12 September 2014

Kejadian 50:15-21 (Epistel)



       KASIH PERSAUDARAAN DALAM KELUARGA ALLAH (Kej. 50:15-21)

Dalam sebuah keluarga, jika ada yang meninggal maka keluarga itu akan sangat merasa sedih. Terlebih bila yang meninggal itu seorang ayah, maka ratap tangis keluarga itu akan begitu menyedihkan, karena akan terganggunya ekonomi. Tetapi ada yang lebih penting jika meninggal sang ayah, hilangnya pemersatu di dalam keluarga itu. 

Dalam nas ini kita melihat tokoh Yusuf memiliki 12 orang bersaudara. Ayah mereka bernama Yakub. Sewaktu ayah mereka hidup, Yusuf  adalah anak kesayangannya. Hal ini ruparupanya menimbulkan kebencian dari saudara-saudaranya. Akhirnya, mereka pun berupaya membunuh Yusuf. Jusuf  seorang  tokoh  dalam  Alkitab, yang menghadapi   gelombang  kehidupan, mulai  dari upaya pembunuhan terhadap dirinya dan kemudian ia  dijual  oleh  saudaranya  ke Mesir. Di Mesir, ia menolak niat jahat  dari  istri Potifar. Ragam  tantangan  kehidupan ini  tidak  membuat  Yusuf keder.  Seluruh  persoalan hidupnya  dilaluinya dalam penyerahan diri pada Tuhan. Tetapi begitulah, rencana manusia berbeda dengan rencana Allah. Yusuf selamat dari pembunuhan saudara-saudaranya, bahkan ia kemudian  menjadi  pejabat  Kabulog di negeri  Mesir. 
Selama ayah mereka hidup, Yusuf tidak pernah menunjukkan dendamnya kepada saudara-saudaranya. Tetapi, kini ayah mereka telah mati. Ada kegusaran diantara saudara-saudaranya, bahwa Yusuf akan melepaskan dendam masa lalunya. Hal ini  bisa  jadi  sebab  ia kini memiliki  kuasa atas  mereka. Karena itu, saudara-saudara Yusuf mengirim utusan kepada Yusuf, agar kiranya Yusuf  berkenan mengampuni mereka. Dan selanjutnya, saudara-saudara Yusuf bukan hanya mengutus orang lain untuk permohonan ampun, tetapi mereka sendiri datang dan sujud ke hadapan Yusuf.
Dengan lembut Yusuf  berkata (19) : “Janganlah takut“. Yusuf, sekalipun memiliki segala sesuatu (uang, kedudukan, dan kekuatan) tetapi ia  tidak ingin menjadi orang yang dipuja. Yusuf tetap menjadi orang yang rendah hati. Malah Yusuf  berjanji menolong saudara-saudaranya dengan berkata (21) : “aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Semua sikap dan perbuatan Yusuf  ini telah memberi ketenangan bagi saudara-saudaranya. Yusuf, yang telah menjadi orang yang berhasil dalam segala hal tetap menunjukkan kerendahan hatinya. Justru dengan segala yang ada padanya digunakan untuk memberi ketenangan bagi keluarganya. Dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya ini berpadu pengakuan akan kesalahan, sikap saling mengampuni, dan menyadari tugas dan tanggung jawab. Demikian itulah yang disebut Keluarga Allah.

Kita adalah bagian dari keluarga Allah. Oleh sebab itu, kita perlu menciptakan ketenangan di berbagai tempat dimana kita tinggal. Di rumah tangga. Suami-isteri boleh ada konflik tetapi harus ada saling mengampuni. Jangan ada amarah yang berlangsung terus-menerus. Apalagi, kalau saat ini ada suami-isteri yang masih diam-diaman sejak tadi, maka sepulang gereja ini harus mau saling mengampuni. Dalam keluarga besar. Sekarang ini banyak keluarga yang dilanda konflik, terutama soal harta warisan. Kadang sampai ada perkataan, ‚Mardomu di tano sirara na ma‘. Kita harus tetap boleh saling mengampuni. Jangan karena harta dunia ini, keluarga menjadi renggang. Kita harus dapat meredam semua itu, sebab kita adalah keluarga Allah.
Dan tentunya di dalam gereja. Seluruh anggota jemaat dan juga pelayan selalu merindukan suasana gereja yang dapat memberi sukacita.  Menciptakan gereja yang bersukacita harus ada kesadaran, bahwa kita adalah keluarga Allah, keluarga yang boleh saling mengampuni, saling mengasihi, saling menolong. Bayangkan, kalau itu terjadi di dalam kehidupan kita bergereja, maka gereja betul-betul menjadi tempat damai sejahtera. Kita semua harus menciptakan gereja yang demikian, sebab itulah yang diinginkan Allah dari kita semua sebagai keluarga Allah. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar