2 Juli 2016

Ulangan 30:9-14 (Minggu, 10 Juli 2016)


   BERPEGANG PADA PERINTAH DAN KETETAPANNYA
                           (Ulangan 30:9-14) 


Kitab ulangan ini merupakan pidato-pidato Musa yang terdiri dari  ikhtisar perundang-undangan yang ada di dalam kitab Keluaran, Imamat, dan Bilangan. Namun bukan sekedar pengulangan belaka tetapi juga mengikuti pola khas, yakni pola perjanjian dan perluasan asas-asanya.
Musa menyampaikan pidato ini saat orang Israel berkemah di dataran Moab. Mereka sedang mengaso di dataran subur itu sambil memandang ke arah Yerikho dan daerah sungai Yordan. Tanah yang dijanjikan Tuhan dan yang lama mereka idam-idamkan telah berada di hadapan mata umat. Di sinilah Musa mengingatkan mereka akan perbuatan-perbuatan Allah yang Maha kuasa untuk kepentingan mereka, melalui pidato yang berapi-api.

Musa membombong orang Israel untuk percaya dan taat serta memperingatkan akan bahaya-bahaya penyembahan berhala dan kemurtadan. Pada satu sisi, Musa membuatkan hukuman-hukuman bagi bangsa yang mengabaikan cita-cita tinggi dari perjanjian Sinai, dan pada sisi lain Musa memproklamasikan janji berkat Allah, jika umat setia kepada tugas ilahinya.
Umat Tuhan mesti mau mendengar suara Tuhan, berpegang pada perintah dan ketetapanNya, dan meninggalkan segala bentuk penyembahan berhala dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa. Inti dari perintah Tuhan itu adalah pertobatan. Musa menuntut pertobatan karena dosa-dosa manusia dan akibat-akibatnya tak dapat dielakkan kaitannya dengan cita-cita perjanjian.
Sebagai bangsa pilihan, masa depan umat Tuhan sangat tergantung pada pemenuhan atas segala peraturan. Tuhan telah membesarkan umat dari Mesir , dan memelihara umat itu selama satu angkatan mengembara di padang gurun, dan akan terus mendukung mereka di negeri yang dijanjikan. Tuhan berpegang teguh pada janjiNya itu asalkan umat taat dan setia kepada firmanNya. Karena itu, kitab Ulangan berisi jaminan-jaminan positif, bahwa Allah sennatiasa akan bersama-sama dengan umatNya, baik dalam keberuntungan maupun kemalangan.
Perjalanan panjang dan lama telah dilalui umat pilihan Tuhan. Mereka telah ditempa oleh suatu keadaan hidup, dan disiapkan oleh kasih karunia ilahi bagi penaklukan negeri perjanjian. Hidup empat puluh tahun dan melelahkan itu merupakan ‘perjalanan iman’, dimana mereka mengalami pasang surut. Terkadang mereka begitu kokoh atas segala perintah Tuhan tetapi tak jarang iman mereka begitu rapuh. Saat penting untuk memasuki negeri perjanjian, firman Tuhan berkumandang bagi segenap umat pilihan akan janji Tuhan. Kini, di gunung Moab itu, Musa mengokohkan mereka untuk dengar-dengaran akan suara Tuhan, berpegang pada perintah dan ketetapan. Secara sungguh-sungguh agar mereka berbalik menyembah Tuhan.
Perintah Tuhan kepada umatNya bukanlah soal kemampuan melainkan kemauan untuk melakukannya. Tuhan tahu keterbatasan dan kelemahan manusia. Tuhan hanya memberi perintah yang dapat dilakukan manusia. Perintah Tuhan itu telah ada dalam diri manusia. Hanya saja, bagaimana hati dan mulut manusia MAU mengelola perintah Tuhan itu.

Keunikan hidup orang beriman adalah berkehidupan di dalam janji Allah. Orang beriman meletakkan hidupnya pada janji Allah. Allah akan memenuhi janjiNya kepada umatNya bila umat hidup dengan taat pada perintah dan ketetapan Tuhan.
Perintah dan ketetapan Tuhan bukanlah tak dapat dilakukan manusia. Tuhan telah memberikan hati untuk menggerakkan manusia melakukan ketetapan (kehendak) Allah. Asalkan manusia tidak melawan kehendak hati yang tulus itu maka manusia dimampukan melakukan kehendak Allah ; mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia serta ciptaan lainnya. Karena itu, manusia harus senantiasa memelihara hatinya dengan baik. Hati yang terpelihara dengan baik akan mendorong dirinya untuk mau melakukan kehendak Tuhan. Hati yang terpelihara dengan baik akan membuat umatNya berpegang pada perintah dan ketetapan Tuhan.
Hati yang terpelihara dengan baik akan juga menggunakan mulutnya untuk memuliakan Tuhan. Tuhan memberikan mulut bagi manusia bukan sekedar tempat masuk saksang dan panggang ke dalamnya, sehingga menjadi harimau pada dirinya sendiri. Tuhan menganugerahkan mulut kepada manusia supaya darinya keluar kata-kata berkat bagi sesama. Hati yang tak dikeraskan akan mengeluarkan kata manis dan lembut, sehingga menjadi berkat bagi banyak orang. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar