8 September 2014

Roma 14:1-12 (Minggu, 17 September 2017


            HIDUP ATAU MATI UNTUK TUHAN
                      (Roma 14:1-12)

Kedatangan Tuhan adalah peristiwa yang paling utama dalam kehidupan orang Kristen. Sambil menantikan kedatangan Tuhan itu, orang-orang percaya membangun persekutuan, penyembahan dan persembahan. Persekutuan mestinyalah terpelihara baik dengan tidak membedakan suku bangsa, warna kulit, budaya, marga. Semua menyatu hanya untuk memuliakan Tuhan. Mereka adalah orang-orang percaya akan kasih dan kuasa Tuhan. 

Demikianlah jemaat Roma yang terdiri dari orang-orang Yunani dan Yahudi bersatu dalam persekutuan di Roma. Tetapi, ruparupanya latar belakang belakang : agama, budaya, pengalaman hidup, dan status sosial sangat mempengaruhi hidup persekutuan jemaat Roma. Perbedaan latar belakang itu ternyata memberi dampak buruk dalam perjalanan hidup persekutuan. Beberapa cara hidup praktis telah membuat mereka memiliki pandangan berbeda. Perbedaan praksis yang sering muncul di dalam persekutuan itu adalah soal makanan dan hari keramat. (a) Makanan - sebahagian menganggap bahwa semua makanan boleh dimakan, tetapi sebahagian berpendapat bahwa hanya sebahagian yang boleh dimakan. (b) Hari - sebahagian menganggap adanya hari-hari penting tetapi sebahagian menganggap semua hari itu sama.
Jika perbedaan hidup praktis ini tidak terkelola dengan baik maka masalah ini menjadi pemicu retaknya persekutuan. Akibatnya, tujuan dari persekutuan itu menjadi kabur, dan hari kedatangan Tuhan pun menjadi dapat menjadi malapetaka. Karena itu, Paulus mengingatkan mereka agar tetap memelihara persekutuan.
Saling menerima dalam persekutuan
Setiap orang yang berada di dalam persekutuan adalah atas perkenaan Allah. Dia yang membenarkan dan menerima orang-orang yang tergabung dalam persekutuan. Mereka yang menggabungkan diri ke dalam persekutuan mestilah tunduk kepada Allah, mereka menjadi hamba Allah. Karena orang yang berkumpul di dalam persekutuan itu adalah hamba Allah, maka hanya Allah yang layak memberi penghakiman kepada hambaNya. Oleh sebab itu, tidak seorangpun anggota persekutuan ber-hak menghakimi anggota yang lain. Setiap orang yang merasa imannya lebih kuat maka haruslah menerima orang yang imannya lemah tanpa mempercakapkan (mempersoalkan) pendapatnya.
Sebenarnya Paulus tidak sedang membuat ukuran iman seseorang tetapi sebagai ‘jalan tengah’ agar setiap anggota memelihara keutuhan persekutuan itu. Bagi Paulus, yang mereka perdebatkan tentang makanan dan hari-hari penting bukanlah hal prinsip. Yang utama, bagaimana agar setiap anggota menantikan kedatangan Tuhan itu dalam sukacita. Jika ada orang yang menganggap imannya lebih kuat karena dapat makan daging, biarlah dia bersyukur. Tetapi janganlah menghina orang yang hanya makan sayur-sayuran saja. Mereka yang hanya makan sayur-sayuran saja janganlah menghina orang yang sekali makan tiga tapak saksang. Bilang saja, ‘mantap santapannya bro….’. , Sebab, selain menantikan kedatangan Tuhan tidaklah ada yang mutlak. Kebersamaan orang-orang percaya haruslah terpelihara dengan baik.
Yakin dalam hatinya
Dalam menyikapi cara pandang hidup praktis, Paulus menekankan suara hati. Setiap orang melakukan tindakan hendaknya benar-benar yakin dalam hatinya bahwa tindakannya itu berkenan bagi Allah atau tidak bertentangan dengan kehendak Allah. Suara hati  berfungsi sebagai instansi kritis yang mengarahkan dan memberi norma. Suara hati menilai apa yang baik dan apa yang jahat. Namun, suara hati itu juga tidak boleh begitu saja mengabaikan hukum Allah. Setiap orang haruslah benar-benar ia yakin bahwa tindakannya sesuai dengan imannya dan suara hatinya. Jika ia telah yakin, maka biarlah tindakannya itu disyukuri.
Kasih
Pangkal tolak dan dasar dari etika Paulus  ialah karya keselamatan, peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, yang di dalamnya Allah secara mutlak memberikan keselamatan bagi dunia ini. Dalam kematian Yesus itu, Allah menyatakan kasihNya dengan menyelamatkan manusia. Kematian Kristus adalah tindakan kasih. Oleh sebab itu pula, seluruh tindakan dan perbuatan orang-orang percaya haruslah juga di dalam kasih. Seluruh tindakan dan cara hidup orang percaya haruslah untuk memuliakan Tuhan. Persekutuan orang-orang percaya tidak boleh tercabik-cabik karena hal-hal yang tidak penting, apalagi hanya demi kepentingan sendiri atau kelompok. Tetapi semua terpanggil untuk melakukan kehendak Allah. Sebab pada akhirnya, seluruh tindakan dan perbuatan haruslah dipertanggung jawabkan kepada Dia, yang adalah Kepala Gereja.

Persekutuan orang-orang percaya merupakan kumpulan orang-orang yang dipanggil Tuhan untuk menerima keselamatan. Gereja sebagai persekutuan memiliki tujuan untuk menantikan kedatangan Tuhan. Dalam persekutuan itu sangat mungkin timbul perbedaan dalam melihat suatu permasalahan. Namun, hendaklah segala perbedaan itu, pada akhirnya, haruslah untuk kemuliaan Tuhan.
Sekalipun kita merasa memiliki ide cemerlang, tetapi kita tidak boleh memaksakan kehendak. Sebab, di dalam memuliakan Tuhan bukan diukur dari keberhasilan kita mencapai yang kita kehendaki tetapi terpeliharanya persekutuan di dalam gereja. Kita tidak boleh menganggap rendah gagasan orang lain, tetapi kita membuka ruang bagi setiap orang mengekpresikan imannya.  
Aneh, acapkali perbedaan-perbedaan yang tidak begitu penting di dalam suatu persekutuan menjadi sumber perpecahan. HIDUP ATAU MATI UNTUK TUHAN bukan harus tercapainya ide atau gagasan kita. Itu namanya sombong. HIDUP ATAU MATI UNTUK TUHAN berarti kesiapan kita merendahkan diri sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, yang menyebabkan  kekacauan dalam persekutuan. Tuhan menghendaki terpeliharanya persekutuan yang kudus.
Sesungguhnya, setiap orang percaya adalah orang-orang yang telah menyerahkan dirinya menjadi milik Tuhan. Demikianlah hidup dan mati kita menjadi milik Tuhan. Kita tidak lagi hidup dengan keegoisan tetapi menyerahkan seluruh hidup kita dalam tuntunan Tuhan dan senantiasa memuliakan namaNya. AMIN

Artikel Terkait



1 komentar: