24 September 2016

1 Timotius 6:6-19 (Minggu, 25 Sept 2016)



     IBADAH YANG BENAR DIHADAPAN TUHAN

Timotius adalah seorang hamba Tuhan yang masih muda belia, dipercayakan untuk melayani jemaat Tuhan. Ia berada dalam bimbingan Paulus, yang sudah memiliki banyak pengalaman. Ia melayani di Jemaat yang baru bertumbuh/berdiri. Paulus memberikan bimbingan (pastoral) kepada Timotius agar dirinya makin matang sebagai hamba Tuhan dan memahami jemaat yang dilayani. 

Paulus menyadari kondisi jemaat yang baru bertumbuh itu masih sangat duniawi. Mereka berpikir, bahwa kehidupan duniawi mereka akan tercapai dengan menjadi Kristen. Kehidupan duniawi mereka masih sangat kental, sehingga iman kekristenan sulit mereka pahami dan terima.
Paulus langsung saja memberi pengertian dasar ibadah (seremonial) yaitu, bahwa ibadah itu adalah ungkapan syukur. Bersyukur karena Tuhan telah mencukupkan/memberi kebutuhan dasar. Tanpa pengertian dasar yang demikian, maka mereka yang baru memasuki persekutuan itu akan memandang ibadah sebagai sarana memperoleh nilai-nilai dunia. Selanjutnya Paulus berkata, jika rasa cukup itu sudah mereka miliki maka ibadah memberi keuntungan besar. Ya, Ibadah adalah perjumpaan dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan akan menyadarkan manusia itu siapa dirinya. Dalam ibadah (perjumpaan dengan Tuhan) maka manusia itu akan terus diingatkan bahwa ia sesungguhnya tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia, pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
Memang, semua agama lama memahami, bahwa ‘ibadah untuk mencari kekayaan.’ Mereka berpikir dengan tidak sehat, dengan pemahaman bahwa dengan beribadah mereka mendapatkan uang. Ini sudah menyimpang dari ajaran Kristus. Yang lebih mengerikan, mereka menyiksa diri dengan berbagai duka untuk mendapatkan uang itu. Ibadah untuk mendapatkan uang adalah siasia dan sesat. Jika itu yang menjadi tujuan, maka siasialah ibadah mereka. Ayat 9-10 adalah gambaran bagaimana orang memandang kekayaan dan cara memperolehnya. Keinginan menjadi kaya begitu tingginya, dan untuk mencapai itu mereka menyimpang dari iman dan juga sampai mengorbankan dirinya. Paulus mengingatkan agar hal itu tidak terjadi pada hambanya.
Manusia secara sadar atau tidak sedang ‘bertanding’ dalam hidup ini, untuk mengejar nilai-nilai tertentu. Perubahan zaman yang terus berubah telah membuat manusia menempatkan kekayaan sebagai nilai tertinggi. Akibat pemahaman itu, maka banyak orang membenarkan segala cara untuk memperolehnya. Timotius diingatkan agar menjauhkan semua itu. Hidup memang suatu pertandingan tetapi pertandingan iman. Karena hidup adalah pertandingan iman maka yang hendak direbut bukanlah nilai duniawi melainkan merebut hidup yang kekal.
Selanjutnya (17-19) Paulus berkata meminta Timotius agar mengingatkan jemaat Tuhan mampu memahami fungsi kekayaan itu. Jangan mereka menjadi tinggi hati dengan kekayannya (band. Lukas 12:16-20), tetapi hendaklah mereka mengelola kekayannya untuk menyatakan iman kepada Allah. Pemanfaatan harta yang benar untuk membangun kehidupan sosial adalah buah dari iman kepada Allah. Dengan demikian, harta bukan hanya berguna selama di dunia tetapi orang tersebut telah mengumpulkan harta, yang berguna untuk hidup kekal. Dengan kata lain, harta dunia dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan harta di sorga.

Pemahaman ibadah perlu dipahami lebih dalam dengan cara berpikir sehat.
1. Ibadah seremonial. Yang dimaksud Seremonial adalah Ibadah yang dilangsungkan di Gereja atau partangiangan (sektor). Ibadah ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan atas semua perbuatanNya bagi kita.
2. Ibadah keseharian. Ibadah seperti ini bukan berlangsung di dalam Gereja atau partangiangan sector. Tetapi ibadah ini berlangsung pada seluruh aspek kehidupan; baik di rumah, di kantor (bekerja), atau dalam percakapan dengan keluarga, sahabat. Di sini, ibadah menjadikan orang-orang di sekitar kita merasakan sukacita atas kehadiran kita.
Seluruh Ibadah adalah untuk memuliakan Tuhan, sebab Tuhan telah memberikan anugerah bagi kita. Setiap ibadah yang dilakukan dengan pemahaman yang benar, sungguhsungguh mendatangkan sukacita. Namun, ibadah yang dilakukan dengan pemahaman dan niat yang sesat justru menimbulkan kekacauan. Beribadahlah kepada Tuhan sebab Ia baik !
Tuhan telah menyiapkan segala kebutuhan hidup manusia. Kita diperkenankan memperoleh semua itu untuk mendukung kehidupan manusia agar hidup sejahtera. Namun untuk memperoleh hal itu. Kita tidak diperkenankan hidup dalam keserakahan yang dapat menimbulkan konflik social. Tuhan memperkenankan kita untuk hidup secukupnya.
Kita juga patut bersyukur atas segala pemberian Tuhan. Sebagai rasa syukur pada Tuhan yang adalah sumber segala berkat, maka kita juga patut menggunakan segala pemberian Allah untuk saling mengasihi. Itulah kebajikan yang Tuhan kehendaki dalam hidup umatNya. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar