23 Oktober 2013

Matius 20:20-28 (Khotbah, 27 Oktober 2013)



DATANG UNTUK MELAYANI

Kita menyebut diri sebagai pengikut Yesus, namun apakah setiap orang itu menyadari tujuan mengikut Yesus ? Kita juga mengenal istilah misalnya ‘lahir kembali’, ‘menyangkal diri’ ; apakah kita paham dengan istilah dan arah tujuannya ? Jika tidak, maka kita tidak mengalami pertumbuhan, bahkan kemudian menjadi kecewa.
Ibu dari Yakobus dan Yohanes telah sekian lama membiarkan anak-anaknya mengikut Yesus, namun motif mengikut Yesus belum sepenuhnya terungkap. Sepertinya mengikut Yesus sekedar memiliki status dan memperoleh makanan.
Seiring dengan perjalanan waktu, pelayanan Yesus telah mengubah kondisi masyarakat. Yesus telah dikenal banyak orang, Yesus menjadi ‘populer’. Para murid mulai berpikir, bahwa peluang Yesus untuk menjadi penguasa dunia sudah mulai terbuka. Para murid pun mulai kasak-kusuk untuk menjadi ‘orang kedua’ Yesus. Tujuan mereka sudah jelas, yaitu menjadi orang terhormat dan menguasai orang lain. Tidak ketinggalan, Ibu Yakobus dan Yohones tidak mampu menahan keinginan agar kedua anaknya dapat menjadi pendamping Yesus. Istilah ‘kemuliaan’ dipahami begitu sangat duniawi, yaitu Yesus akan menjadi raja (pemimpin) bangsa Israel. Ibu Yakobus dan Yohanes menawarkan anak-anaknya supaya ketika Yesus berada di kemuliaanNya, mereka mendapat jabatan ‘ring satu’. Permohonan ini sungguh-sungguh kasar dan picik. Karena itu Yesus berkata, ‘kamu tidak tahu apa yang kamu minta.’ Ungkapan yang mengandung penuh ambisi dari ibu anak-anak Zebedeus menunjukkan bahwa ia belum paham akan arti mengikut Yesus, sehingga sang ibu tidak mengerti yang seharusnya dimohonkan. Jawaban yang cepat ‘kami dapat’, ketika Yesus bertanya tentang minum cawan dan baptisan adalah juga menunjukkan kekurangpahaman mereka mengenal Yesus. Mereka memahami minum cawan dan baptisan hanya sekedar persyaratan dunia.  Mereka mengikut Yesus tetapi tidak paham arah dan tujuannya. Ini sudah kacau. Lalu, atas permohonan itu, Yesus dengan lembut menyatakan, bahwa yang menentukan bukan diriNya, melainkan ada yang lebih berhak untuk menetapkan, yaitu Bapa Yang telah menyediakan. Yakobus dan Yohanes memang sangat mungkin dapat diterima, tetapi hanya jika mereka layak, bukan karena kesukaan.
Kesepuluh murid lain yang sejak tadi mendengarkan dialog itu menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Kemarahan kesepuluh murid juga bukan karena sudah paham akan maksud Yesus. Kemarahan mereka juga dalam rangka memperebutkan jabatan tersebut, hanya saja dengan cara lain ‘cari muka’. Karena kesepuluh murid itu juga tidak rela tanpa mendapat posisi empuk. Sungguh, mereka semua hanya berpikir tentang jabatan dunia, padahal Yesus tidak pernah menjanjikan jabatan dunia kepada para murid untuk itu.
Agar para murid paham akan visi Yesus, maka Yesus menggambarkan pemerintahan yang terjadi di tengah-tengah bangsa-bangsa. Yesus menjelaskan cara  pemerintahahan bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Hal ini memang terjadi di sepanjang zaman. Manusia dunia suka memerintah dan menguasai orang lain. Keinginan tersebut dapat dicapai dengan jabatan yang melekat pada dirinya, sehingga ia dapat memerintah demi kepentingan membesarkan diri. Untuk hal itu, para pemimpin tidak enggan menggunakan segala cara, yang menambah penderitaan masyarakat. Yesus menyatakan realita yang ada.
Yesus tidak menghendaki kerajaan dan pemerintahan dunia, dimana manusia mengalami tekanan dan penderitaan. berbeda dengan pola kepemimpinan pemerintah bangsa-bangsa yang mengedepankan tangan besi dan kekerasan, maka pola kepemimpian kristiani adalah pola kepemimpinan melayani/menghamba. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Yesus menghendaki kerajaan yang menghadirkan damai sejahtera. Yesus telah mengajarkan dan praktekkan kerajaan seperti itu selama pelayananNya. Yesus telah memberi teladan, dimana ia hadir sebagai seorang hamba. Kepemimpinan yang demikian itulah yang Yesus kehendaki berlangsung di dalam kerajaanNya. Di dalam Kerajaan Tuhan kebesaran seseorang diukur dari seberapa besar kesediaannya melayani terhadap sesama mereka dan semua orang.
Gereja adalah persekutuan milik Tuhan yang dipakai untuk menghadirkan kerajaanNya, dimana orang-orang yang bersekutu di dalamnya mesti saling melayani. Pelayanan yang diperbuat adalah untuk kehendak Tuhan. Setiap anggota harus legowo apabila kehendaknya tidak tercapai. Kehendak Tuhan itu terlihat di dalam kehidupan berjemaat apabila setiap orang merasakan sukacita.

Kita telah dipanggil Tuhan dalam persekutuan JemaatNya, baik sebagai jemaat maupun majelis. Tuhan berkenan memanggil kita menjadi hambaNya sebagai pelayan, untuk melakukan kehendakNya, bukan kehendak kita sendiri. Jika kita memaksakan kehendak kita, maka kita bukan lagi hamba tetapi telah menjadi tuan. Umat Tuhan dalam suatu persekutuan harusnyalah melaksanakan pelayanan dengan segala ketulusan dan tidak perlu ada kecewa. Juga, seorang hamba tidak perlu mengatakan kepada tuannya bahwa satu hari itu ia telah bekerja keras, supaya ia mendapat pujian. Itu sudah bagian dari tugasnya sebagai seorang hamba.
Kita harus senantiasa membarui dan meningkatkan diri melayani Allah di dalam Jemaat maupun di tengah masyarakat yang majemuk. Pelayanan dapat kita lakukan menolong orang-orang kecil, yang mungkin tak bisa membalas karena keterbatasannya. Kita perlu memberi penghormatan dan pelayanan pada setiap orang sekalipun tampilan lahiriah atau kedudukan sosialnya rendah.
Hasrat menjadi yang terbesar dapat mengancam keefektifan kita sebagai murid Tuhan. Hasrat untuk dimuliakan seharusnya tidak dimiliki seorang pengikut Yesus. Milikilah hati seorang hamba. Bersiaplah mengutamakan orang lain dan merendahkan diri sendiri, maka kerajaan Allah sungguh-sungguh hadir. AMIN

9 Oktober 2013

Yeremia 31:31-34 (Khotbah Minggu, 13 Oktober 2013)



HUKUM YANG TERULIS DALAM HATI

Di dalam hidup ini kita pasti pernah membuat perjanjian. Janji itu ada yang terulis, dan ada juga cukup saling percaya ; perjanjian bisnis, perjanjian nikah, perjanjian saling percaya, misalnya orang berpacaran. Ada juga orang berjanji pada diri sendiri, ini seringkali dilanggar : waktu mau kuliah berjanji rajin belajar, waktu mau bekerja berjanji memberikan gaji pertama atau perpuluhan, ketika mau menjadi pelayan gereja berjanji akan penuh kesetiaan, dsb. ‘tapi janji tinggal janji’, demikian syair sebuah lagu. Banyak orang melanggar janji yang telah disepakati. Pelanggaran terhadap janji disebut ingkar janji, dan akan ada sanksi.
Allah telah menetapkan Israel sebagai umat pilihanNya. Dalam penetapan itu, Tuhan membuat perjanjian dengan umatNya, dan Tuhan setia dengan janjiNya. (a) Allah berjanji membebaskan umatNya dari perbudakan. Allah melaksanakan janjiNya itu. Sekalipun raja Firaun selalu menghalang-halangi pembebasan umat dari perbudakan, tetapi Tuhan tetap membebaskan umatNya. Bukan hanya Firaun, umat Tuhan pun tidak sepenuh hati mau dibebaskan dari perbudakan. Tapi Tuhan setia dengan janjiNya, sehingga umat bebas dari perbudakan Mesir. (b) Tuhan berjanji akan menuntun umatNya. Tuhan membawa umatnya memasuki tanah Kanaan. Hanya saja, umat ini tidak setia, tidak percaya, sering mau kembali menjadi budak, dan kemudian memberontak terhadap Tuhan. Tuhan yang begitu setia dengan janjiNya, tapi umat justru selalu ingkar. Banyak hal yang menggoda umat melanggar perjanjian dengan Tuhan. Berkali-kali umat tergiur dan jatuh ke dalam dosa. Mereka tidak taat dan setia atas perjanjian yang telah Tuhan ikat.
Ketidaktaatan umat terhadap janjinya, maka Tuhan pun memperbaharui perjanjian dengan umatNya. Inilah Perjanjian Baru itu : (1) Allah menaruh Taurat dalam batin dan hati umatNya. Dengan menaruh Taurat dalam batin dan hati umat, maka mereka akan selalu mengingat hubungannya dengan Tuhan. Tuhan memberikan hati yang baru kepada umatNya. Ini berarti setiap umat, besar-kecil sudah mengenal Tuhan dan mengetahui akan firmanNya. Taurat itu akan menjadi bagian hidup umat. Tuhan yang memiliki inisiatif ini untuk memulihkan umatNya. (2) Tuhan mengampuni dan melupakan dosa umatNya. Dalam Perjanjian Baru ini, Tuhan juga telah mengampuni segala dosa pelanggaran umat yang telah mereka perbuat selama itu. Kini, mereka boleh menjalani hidup baru.

Firman Tuhan ini sesungguhnya berbicara mengenai kehidupan baru untuk memperoleh keselamatan. Tuhan memberikan pengharapan baru bagi umatNya. Pengharapan baru itu akan diperoleh apabila kita senantiasa dengar-dengaran akan firman Tuhan yang telah tertanam di dalam batin dan hati kita. Kita mau diingatkan oleh firman Tuhan yang selalu terngiang dalam hidup ini. Dengan demikian, kita akan selalu bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih. Dengan kasih Tuhan itulah kita berpengharapan menjalani kehidupan ini, sebab Tuhan akan selalu menolong kita dalam menghadapi liku-liku kehidupan ini.
Dalam berbagai percakapan tentang firman Tuhan, banyak orang mengatakan, ‘sebenarnya saya sudah tahu tentang firman Tuhan, tapi melakukannya yang susah’. Pernyataan itu  benar. Allah memang sudah menyatakan firmanNya bagi kita. Itu sebabnya, dikatakan (Yeremia 31:34), ‘tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN!’ Benar, semua orang sudah tahu dan paham akan firman Tuhan. Hukum Tuhan itu telah tertanam di dalam diri kita. Kita sudah mengetahuinya. Oleh sebab itu, yang utama sebenarnya adalah, bagaimana kita menggerakkan hati dan jiwa untuk menghayati dan melakukan firman itu. Saat itulah kita dapat menikmati kuasa dan kemurahan Tuhan.
Dalam diri Tuhan Yesus, kita telah memperoleh pengampunan dosa. Kita patut bersyukur atas pengampunan itu. Tuhan menganugerahi kita kehidupan baru. Oleh sebab itu, kita patut menjalani kehidupan ini dengan penuh ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. AMIN

5 Oktober 2013

Habakuk 1:1-4 ; 2:1-4 (MInggu 2 Oktober 2016)


     ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH PERCAYANYA

Kita merindukan hidup tenang, aman, tenteram, dan damai sejahtera. Kehidupan indah itu kita kehendaki terjadi dalam diri kita dan tidak suka melihat apalagi mengalami penindasan, kejahatan, kelaliman. Kita ingin bebas dari percekcokan, pertengkaran, dan aniaya. Kita tentu hendak menikmati hidup sukacita dan bahagia.
Lalu, bagaimana jika penindasan atau kejahatan itu terjadi di sekitar kita ? Inilah yang membuat Habakuk ngak tahan. Sebagai seorang nabi, Habakuk cukup jeli melihat realita hidup. Dalam pengamatannya, Habakuk sangat prihatin atas kehidupan umat Tuhan. Habakuk menyaksikan fakta hidup terjadinya kejahatan, kelaliman, percekcokan, pertengkaran, dan aniaya. Segala yang dilihat Habakuk itu menjadi pergumulan batin dalam dirinya. Hati Habakuk makin tersayat ketika ia menyaksikan bahwa orang yang tertindas tersebut adalah orang-orang lemah dan benar.
Hamba Tuhan, Habakuk tentu menyampaikan semua itu dalam doa kepada Tuhan. Namun, kejahatan makin merajalela sehingga ia berteriak : ‘Penindasan’.
Menarik sekali Analisa Habakuk, bahwa penindasan dan kejahatan lainnya itu terjadi dikarenakan ‘hukum kehilangan kekuatannya’. Sesungguhnya, Tuhan telah memberikan Hukum bagi umatNya. Hukum dilandasi oleh cinta kasihNya demi keselamatan manusia. Hukum itu mestinya menjadi patokan bagi manusia untuk menikmati hidup berkeadilan dan penuh sukacita. Hukum diberikan untuk mengatur kehidupan manusia sehinggat tercipta keharmonisan. Tetapi hukum telah dipermainkan, hukum kehilangan kekuatannya. Akibatnya, keadilan muncul terbalik : orang benar menjadi salah, orang lemah makin dilemahkan, dan penguasa bertindak sewenang-wenang.
Siapakah yang mempermainkan hukum itu ? Habakuk menyebut, bahwa mereka yang mempermainkan hukum itu adalah orang fasik, yaitu, ‘orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya’ (2:4). Mereka bertindak dengan mengandalkan kekuatan tanpa hati nurani. Orang fasik memutarbalikkan hukum sehingga orang benar dan lemah mengalami penindasan.
Habakuk sadar, bahwa ia tidak kuasa untuk menentang orang fasik itu. Ia hanya mampu berteriak, mengeluarkan keluhannya, demi keadilan. Habakuk mencoba menenangkan diri dan menantikan jawaban Tuhan. Inilah jawaban Tuhan kepada Habakuk :
1.    Ukir pada loh-loh
Tuhan memerintahkan Habakuk untuk menuliskan semua yang dilihat dan menjadi pergumulannya pada loh-loh, supaya orang dapat membacanya.
2.    Orang fasik
Orang-orang yang memutarbalikkan hukum itu, cepat atau lambat akan menerima hukuman dan tidak akan bertangguh. Orang jahat tampak menang namun mereka pasti diadili.
Habakuk percaya bahwa keadilan Allah akan terjadi. Habakuk pun sampai kepada pemahaman teologis (2:4b) : ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH PERCAYANYA. Inilah dasar yang kokoh bagi nabi dan tentunya bagi kita untuk mengatasi tekanan yang sering dan banyak kita alami. Tuhan adalah penguasa dan penentu atas segala kehidupan. Oleh sebab itu, kita boleh percaya bahwa pada waktunya Tuhan akan bertindak dan menghapus segala air mata orang-orang benar.

Dunia ini penuh dengan berbagai kejahatan yang tampak secara langsung maupun tersembunyi. Semua kejahatan itu pastilah pelanggaran terhadap hukum, yang mengakibatkan timbul korban. Hukum mestinya dikawal dan ditegakkan secara benar. Jika hukum dibengkokkan, maka yang terjadi adalah adu kekuatan ; Siapa yang kuat, dia yang menang.  PAJOLO GOGO PAPUDI UHUM. Jika kekuatan yang mengatur kehidupan maka orang-orang lemah akan makin lemah, dan orang-orang benar akan turut menderita. Ketidakadilan akan muncul dan mengguncang tatanan hidup bermasyarakat.
Di tengah-tengah kehidupan ini ada hukum yang mengatur manusia. Tujuan semua hukum itu adalah agar manusia hidup dalam ketertiban dan kebenaran. Hukum merupakan penuntun bagi kita untuk memperoleh kehidupan kekal. Namun, kita sering melanggar Hukum (Tuhan) dan hidup dalam berbagai hal yang tidak baik. Kita perlu merenung, seberapa besar pelanggaran kita atas hukum itu. Pelanggaran terhadap Hukum merupakan dosa. Pelanggaran terhadap hukum akan membuat kehidupan manusia menjadi kacau ; penderitaan, kemiskinan, diskriminasi dsb. Tetapi Tuhan telah berkorban untuk penebusan dosa manusia, Kristus mati. Oleh sebab itu, kita orang-orang percaya perlu menyesali dosa dan memohon pengampunan, sehingga kita beroleh kepenuhan Allah.
Terkadang hati kita tidak tahan melihat tindakan orang-orang yang melanggar hukum. Kita mengkritisi dan ingin rasanya berteriak. Tetapi orang percaya tidak boleh menyandarkan diri pada kekuatan sendiri, melainkan harus pada kekuatan Tuhan. Oleh sebab itu, menghadapi kejahatan membutuhkan daya tahan dan kesabaran dari orang percaya. Sumber ketahanan dan kesabaran orang percaya ialah membangun hubungan yang kokoh dan akrab dengan Tuhan.
Bapa Gereja bernama Agustinus mengatakan : ‘Tujuan hidup manusia adalah kesetiaan dan keselamatan.’ Kalaupun dalam hidup ini kita menderita tetapi kita tetap setia kepada Tuhan. Bahkan ditengah-tengah penderitaan ini, kita tetap berbuat baik, sebab itulah yang Tuhan kehendaki. AMIN

Efesus 5:8-14 (Khotbah Minggu, 30 Maret 2014)


MENGUJI APA YANG BERKENAN KEPADA TUHAN (Efesus 5:8-14)

Paulus menjuluki dirinya: “Orang yang dipenjarakan karena Kristus” (4:1). Paulus memang menuliskan surat penggembalaan ini saat ia berada di penjara. Sekalipun Paulus menuangkan tulisannya di dalam penjara tetapi pokok pikirannya cukup jelas, yaitu bahwa Allah, di dalam Kristus,  telah menebus manusia dan dunia dengan segala isinya menjadi milik-Nya.  Oleh sebab itu, dunia dan manusia dengan semua pikiran, kehendak dan ucapannya harus kudus dan menjadi pujian kemuliaan Allah.
Surat Efesus dikenal sebagai Surat Penggembalaan, yang dialamatkan pada Jemaat Efesus. Paulus menasehatkan supaya mereka yang telah terhisab ke dalam persekutuan anak-anak terang jangan menentukan tingkah laku mereka menurut ukuran-ukuran moral yang mereka pakai sebelum menjadi Kristen. Hidup lama mereka berada dalam kegelapan ; percabulan, kecemaran, keserakahan, perkataan yang kotor, kosong, sembrono, penyembah berhala. Kehidupan demikian sah-sah saja pada hidup masyarakat umum Efesus, sekalipun itu sesungguhnya penderitaan (Mazmur 107:10) dan kebodohan (Pengkhotbah 2:14). Namun, setelah mereka memasuki persekutuan baru, dimana mereka telah menjadi anak-anak terang, maka dunia kegelapan itu harus ditinggalkan. 
Jemaat Efesus sekalipun sudah menjadi Kristen tetapi mereka masih  hidup dalam pola lama, mereka hidup dengan tingkah laku masyarakat Efesus umumnya. Padahal mereka sudah menjadi anak-anak terang. Mereka adalah terang : bukan terang dari dalam diri mereka sendiri, tetapi terang dari Tuhan. Mereka adalah terang di dalam Tuhan, mereka telah dipindahkan dari ‘kuasa kegelapan’ dan ditempatkan di dalam’Kerajaan Kristus (Ef. 5:5). Jika menjadi anak-anak terang, maka semua bentuk kehidupan lama itu harus ditinggalkan. Bila perlu, anak-anak terang tidak lagi berkawan dengan mereka yang masih hidup dalam kegelapan (Ef. 5:7). Semua kegelapan itu hanya mendatangkan murka Allah.
Hidup sebagai anak-anak terang haruslah memiliki sifat hidup dalam terang, yaitu berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Ketiganya tidak ada pada manusia lama, hanya pada manusia baru sebagai anugerah Allah padanya. Hidup dengan kebaikan, keadilan, dan kebenaran, maka anak-anak terang menunjukkan adanya hasrat untuk memperkenankan kasih Allah itu memenuhi dirinya. Kasih Allah yang memenuhi dirinya itu akan membuat anak-anak terang menikmati hidup sukacita.
Dalam hidup masyarakat Efesus banyak yang sangat bertentangan dengan kehidupan Kristen. Bagi Paulus, menyebutkan saja tidak layak dalam kehidupan Kristen. Paulus mengingatkan anak-anak terang, bahwa mereka sekarang tidak sama lagi seperti dahulu. Sejak mereka bertobat dan menjadi anggota tubuh Kristrus (jemaat), situasi mereka telah berubah.
Orang Kristen tidak hanya menghindari praktek dan pekerjaan jahat; mereka juga bertanggung jawab menelanjangi sifat salah dari dunia di sekitar mereka, dengan cara hidup yang berlawanan dengan cara hidup dunia. Orang Kristen sebagai anak-anak terang di dunia harus memancarkan sinar menerangi pojok-pojok kegelapan dari masyarakat, dimana praktek-praktek kejahatan dilakukan. Terang harus menelanjangi kegelapan itu. 
Pada akhirnya, Paulus mengutip syair sebuah kidung, ‘Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah….’. Nyanyian ini merupakan dorongan sebagai kebangkitan orang yang bertobat dari kematian dosa menuju ke persekutuan dengan Tuhan yang hidup. Tujuannya agar mereka memiliki kekuatan untuk meninggalkan pola hidup lama itu. Jika mereka menghayati syair lagu itu, maka Kristus akan bercahaya atas mereka.

Kita bukan lagi generasi pertama dalam kehidupan Kristen. Namun masih banyak orang-orang Kristen yang hidup dalam pola lama. Kita mestinya meninggalkan sifat-sifat lama dan hidup sebagaimana layaknya anak-anak Tuhan. Agar kita dapat hidup sebagai anak-anak terang maka haruslah ditatang oleh doa, percakapan dan ‘perundingan’ yang terus menerus dengan Dia. Selanjutnya, hidup terang pastilah berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. Itulah kehidupan yang Tuhan kehendaki sebagai kasih dan rasa syukur. Dengan demikian, kita nampak sebagai orang-orang yang telah hidup dalam kebaharuan.
Minggu kita hari ini disebut Letare, bersukacitalah kamu. Hidup sukacita adalah dimana orang itu dapat melepaskan diri dari beban yang melekat pada dirinya. Sukacita hanya akan dialami oleh orang-orang yang hidup dalam terang. Hanya orang-orang yang hidup dalam terang mampu berletare. Sukacita yang utama anak-anak terang adalah keyakinan, bahwa Kristus telah menyelamatkannya. Pengorbanan Kristus telah membuatnya menjadi terang dan pewaris Kerajaan Sorga. Kekayaan Kristus itu adalah, dimana kita akan dianugerahi kehidupan sorgawi yang penuh sukacita. Kekayaan Kristus itu harus sudah nampak dalam kehidupan berjemaat, sebab jemaat adalah tubuh Kristus.  Dengan demikian, maka seluruh jemaat akan mengalami sukacita yang luar biasa dalam menjalani hidup ini. AMIN

3 Agustus 2013

1 Petrus 3:8-12 (Khotbah Minggu, 4 Agustus 2013)



                                     MATA TUHAN TERTUJU PADA ORANG BENAR

Sebuah komunitas selalu memberikan nilai-nilai tertentu bagi anggotanya. Nilai dasar dari sebuah komunitas menjadi baik jika tiap-tiap orang saling memiliki perasaan (simpati). Rasa simpati seorang terhadap yang lain akan menumbuhkan seia sekata, yang menggambarkan persatuan dalam suatu komunitas. Komunitas yang penuh saling rasa itu akan membuat orang-orang mengikatkan diri dengan sukacita. Tetapi tidak jarang sebuah komunitas di dalamnya penuh kejahatan, caci maki. Komunitas yang demikian akan membuat orang merasa tidak nyaman di dalamnya. Akibatnya, orang akan menjauhkan diri dari komunitas tersebut.