16 Juni 2013

Matius 10:16-22 (Khotbah Minggu, 23 Juni 2013)



                           ROH ALLAH MEMBERI KEKUATAN UNTUK BERSAKSI

       Bacaan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ayat-ayat yang mendahului pasal ini, yaitu tentang pengutusan kedua belas murid Yesus. Dalam pengutusannya, para murid diberikan kuasa untuk mengusir roh jahat (10:1), dan selanjutnya Yesus memberikan pesan agar para murid jangan menyimpang dari sasaran yang akan menerima kabar baik (10:5). Sedangkan pada perikop bacaan kita hari (10:16-22), para murid dibekali dengan informasi orang yang ditemui dan cara menghadapi mereka. 
         Yesus akan mengutus para muridNya untuk memberitakan Kabar Baik, Kerajaan Sorga, Kebenaran. Yesus tahu bahwa banyak orang menentang berita sukacita ini. Mereka anti dengan kebenaran karena otak mereka hanya tertuju pada dunia ini saja. Mereka bagaikan serigala, yang siap menerkam hamba-hamba Tuhan yang memberitakan kebenaran. Anehnya, mereka sebenarnya adalah penguasa, Majelis Agama.
Menyebalkan, mereka sering hadir di rumah ibadat. Kehadiran mereka di rumah ibadat bukan dalam rangka menikmati berita sukacita melainkan menyiapkan jerat bagi yang memberitakan kebenaran. Karena itu Yesus berkata (10:17), ‘Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.’ Murid-murid yang akan membawa kebenaran itu  sangat mungkin menghadapi resiko besar. Tetapi janganlah resiko itu menjadi penghambat bagi misi kebenaran.
        Oleh sebab itu, dalam menguatkan para murid yang diutus menghadapi medan pelayanan yang ganas itu, Yesus juga mempersiapkan strategi : ‘cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.’ Kalimat ini sudah sangat menggereja. Sekalipun ular dikenal sebagai si jahat tetapi ada hal yang dapat dimanfaatkan sebagai strategi menghadapi ancaman. Ular tergolong binatang yang kehati-hati dan sabar sehingga mampu menguasai situasi. Selain dalam nas ini, kecerdikan ular juga disebutkan dalam Kejadian 3:1 : Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Di dalam nas ini digambarakan kecerdikan ular yang mampu mengalahkan manusia (Adam dan Hawa). Memang kecerdikan ular ini cenderung ‘jahat’, padahal Yesus sangat menantang kejahatan. Namun lepas dari niat jahat si ular itu, Yesus menghendaki agar murid-muridNya memiliki kecerdikan, sehingga mereka mampu mengabarkan berita sukacita bagi orang-orang yang tidak menghendaki kebenaran. Oleh sebab itu, kecerdikan ular ini  harus bersamaan dengan  ketulusan seperti merpati. Dengan demikian, tujuan strategi ini adalah tercapainya misi kebenaran dengan segala ketulusan. Misi haruslah dibarengi dengan maksud baik dan kesetiaan kepada Sang Pengutus.
      Strategi hanyalah strategi tetapi semua akan memiliki resiko. Dasar orang yang tidak menghendaki kebenaran maka segala cara dilakukan orang jahat untuk menghempang kebenaran. Oleh sebab itu, strategi apapun yang dimiliki para murid mereka harus siap dengan resiko. Untuk itu Yesus berkata (19) : ‘janganlah kamu kuatir’. Tuhan juga memberi karunia. (10:20) : Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.’ Para murid dipesankan  untuk tidak takut menghadapi resiko. Jika mereka ternyata tidak dapat mengelakkan penangkapan oleh serigala, para penguasa ; maka para hamba Tuhan harus tetap berserah kepada Roh Kudus. Dalam persidangan Roh Kudus akan mengajari para murid jawaban atas setiap pertanyaan para penguasa. Malah Roh Kudus sendiri yang akan berkata-kata di dalam diri para murid. Kesaksian dalam kisah Para Rasul menunjukkan bahwa para rasul diajar oleh Roh Kudus berkata-kata di hadapan Majelis Agama Yahudi (Kisah 5:22). Roh Allah akan memberikan kekuatan untuk bersaksi. Dan pada akhirnya, orang yang setia akan pengutusan Tuhan akan menerima keselamatan (22).

       Kita adalah orang-orang yang telah diutus Tuhan. Melalui Firman Tuhan ini, kita diingatkan akan peran Gereja di tengah-tengah dunia ini. Gereja adalah persekutuan orang percaya, yang didasarkan atas Kristus Yesus. Fungsi dari persekutuan adalah mengabdi dan bersaksi kepada Allah dan manusia. Landasan orang-orang percaya dalam pengabdiannya harus meneladani perbuatan dan tindakan Yesus. Yesus telah memperlihatkan perbuatan baik secara konkrit ; memberi makan, menyembuhkan orang sakit, menerima keberadaan orang lain sekalipun miskin dan berdosa, bahkan mengampuni.
      Karena perbuatan baik adalah suatu kebenaran, maka orang yang berbuat baik itu sangat mungkin menderita. Berbuat baik memang tidak mudah sebab dibutuhkan ketulusan. Fakta menunjukkan, ada saja orang yang tidak menyukai kebenaran. Akibatnya para hamba Tuhan yang diutus menyampaikan kebenaran itu dapat mengalami kekerasan. ‘Lebih baik menderita karena berbuat baik, dari pada menderita karena berbuat jahat‘ (1 Petrus 3 : 17). Perbuatan baik ditengah-tengah orang-orang jahat memang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh telah menerima Yesus.
         Perbuatan baik itu hendaklah didorong oleh rasa syukur kepada Tuhan, dalam segala ketulusan. Dengan demikian, perbuatan baik itu tidak menjadi sandungan bagi orang lain. Perbuatan baik apabila dilakukan dengan tulus dan dengan hati nurani yang murni akan dapat dipertanggungjawabkan. Bersaksilah, sebab Roh Allah akan memberikan kekuatan. Selanjutnya kita memperoleh kebahagiaan dan keselamatan. AMIN

Artikel Terkait



1 komentar:

  1. amin...
    kotbah yang bagus amang...
    boleh tukaran link ngak mang...
    khusus bahan sermon
    http://bahansermon.blogspot.com/

    BalasHapus