
 Mari saudara-saudara, terima Roh Allah dalam diri kita. Biarkan Roh Allah itu membuka selubung hati kita untuk menikmati kemerdekaan yang Tuhan berikan. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar