10 Desember 2014

Yesaya 61:1-4 + 8-11 (Minggu, 14 Des. 2014)



               MENYAMPAIKAN INJIL KEPADA ORANG-ORANG SENGSARA

Yesaya (trito) dipanggil Tuhan untuk memberitakan Tahun Rahmat Tuhan, dimana Tuhan akan menampakkan kasih setianya. Tuhan telah memulainya dengan membawa pulang umatNya dari pembuangan. Tuhan sungguh-sungguh menepati janjiNya, bahwa Ia akan setia terhadap umat pilihanNya. Kembalinya dari pembuangan merupakan babak baru bagi umat Tuhan sebagai bangsa pilihan. 

Israel adalah orang-orang yang terluka akibat ‘pembantaian’ Asyur dan Babel puluhan tahun lamanya.  Luka-luka yang mereka alami masih berbekas, baik mereka yang pulang dari pembuangan sebagai tawanan maupun yang tinggal tetap di Yerusalem. Kehancuran kota Yerusalem, khususnya Bait Allah yang porak-poranda sangat meremukkan hati umat Tuhan. Ketika masa pembuangan terjadi, di tanah air juga masih berlangsung ketidakadilan ; orang-orang lemah yang tak berdaya dimasukkan ke dalam penjara, kaum ibu yang menjadi janda tetap dalam penindasan, dan yatim-piatu yang diabaikan. Semua ini menambah remuknya hati umat Tuhan.
Kepedihan hati dan kehancuran Yerusalem membuat Yesaya mencoba menyusun rencana strategisnya (Renstra), agar umat Tuhan sungguh menikmati tahun rahmat Tuhan. Yesaya akan melakukannya dalam dua tahap. 
Tahap 1. Memulihkan hati orang-orang yang terluka (remuk hati) itu dengan menghibur semua orang yang berkabung. Mengangkat mereka dari suasana yang sangat menyedihkan, yang kehilangan pengharapan hidup, putus asa. Penghiburan itu pada puncaknya membawa umat pada suatu semangat, sehingga mereka mampu menatap kehidupan yang indah. Karena itu, Yesaya sangat menitik-beratkan hari Sabat. Melalui peribadahan, perjumpaan dengan Tuhan maka semangat mereka dipulihkan.  Sekalipun umat Tuhan dibabat habis-habisan tetapi akarnya tidak pernah punah. Bahkan akar yang dipotong itu semakin tumbuh merambat. Bangsa-bangsa lain akan melihat ini sebagai ‘misteri’, bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan kasih setiaNya. Dengan demikian, bangsa itu telah tumbuh sebagai bangsa yang dapat memperlihatkan keagungan Tuhan bagi bangsa lain.
Tahap 2.  Mereka yang telah dipulihkan jiwanya akan menjadi orang-orang kokoh dan berkarakter. Mereka adalah buah dari revolusi mental. Karena itu, mereka pun akan dimampukan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan mendirikan kembali tempat-tempat yang telah lama menjadi sunyi (ay.4). Demikianlah umat Tuhan menikmati tahun rahmat Tuhan. Mereka sungguh-sungguh menjadi anak-anak Tuhan yang berkarakter dan menjadi bangsa yang menyatakan kemuliaan Tuhan dengan membangun kembali Yerusalem dan Bait Allah.
Panggilan dan tugas tidak dapat dilepaskan dari upah. Tuhan kita adalah Tuhan yang adil. Paulus berkata : jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tesalonika 3:10). Tuhan yang adil itu pasti memberikan upah yang tepat bagi siapa saja yang melakukan firmannya. Upah yang segera Tuhan limpahkan kepada hambanya bukan saja hal jasmani tetapi terutama upah rohani, dimana setiap hambaNya dapat merasakan janji Tuhan yang begitu tepat. Tuhan memenuhi segala janjiNya. Dan upah yang demikian itu pula yang dirasakan oleh Yesaya ; ia bersukaria di dalam Tuhan, jiwanya bersorak-sorai di dalam Allah. Yesaya merasakan bahwa ia telah menikmati keselamatan itu karena ia hidup dengan benar. Sukacitanya, bagaikan pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya. Ia juga bisa melihat sesuatu bahwa segalanya Tuhan telah siapkan baginya (10-11). Bukan hanya itu, Tuhan juga menjanjikan upah yang selalu diharapkan para orangtua, yaitu agar anak-anaknya kelak menjadi orang yang hebat. Tuhan berjanji kepada orang-orang yang mau melakukan firmanNya akan membuat keturunan mereka terkenal, bukan hanya pada lingkup marga dan parsahutaon, tetapi semua orang yang melihat mereka akan mengakui, bahwa mereka adalah keturunan yang diberkati Tuhan (ay.9). Orang-orang akan berkata : ‘tanda do nasida pinompar na mangulahon hata ni Debata’. Mereka sungguh-sungguh keturunan yang diberkati Tuhan. Demikianlah umat Tuhan menikmati Tahun rahmat Tuhan.

Kita adalah bangsa yang telah merdeka dari penjajahan dan negeri yang memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Selain itu, bangsa kita adalah bangsa yang berbudaya dan cerdas. Namun, mengapa bangsa ini selalu terpuruk ? Kejahatan, pembunuhan, penyalahgunaan wewenang, korupsi yang merajalela, pembangunan yang tak merata, dan terakhir ini kita menjadi bangsa yang gemar membentuk kelompok tandingan. Semua ini terjadi karena bangsa kita belum seutuhnya tersentuh Injil. Penderitaan bukan hanya dialami oleh orang-orang miskin secara materi, tetapi para pelaku kejahatan itu pun sesungguhnya adalah orang-orang sengsara. Injil menjadi penting untuk diwartakan kepada semua orang.
Gereja yang dipakai Tuhan untuk mewartakan Injil itu juga tampaknya telah lalai. Gereja terlalu sibuk dengan pembangunan fisik, sehingga yang terjadi adalah pertikaian-pertikaian dalam gereja. Berapa persenkah dana digunakan gereja untuk pembangunan dan program-program yang hanya berbau fisik ; pembangunan/renovasi fisik, biaya operasional. Seringkali seksi/komisi membuat program sesuai dengan seleranya atau sekedar ia memiliki program. Gereja seolah-olah mati jika programnya tidak dapat ditampilkan dalam bentuk gambar atau dipampangkan di facebook. Tak kalah hebatnya, program-program itu diproses melalui perdebatan-perdebatan panjang di rapat majelis dan sidang umum, sekedar menunjukkan ia masih punya moncong. Dan ketika dilaksanakan, sedikitpun tidak menyentuh kehidupan bergereja.
Tampaknya gereja perlu menata ulang. Memulai kehidupan gereja dengan membangun mental-spiritual (partondion). Gereja perlu kembali memperkokoh persekutuan. Mempererat persekutuan, membangun kerohanian, mengajak setiap warga gereja turut ambil bagian dalam seluruh ibadah dan persekutuan.  Pada moment seperti itulah gereja dapat menyentuh segala pergumulan jemaat, menjamah hati yang remuk hatinya karena berbagai pergumulan dalam hidupnya. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar