13 Mei 2014

Kisah Para Rasul 7:54-60 (Minggu, 18 Mei 2014)



MENYERAHKAN SEGENAP HIDUP PADA TUHAN (Kisah Rasul 7:54-60)

Menjadi hamba Tuhan tampaknya sederhana. Tetapi ketika memasuki wilayah pelayanannya, ia diperhadapkan dengan kesulitan dan pergumulan yang berat. Bahkan seperti bacaan kita ini, seorang yang terpanggil melayani Tuhan tetapi harus berurusan dengan Mahkamah Agama.
Pada masa awal, gereja bertumbuh begitu pesat. Seiring dengan pertumbuhan itu maka gereja perlu meningkatkan pelayanannya. Rupa-rupanya, struktur pelayanan waktu itu banyak meniru seperti jumlah murid Yesus, yaitu 12 rasul setiap persekutuan. Rasul yang 12 orang ini akan melayani segala yang berkaitan dengan pelayanan rohani dan jasmani. Tetapi, seiring dengan peningkatan itu, maka rasul yang 12 orang itu tidak mampu lagi melayani seluruhnya. Karena itu, baik para Rasul maupun jemaat sepakat untuk mengangkat pelayan dari jemaat biasa. Lalu melalui ‘Sidang Umum Jemaat’ dipilih, diangkat, dan ditetapkan 7 orang pelayan meja. Salah seorang di antaranya bernama Stefanus.

Stefanus telah menyerahkan segenap hidupnya pada Tuhan. Dalam pelayanannya, ia bukan saja melayani meja tetapi ia dianugerahi karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda. Ini luar biasa. Pelayanan yang demikian tentunya memberikan pertumbuhan yang luar biasa bagi persekutuan Kristen itu. Namun inilah masalahnya, tidak semua orang senang menikmati pertumbuhan. Anehnya, ‘ketidaksenangan’ atas pertumbuhan itu datang dari anggota persekutuan itu sendiri. Beberapa orang jemaat mengadakan ‘rekayasa’. Mereka mengadakan percakapan dengan Stefanus. Lalu dari percakapan itu mereka menuduh  bahwa Stefanus telah menghujat Musa dan Allah. Mereka kemudian menghasut beberapa orang untuk mau memberi kesaksian, bahwa Stefanus memang telah mengatakan hujatan itu.
Mereka kemudian membawa persoalan itu ke Mahkamah Agama. Stefanus memang diberikan waktu untuk bersaksi dan menyatakan pembelaan. Tetapi karena yang terjadi padanya hanyalah rekayasa, maka segala usaha yang diperbuat tidak ada manfaatnya. ke pengadilan manapun dibawa sebuah persoalan yang direkayasa, maka hasilnya sudah dapat diketahui, Stefanus dihukum. Bahkan kesaksian dan pembelaan yang dilakukan Stefanus membuat berang para anggota Mahkamah Agama. Sesuai dengan hukum yang berlaku pada saat itu, tuduhan yang dikenakan kepada Stefanus, maka ia dilempari, bukan dengan kapas tapi tentunya dengan batu.
Namun, sebelum dijatuhi hukuman, Stefanus yang penuh dengan Roh Kudus itu menatap ke langit. Dan ia mengalami suatu penglihatan, Yesus yang diimaninya itu berdiri di sebelah kanan Allah, yang penuh kemuliaan. Penglihatan itu begitu dekat dirasakannya. Tuhan Yesus yang diimaninya itu ternyata hadir dalam kehidupannya yang penuh pergulatan itu. Kesetiaan Stefanus tidak sia-sia. Tuhan Yesus ada bahkan menyatakan diri bagi hambaNya di saat datang pergumulan. Tuhan Yesus selalu menyertai hamba yang setia kepadaNya.
Sekalipun Stefanus telah dilempari tetapi ia masih berdoa. Hamba Tuhan yang benar bukan saja teruji pada masa pelayanannya tapi juga tampak pada akhir hidupnya. Inilah doa Stefanus sebelum meninggal (59-60) : "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku. Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!"
Saat mempersiapkan renungan ini, saya sempat tertegun ; sebagai hamba Tuhan, apakah saya mampu berdoa seperti Stefanus ini ? Apakah saya mampu berdoa di saat penderitaan yang luar biasa datang menghampiriku, dan memberi pengampunan bagi orang yang membuat saya menderita ? Stefanus telah menunjukkan dirinya sebagai hamba Tuhan yang setia. Kesetiaan yang Stefanus perbuat ini kelak menghasilkan buah. Saulus yang ikut menganiaya Stefanus, kelak menjadi saksi dari iman Stefanus. Saulus bertobat, dan namanya menjadi Paulus.

Minggu lalu, kita disajikan Mazmur 23 yang menyebutkan Tuhan adalah gembala kita. Pengakuan seperti itu bukan sekedar membawa kita pada kehidupan yang menyenangkan, menurut ukuran dunia. Tetapi juga keberanian kita menerima resiko berat sebagai konsekwensi kesetiaan kita pada Tuhan. Kesediaan Stefanus atas panggilannya karena ia percaya bahwa Tuhan yang menuntun dan menguatkannya dalam pelayanan meja. Stefanus mengadakan mujizat dan tanda-tanda merupakan nilai lebih yang dimilikinya. Tetapi kemampuan yang dimiliki bukan karena kehebatannya tetapi karena kuat kuasa Tuhan yang bekerja melalui dirinya. Penderitaan yang dialami Stefanus juga tetap dalam penggembalaan Tuhan, sehingga ia dimampukan mengucapkan doa pengampunan. Sebab menjadikan Tuhan sebagai gembala berarti juga seperti tema minggu ini MENYERAHKAN SEGENAP HIDUP PADA TUHAN.
Mengapa gereja sulit berekembang ? Benar, ada hambatan yang datang dari luar, tetapi bukankah lebih sering dari dalam ? Gereja seringkali berputar-putar ; dari tahun ke tahun gereja tidak bertumbuh. Kelengkapan dan struktur gereja cukup. Tetapi semua persembahan hanya untuk membiayai kelengkapan itu, tidak dirasakan ada kemajuan. Fungsi gereja menjadi tidak tampak. Tak mengherankan, karena di dalam persekutuan yang terjadi adalah perdebatan dan saling kritik, bahkan membawa masalah gereja ke gelanggang pengadilan, bukannya didoakan. Jangan Tanya siapa yang bersalah tetapi hendaklah semua menundukkan hati pada Tuhan, mengaku dosa di hadapanNya.
Setiap orang percaya mestinya menyerahkan segenap hidup pada Tuhan. Anggota persekutuan berdoa bagi para hambanya dan mendukung pelayanan mereka dalam banyak hal, sehingga para pelayan dimampukan melakukan pelayanannya dengan baik dan bersukacita. Hasilnya, gereja akan bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar