16 Juni 2013

Lukas 7:40-50 (Khotbah Minggu, 16 Juni 2013)



                                                             IMAN YANG MENYELAMATKAN

Secara khusus injil Lukas banyak menceritakan tentang perhatian Yesus kepada wanita, sehingga tidak mengherankan jika Injil Lukas oleh sebagian orang disebut sebagai ‘Injil kaum Wanita. Injil ini disebut juga ‘injil untuk orang terbuang’, karena selain menceritakan keberadaan Yesus sebagai anak Allah, ia lebih banyak menceritakan rasa belas kasihan Yesus terhadap sesama manusia, mereka yang lemah, miskin, menderita dan terbuang dari masyarakat ramai. Seperti seorang dokter yang mampu menyembuhkan dengan segera, demikian Yesus sebagai penyelamat, sebagai pembebas bagi orang yang butuh akan keselamatan dan pembebasan.

Karya penyelamatan Yesus tidak terikat oleh hukum dunia, tetapi Ia menerobos tradisi (Yahudi), yang menganggap hanya merekalah anak Abraham, bangsa pilihan Allah. Tidak terkecuali Yahudi atau Yunani, laki-laki atau perempuan, mereka akan bersama-sama duduk dalam meja Perjamuan Allah.
Perikop ini  didahului suatu pengantar yang menceritakan tempat, situasi kejadian, di rumah seorang Farisi bernama Simon dalam suatu perjamuan makan. Suatu kebanggaan bagi Simon menunjukkan kepada teman-temannya atas keberhasilannya mengundang makan ke rumahnya seorang guru terkenal, bahkan Nabi.
Tradisi Palestina menyatakan (memandang) wanita sebagai manusia kelas dua, wannita itu lebih rendah dari laki-laki (lih Luk 8:2-3), wanita adalah milik laki-laki untuk kepentingan hidup kelamin. Bagaimana lagi apabila wanita itu adalah pelacur yang sudah dikenal oleh masyarakat, yang tersingkir dari status kemasyarakatan karena pekerjaannya yang penuh dosa, layakkah menghampiri seorang nabi ? Menurut hukum Yahudi, sentuhan pelacur itu akan menajiskan Yesus, apakah Ia lupa atau sengaja melupakan bahwa Dia seorang Nabi?
Wanita itu pasti sudah mengenal Yesus, atau sedikitnya pernah mendengar nama itu, sehingga ketika ia mendengar bahwa Yesus berada di kotanya, dengan penuh penyesalan akan dosanya datang kepada Yesus. Imannya telah melahirkan pertobatan. Ia percaya, bahwa manusia sejati itu bukan hanya suci adanya, tetapi juga mengasihi segala manusia. Latar belakang kehidupan yang penuh dosa tidak akan menghalangi kasih Allah.
Berbeda dengan hukum dunia, Yesus tidak menolak wanita itu dan membiarkannya menumpahkan segala dosanya dan menunjukkan keyakinan imannya dengan membersihkan kaki Yesus dengan air mata, rambut dan wewangian yang dibawanya. Hal yang belum pernah dilakukan oleh murid sendiri, bahkan tuan rumah yang mengundang Yesus tidak menyediakan air basuhan, seperti lajimnya tradisi menerima tamu. Seorang wanita yang tidak punya sedikitpun harga diri, dengan kehadiran Yesus, telah menemukan dirinya sendiri, menemukan pengampunan, penyucian dan diterima sebagai anak Allah ( bnd. Luk. 15: 24).
Kehadiran pelacur dalam perjamuan merupakan penghinaan bagi Simon. Sambutan Yesus kepada tamu tak diundang menambah keraguan di hati Simon akan ke-nabi-an Yesus. Bukankah tradisi mengatakan bahwa rabi tidak boleh dilayani wanita? Gejolak hati Simon dijawab dengan suatu perumpamaan yang mengajak pendengarnya merefleksikan sendiri dalam kehidupannya, sehingga dapat dinilai secara obyektif. Tidak mampu dan karunia menjadi inti dari perumpamaan ini. Yang berhutang lebih banyak lebih merasakan kebaikan si peminjam, sehingga ia pun akan lebih mengasihi. Yesus tidak hanya sebagai teman, tetapi juga adalah penyelamat pun bagi orang yang sangat jauh tenggelam dalam dosa dan sangat jauh tersesat. (Luk. 5:32; 19:10).
Yesus mengajar Simon arti perumpamaan itu, bagaimana seharusnya memandang seorang manusia, bahkan seorang berdosa sekalipun. Yesus tidak setuju, bila manusia memandang hina sesamanya dan menghakiminya. Memandang sambil menghakimi adalah memandang tanpa kasih, dan itu akan membutakan manusia pada pekerjaan Allah.
Siapakah pelepas utang wanita itu ? Tuhan sendiri. Ia tidak melepaskan dirinya sendiri. Ia sadar akan hal itu, sehingga datang kepada Yesus tanpa keragu-raguan sedikitpun; dan tindakan itu sangat tepat. Berbeda dengan Simon yang hanya memandang lahiriah manusia. Yesus memandang ke dalam hati manusia. Pada saat seseorang sadar akan kebutuhannya akan kehadiran Yesus, sejak itu pintu keselamatan terbuka untuk mereka ( Luk. 19:6). Keselamatan pertama-tama menyangkut rahmat Tuhan yang merangkul semua manusia (Luk. 4:19), dan keselamatan itu didasarkan atas pembenaran manusia oleh Allah, bukan oleh manusia. Manusia oleh kasih karunia telah dibenarkan karena penebusan dalam Kristus Yesus ( Rom 3:24).
“Dosamu telah diampuni”, Yesus bertindak sebagai si pelepas utang, menghapus hutang peminjam secara cuma-cuma. “Imanmu telah menyelamatkan engkau!”. Wanita itu mendekati Yesus karena iman, dengan keyakinan bahwa Yesus dapat menyelamatkan biarpun ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia hanya tamu memperlakukan Yesus sebagai Juruselamatnya dengan seluruh jiwa raganya.

Dalam karya penyelamatanNya, Yesus tidak membedakan manusia atas jenis kelamin, status sosial maupun latar belakang kehidupannya. Bagi Yesus yang terpenting adalah iman. Iman itu akan mebuahkan pertobatan yang akan mengubah seluruh kehidupan, dengan meninggalkan kehidupan lama untuk berbalik memasuki kehidupan baru; mengasihi Allah. Kesediaan Allah menerima manusia kembali, bukan semata-mata karena perbuatan manusia, tetapi adalah karena Kasih Karunia Allah.
Cara Yesus menegor Simon sangat halus dan tepat, tanpa menimbulkan sakit hati. Suatu metode menasehati yang sangat tepat, yang sangat perlu diperhatikan oleh orang Kristen dan dipedomani para pelayan Gereja. AMIN

                                                                                                                      David Badiaraja Sihombing
                                                                                                                   Mah. Praktek UKDW Yogyakarta

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar