17 Februari 2013

Kejadian 15:1-6 (Khotbah Minggu, 24 Februari 2013)



TUHAN SETIA DENGAN JANJINYA

Selama di dunia ini, hampir seluruh kurun hidup manusia dilanda ketakutan. Seorang bayi akan takut dan menangis jika ibunya tidak memberi air susu; anak-anak takut menghadapi mata kuliah selama studi; selesai kuliah, para sarjana takut tidak memperoleh pekerjaan; anak-anak muda takut tidak mendapatkan pasangan hidup; keluarga muda takut menjalani kehidupan rumah tangganya; orangtua takut anak-anaknya terpengaruh oleh setan dunia masa kini; dan hampir semua manusia takut tidak mendapatkan harta dunia. Saat mendekati ajal pun, banyak yang takut meninggal. Yang ditakutkan bukan soal dia ke neraka atau ke sorga. Salah satu (tapi paling sering) yang membuat orang takut meninggal adalah memikirkan yang akan ditinggalkannya, yaitu anak dan hartanya.
Abram tergolong orang yang diberkati Tuhan dalam kepemilikan (harta). Ia tentu telah memperoleh harta itu dengan penuh perjuangan. Pada masa tuanya Abram mengalami ketakutan terhadap hartanya. Jika selama hidupnya takut tidak memperoleh harta, kini ia takut kehilangan hartanya. Abram sadar bahwa ia pasti mati tetapi ia ingin agar harta yang telah didapatkannya dengan berlelah-lelah tidak hilang begitu saja. Abram resah ; ia ingin harta warisannya dapat dimiliki oleh keturunannya sendiri. Namun sampai hari tuanya, ia belum mempunyai keturunan dari isterinya Sarai, yang layak sebagai ahli warisnya.
Tuhan menjawab pergumulan Abram dengan berkata ‘Jangan takut’. Tuhan memang telah berjanji akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar, diberkati dengan kekayaan, namanya menjadi masyhur, bahkan akan menjadi berkat (Kejadian 12:2). Tuhan memenuhi janjiNya satu demi satu, Abram telah menjadi kaya, dipenuhi harta yang melimpah.
Sesungguhnya, Abram bukanlah tipe ‘laki-laki’. Abraham bukanlah orang yang baik dimata Allah ; ia adalah orang yang egois. Demi keselamatan diri dan hartanya, Abram tega mengorbankan isterinya Sarai dengan menyebutnya sebagai adiknya. Ketika Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, ia berkata kepada Sarai, isterinya: ‘Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau’. Firaun tergiur melihat kecantikan Sarai dan ingin  mengambilnya untuk menambah jumlah istrinya. Akibatnya, Sarai sempat hampir menjadi budak seks raja Firaun. Jadi, sebenarnya Abram bukanlah orang yang baik. Tetapi Allah setia dengan janjiNya. Kesetiaan Tuhan akan janjiNya tidak dapat dihambat oleh apa dan siapapun. Abram yang tidak setia itu tetapi Allah sungguh-sungguh setia. Allah menepati janjiNya kepada Abram.
Di hari tuanya, Abram kembali dilanda ketakutan. Setelah ia berlelah mencari hartanya, menjelang ajalnya ia takut. Ketakutan Abram adalah, siapa yang akan mewarisi harta yang didapatkannya dengan cucuran keringat sebab ia belum mempunyai keturunan, anak kandung yang layak menjadi ahli warisnya. Tuhan itu setia dengan janjiNya, bahwa Tuhan akan memberkatinya juga dengan keturunan. Tuhan bukan hanya menjanjikan seorang anak bagi Abram tetapi Tuhan memberikan keturunan sebanyak bintang-bintang di langit. Bagaimana Abram bisa percaya bahwa Tuhan akan memberikan anak kepadanya melalui isterinya yang sudah tua ? Sulit memang menerimanya secara logika. Tapi iman (percaya) memang bukan logika. Percaya berarti menyerahkan sepenuhnya kehidupan kepada yang dipercaya. Itulah beriman (Ibrani 11:1).
Abram merespon perkataan Tuhan dengan percaya. Sikap iman percaya itu pula yang membuat Abram menjadi masyhur, ia kemudian dikenal sebagai Bapak orang percaya (beriman). Tuhan sungguh-sungguh memberi keturunan bagi Abram, Ishak dilahirkan dari isterinya Sara. Ishak juga menjadi orang percaya. Keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub menjadi orang percaya. Kita juga terhisap menjadi orang percaya. Abram sungguh-sungguh memiliki keturunan seperti bintang di langit. Abram bukan hanya mewariskan harta dunia bagi keturunannya, tetapi lebih dari itu Abram mewariskan iman percaya kepada banyak orang, termasuk saudara dan saya. Kita telah menjadi orang percaya sebagai orang yang diselamatkan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus.

Manusia sering kali mengalami ketakutan menjalani kehidupan ini hanya karena asesoris dunia ini (harta). Manusia harus mempertaruhkan hidupnya untuk memperoleh harta dunia ini. Itu wajar. Yang aneh, setelah orang memperoleh harta dengan berlelah-lelah (hir hodokna) tetapi ia mengalami kesulitan untuk mengelolanya. Ia tidak mampu menggunakannya secara benar dan maksimum (menurut kehendak Tuhan). Lebih menyedihkan, ia harus memikirkan harta yang diperolehnya itu ketika ia akan meninggalkan dunia ini. Seperti Abram harus berpikir kepada siapa diwariskannya. Harta (asesoris dunia) ; sulit memperolehnya, kurang benar dan maksimum memfungsikannya, dan keberatan untuk meninggalkannya.
Kehadiran anak menjadi sangat penting dalam banyak budaya. Salah satu fungsi anak (secara khusus bagi Abram) adalah menjadi ahli warisnya. Hanya setaraf itukah fungsi anak ? Kita tidak terlalu perlu mewariskan harta dunia untuk anak-anak sebab itu akan segera habis, dan justru menggiring mereka pada ketidakmandirian. Tetapi wariskanlah kepada mereka iman percaya pada Yesus. Melalui iman percaya itu, mereka bukan saja diberkati Tuhan dengan harta dunia ini. Lebih dari harta dunia, Tuhan memampukan mereka menghadapi gejolak dan tantangan dunia ini.
Abram akan diberikan keturunan sebanyak bintang di langit. Terlalu sedikit harta Abram untuk diwarisi oleh keturunannya yang banyak itu. Tapi semua keturunan Abram akan menjadi ahli waris dari iman percayanya. Iman percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa itulah yang utama perlu diwariskan Abram kepada keturunanya yang banyak itu. Tuhan menghendaki banyak orang menjadi orang-orang percaya, sebagaimana Abram percaya kepada Tuhan. Itulah yang perlu diwarisi. Marilah kita percaya, bahwa Yesus yang telah menyelamatkan kita, maka Ia juga akan memberkati kita dalam segala hal. AMIN.

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar