1 September 2017

Roma 12:9-21 (Khotbah Minggu)



       HIDUP DALAM DAMAI DENGAN SEMUA ORANG
                         Roma 12:9-21

Tuhan menganugerahi manusia dengan hidup bahagia dan menyenangkan. Itulahlah hidup yang dikehendaki Tuhan dalam hidup manusia. Hidup indah itu dapat terpelihara dengan baik apabila semua manusia hidup dengan tulus, tidak ada kepura-puraan, melakukan yang baik, saling mengasihi dan saling menghormati.
Persekutuan dalam Tuhan makin terasa indah dengan saling melayani dalam semangat yang dicurahkan roh Tuhan. Oleh sebab itu, persekutuan juga harus saling membantu/menolong. Tuhan tidak menghendaki anak-anakNya hidup sebagai pengemis. Diakonia harus berfungsi. Persekutuan yang demikian akan membawa kedamaian bagi semua orang.
Persekutuan yang demikian itu akan memberi keteguhan bagi tiap anggota menghadapi pergumulan hidup (kesesakan). 

Tentunya, persekutuan harus dihidupi oleh doa. Doa kepada Tuhan memampukan kita menjalani praktek hidup saling mengasihi. Doa menjadi cara kita membangun persahabatan dengan Tuhan. Persahabatan yang senantiasa terjalin dengan Tuhan akan membuat hidup makin mesra dan indah. Doa akan membimbing kita untuk bertindak, dengan tidak melawan suara hati nurani (suara Roh Kudus). Doa yang dipanjatkan dengan  benar akan didengarkan Tuhan. Amin!
Memang tidaklah mudah memelihara persekutuan ideal itu. Kejahatan dapat saja terjadi, baik dalam persekutuan itu sendiri maupun dari luar. Paulus mempunyai strategi yang dapat menjadi pedoman bagi orang-orang percaya di Roma dan tentunya dengan hidup orang Kristen saat ini dalam menghadapi kejahatan yang timbul.
Apabila kejahatan dibalas dengan kejahatan maka korban kejahatan itu sendiri telah turut melakukan kejahatan. Jika kejahatan berhadapan dengan kejahatan, maka ‘tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak’ (Roma 3:10&12). Yang terindah perlu dilakukan adalah melakukan kebaikan. Keteladanan dalam menghadapi kejahatan diungkapan Tuhan Yesus di kayu salib, memberi pengampunan bagi mereka yang menganiaya.
Ulangan 32:35 Hak-Kulah dendam dan pembalasan, pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka. Dia yang berkuasa atas kehidupan manusia. Oleh sebab itu, pembalasan atas kejahatan manusia adalah wewenang Tuhan. Kita tidak perlu menunggu/melihat pembalasan Tuhan itu terhadap pelaku kejahata
Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan bukan berarti korban berdiam diri. Yang perlu dilakukan korban kejahatan bagi pelaku kejahatan adalah kebaikan, dengan memberikan kebutuhan yang diperlukan. Kejahatan muncul karena pelakunya merasakan kekurangan dalam dirinya. Kekurangan makanan atau  minuman sebagai kebutuhan pokok, termasuk haus kehormatan.  
Dengan melakukan hal di atas, Paulus mengatakan bahwa kita telah ‘menumpukkan bara api di atas kepalanya”. Ketika korban kejahatan membalas dengan kebaikan maka si pelaku mungkin menyadari kejahatannya. Ia kemudian malu dan menyesal atas kejahatannya. Ia merasa kepalanya sedang terbakar, sebagai balasan atas kejahatannya.
 ‘Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah’ (Matius 5:9), demikian khotbah Yesus di bukit. Yesus tidak berhenti pada gagasan belaka, tetapi melali pengorbananNya, kita telah diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:1). Dengan meneladani firman Tuhan, kita bukan saja dapat hidup damai dengan semua orang tetapi juga diutus menjadi pembawa damai bagi dunia (2 Korintus 5:17-20).

Ditengah-tengah dunia ini kita menghadapi tantangan : ekonomi, sosial, politik, dan tindak kejahatan ; kekerasan, fitnah, kesombongan, kekerasan dsb. Kejahatan sudah menjadi ‘santapan harian’. Kejahatan  bukan hanya terjadi di tempat umum tetapi juga di dalam keluarga yang disebut KDRT. Tidak sedikit orang menghadapi konflik rumah tangga, yang tak kujung selesai. Itu menimbulkan penderitaan berat. Padahal Tuhan berkata (Efesus  4:26), apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.
Hidup menjadi tidak sukacita.
Banyak lagi praktek kehidupan dan pergumulan yang kita hadapi. Satu hal yang membawa kita pada kemenangan pergumulan hidup ini adalah berdoa dan terus melakukan kebaikan. Kita pun akan menikmati hidup yang damai dengan semua orang. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar