15 Februari 2014

Ulangan 30:15-20 (Khotbah, 16 Pebruari 2014)



HIDUP, DAN DIBERKATI OLEH TUHAN (Ulangan 30:15-20)

Tahun 2014 ini dinamai Tahun Politik. Berbagai peristiwa politik akan mewarnai kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Puluhan ribu orang bergerak mengkampanyekan dirinya sebagai orang yang peduli dengan bangsa ini. Kepedulian itu akan diwujudkan apabila ia berhasil duduk di DPR atau DPRD, atau mungkin menjadi Presiden. Perjuangan mereka sebagai yang peduli terhadap bangsa ini sangat ditentukan oleh rakyat Indonesia, termasuk kita pada Pemilu 9 April 2014. Kita diminta menentukan pilihan pada orang-orang yang kita anggap dapat membawa aspirasi kita. Tapi jika kita salah pilih, maka harapan tidak menjelma menjadi kenyataan dan gelap tidak berubah menjadi terang.
Kitab Ulangan banyak mengajarkan agar umat Tuhan selalu hidup dalam firman Tuhan. Orangtua diingatkan supaya mengajarkan firmanNya bagi anak-anaknya. ‘Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! …haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun’ (Ulangan 6:4-7).
Nas renungan kita (Ulangan 30:15-20) disajikan sebagai perkataan-perkataan terakhir Musa kepada generasi Israel yang akan memasuki tanah perjanjian. Perkataan Musa ini mengacu pada pengalaman umat bersama Tuhan. Namun perkataan Musa juga mengarah ke depan dan menjadi pengajaran bagi generasi mendatang.
Musa telah memimpin umat ini dari Mesir hingga menjelang masuk tanah perjanjian. Sebagai pemimpin umat, Musa memiliki pengalaman bersama umat ini. Musa melihat kedegilan dan sungut-sungut bangsa ini. Mereka tidak segan-segan melakukan penyembahan berhala, sebagai pengaruh dari bangsa-bangsa lain. Mereka acapkali menyembah baal atau dewa, bahkan mereka pernah membuat patung lembu untuk disembah. Semua itu mereka lakukan tatkala mereka merasa tidak puas dengan Allah yang diperkenalkan Musa. Itulah bentuk-bentuk ketidaktaatan kepada Allah. Sikap ini hanya membangkitkan amarah Tuhan. Memang, adakalanya umat juga menikmati pengalaman indah bersama Tuhan ; Tuhan mencukupkan mereka dengan makanan, minuman, pakaian, dan kemenangan menghadapi musuh. Saat ada hidup yang penuh keindahan itu, umat memang memuji dan memuliakan Tuhan. Tapi jelas, mereka bukanlah bangsa yang setia.
Karena itu, disaat akan memasuki negeri yang Tuhan janjikan, Musa ingin supaya bangsa ini menetapkan pilihan ; menjadi bangsa yang ‘setia kepada Tuhan’ atau menjadi ‘bangsa yang menentang Tuhan’. Ketaatan mematuhi ketentuan-ketentuan dalam perjanjian Allah dengan umatNya akan membuahkan keberhasilan ; sebaliknya ketidaktaatan akan membuahkan kematian dan kehancuran. Musa memberikan pilihan bagi umat Tuhan ; apakah mau menjadi bangsa yang diberkati atau akan binasa.
Musa meyakini, bahwa Tuhan telah memilih umatNya agar dapat menjadi berkat (Kejadian  12:2). Karena itu, di antara dua pilihan itu, Musa menasehatkan agar umat Tuhan memilih kehidupan. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup; baik engkau maupun keturunanmu (19b). Dengan pilihan itu, mereka masuk ke negeri yang Tuhan janjikan, memperoleh kehidupan,  bertambah banyak,  lanjut usia. Mereka yang taat pada perintah Tuhan, bukan saja diberkati tetapi dapat menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Itulah hidup yang berarti.

Setiap manusia memiliki pilihan untuk menikmati hidup bahagia. Banyak upaya yang dilakukan manusia untuk menggapai kebahagiaan itu. Sungguhkah manusia mencapainya ? Biarlah kita masing-masing dapat menjawabnya. Dunia memang telah memberikan berbagai fasilitas untuk menunjang kemudahan bagi hidup manusia, namun manusia tetap dilanda kegelisahan, galau, takut. Tidak sedikit manusia merasa dirinya terkutuk. Hari-hari yang dilalui selalu diwarnai oleh keputusasaan, sakit hati, dendam, amarah, kebencian, stress.
Allah telah memilih kita karena kasihNya ; maka kita seharusnya mengasihi Allah dan setia kepada firmanNya. Kesetiaan pada firmanNya akan membimbing kita menjalani dan menikmati hidup ini. Mewarnai hidup dengan firmanNya, maka seberat apapun hidup yang dijalani tetap merasakan penyertaan Tuhan. Tidak ada yang melebihi sukacita yang diberikan oleh Tuhan.
Zaman senantiasa mengalami perubahan. Bagaimana kita menghadapi zaman yang terus berubah ini ? Apa yang kita persiapkan ? Bagi orang yang sudah lanjut usia tentu sudah mengalami beberapa perubahan zaman. Tapi pernahkah kita mempersiapkan diri menghadapi setiap perubahan zaman ? Bagaimana kita memasuki zaman yang masih akan berubah ? Atau, apakah kita belajar setelah zaman itu tiba ? Itu namanya magurbag (marguru dibagasan). Hidup dengan firman Tuhan, melakukan perintah Tuhan menjadi hal yang utama menghadapi segala zaman.
Kita perlu mempersiapkan otak kiri anak-anak kita, tapi kita juga perlu membangun otak kanannya, yaitu firman Tuhan. Dengan demikian, bagi mereka kelak tidak ada zaman dan situasi yang buruk. Mereka akan menjadi manusia yang siap menghadapi segala zaman dan menjadi berkat. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar