23 Juni 2017

Roma 6:1-11 Muliakan Allah




   HIDUP UNTUK MEMULIAKAN ALLAH
                    (Roma 6:1-11)

Kita semua warga jemaat tentu telah menerima baptisan. Lalu, kita juga sering menyaksikan pembaptisan. Baptisan yang kita terima didasarkan pada kematian Kristus. Kematian Kristus adalah kematian terhadap dosa. Dengan menerima baptisan, maka kuasa dosa tubuh kita telah mati. 

Kata Baptisan berasal dari bahasa Yunani, ‘baptizomai’ yang artinya memandikan atau membasuh. Orang yang dibaptis berkali-kali disebut ‘maridi’hahahaha…. Baptisan adalah tanda perjanjian Tuhan Allah. Orang yang dibaptis, dibasuh dengan air dan disucikan oleh Roh Kudus dan berkat iman serta pertobatan, orang tersebut dibersihkan dari dosa, mati dan bangkit bersama Kristus serta memulai kehidupan baru dalam Dia. Jadi, baptisan merupakan suatu panggilan hidup baru.
Pada zaman Tuhan Yesus yang dibaptis adalah orang-orang dewasa. Baptisan didahului dengan bimbingan, dan atau setidaknya harus dapat mengungkapkan ‘Pengakuan Iman’. Orang-orang yang dibaptis juga individual. Jadi, tidak sedikit sepasang suami-isteri tapi belum keduanya beroleh baptisan. Mereka yang menerima baptisan mengambil keputusan yang membuatnya seringkali terputus dari relasi lamanya, baik budaya maupun keluarga. Dengan baptisan itu, maka setiap orang yang dibaptis dianggap telah kokoh imannya kepada Yesus Kristus. Mereka kemudian disebut sebagai manusia baru.
Baptisan adalah kasih karunia, yaitu pengampunan dosa oleh Kristus Yesus. Kata ‘kasih karunia’ ini disalahpahami (atau sengaja menyalahartikan), sehingga seolah-olah dengan berbuat dosa maka bertambah-tambahlah kasih karunia Tuhan. ‘Kalau begitu, kita berbuat dosa saja supaya makin banyak kasih karunia Tuhan’. Paulus membantah pengertian itu, ‘sekali-kali tidak!’. Sesungguhnya, orang yang telah dibaptis dalam Kristus, maka dosa tidak lagi berkuasa padanya sehingga ia tidak lagi berbuat dosa. Orang yang telah dibaptis dalam kematian Kristus, maka ia juga telah dibangkitkan bersama Kristus yang di dalam dirinya dosa tidak lagi berkuasa. Orang yang telah menerima baptisan, maka manusia lama (kuasa dosa) telah turut disalibkan, sehingga tubuh dosa kita hilang kuasanya, ia tidak lagi menghambakan diri kepada dosa. Karena itu, orang yang telah menerima baptisan, maka ia telah hidup bersama dengan Kristus, maut tidak lagi berkuasa atas dia. Dengan demikian, orang yang telah menerima baptisan maka seluruh hidupnya dipersembahkan untuk memuliakan Allah.

Baptisan anak-anak kecil mulai dilaksanakan ketika terbentuk keluarga Kristen. Anak-anak juga disarankan menerima baptisan itu, supaya keluarga itu tumbuh bersama. Seiring dengan baptisan anak kecil itu, ada tugas orangtua untuk terus membimbing iman anak-anaknya kepada Tuhan Yesus. Itu sebabnya, di dalam keluarga Kristen harus ada orang bertindak selaku imam (.setidaknya bapak harus menjadi imam). Lalu, untuk mengokohkan iman anak yang telah menerima baptisan dan dibimbing oleh orangtuanya, maka gereja mengadakan pembinaan secara teratur. Itulah yang kita sebut dengan katekisasi. Jadi, orang yang telah menjalani katekisasi adalah orang yang dianggap telah memiliki iman yang kokoh. Itu sebabnya, saat menerima sidi (kebetulan ada Peneguhan Sidi di kami lho, 37 orang) sering ada nasehat orangtua kepada anak-anaknya (katekumen), : ‘Nah…baik-baiklah engkau nak, jangan berbuat dosa lagi, sebab mulai sekarang engkau sendiri yang menanggung dosamu’.
Dalam organisasi gereja, mereka yang telah menerima Peneguhan Sidi itu disetarakan dengan yang lain, mereka telah menjadi warga jemaat penuh/dewasa (=bapak dan ibunya). Karena itu, salah satu persyaratan untuk menerima pemberkatan nikah harus telah katekisasi. Alai so tung mamintor kawin angka naung sidi i.
Lalu, mengapa manusia yang telah menerima baptisan dan atau katekisasi itu masih jatuh ke dalam dosa ? Karena ia tetap tergiur dengan dunia ini ! Tuhan memang memberi kebebasan bagi manusia. Sekalipun manusia itu telah dibebaskan dari dosa, Tuhan memberikan manusia kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Tuhan tidak membatasi kebebasan manusia tetapi Tuhan juga memiliki kehendakNya.
Kuasa-kuasa dosa masih merajalela dalam hidup manusia : mencuri, berzinah, membunuh, berdusta, menyakiti sesama. Semua itu terjadi karena keinginan-keinginan duniawi. Kebebasan yang disalahgunakan. ‘Manusia yang masih hidup dalam dosa disebut manusia lama, tapi orang yang telah dibaptis/sidi tapi terus menerus berbuat dosa disebut manusia rongsokan’.
Karena itu, mari kita hidup sesuai dengan firman Tuhan, hidup dengan memuliakan Allah, agar kita tidak jatuh lagi ke dalam dosa. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar