13 Maret 2014

Yohanes 3:1-17 (khotbah, 16 Maret 2014)



  LAHIR BARU UNTUK KERAJAAN ALLAH (Yohanes 3:1-17)

Manusia selalu mencari  dan terus mencari. Manusia berusaha memenuhi kebutuhan dasar untuk dapat menjalani hidup. Namun, pencarian yang dilakukan manusia tidak berhenti pada kebutuhan dasar ; makanan, pakaian, dan papan. Keinginan manusia itu terus bergerak ke atas. Manusia itu tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan dirinya (dan keluarganya), tetapi juga sudah menimbun kekayaan untuk keperluan cucu-cicitnyanya yang belum lahir. Manusia juga tidak berhenti hanya mencari 
kekayaan tetapi juga penghargaan sosial. Pencaharian yang semula dilakukan dengan sukacita dan mensyukurinya, namun pada level tertentu berubah menjadi pertarungan/persaingan. Hidup dan upaya yang semula dilakukan untuk menyegarkan jiwanya, berubah menjadi kegelisahan. Pertarungan ini dipicu oleh budaya – sosial masyarakat. Manusia memang berhasil untuk pemenuhan hidupnya, tetapi gagal untuk menyegarkan jiwanya. Lihatlah caleg DPR atau DPRD dan DPD yang gentayangan sampai tanggal 9 April ini. Mereka tentu sudah memiliki kekayaan, entah dari mana. Mereka belum puas. Mereka masih ingin sebuah kursi nyaman untuk tempat praktek korupsi (maaf bagi yang jujur dan punya visi).
Nikodemus adalah Farisi yang taat pada aturan (harafiah) agamanya. Ia seorang anggota Sanhedrin, yaitu dewan pengadilan yang terdiri dari tujuh puluh orang anggota, dan merupakan lembaga pengadilan tertinggi orang Yahudi. Dengan jabatan itu, ia layak memiliki kekayaan.
Sekalipun Nikodemus seorang Farisi tetapi ia datang kepada Yesus. Apa gerangan yang membuat Nikodemus menjumpai Yesus ? Nikodemus mengagumiNya karena Yesus dapat melakukan tanda-tanda yang luar biasa. Mujizat yang Yesus lakukan itu dipandang Nikodemus  mampu memberikan nilai-nilai dunia (kekayaan) juga. Bagi Nikodemus, tanda-tanda yang Yesus lakukan sangat mendukung yang dicarinya, untuk menghantarnya pada hidup bahagia. Oleh sebab itu, kedatangan Nikodemus menjumpai Yesus adalah juga bagian dari kerakusannya untuk memperoleh kekayaan dunia.
Nikodemus menyapa Yesus : "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." Ungkapan Nikodemus ini mirip dengan rayuan yang dilakukan ular kepada Hawa. Tetapi Nikodemus tidak sedang berhadapan dengan manusia perempuan yang mudah tergoda. Yesus langsung saja menantang kalimat rayuan bermuatan kepentingan dunia itu : ‘sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.’
Jawaban Yesus itu, bahwa yang pokok sebenarnya bukanlah tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban itu. Yang penting adalah adanya suatu perubahan di dalam batiniah seseorang sedemikian rupa sehingga perubahan itu bisa disebut sebagai kelahiran yang baru. Dilahirkan kembali adalah sama dengan mengalami suatu perubahan yang benar-benar radikal, yaitu perubahan yang tejadi di dalam jiwa. Hanya dengan kelahiran kembali maka setiap orang beroleh hidup yang kekal (15).
Yesus sesungguhnya menjungkirbalikkan pikiran Nikodemus yang haus akan nilai-nilai dunia. Nikodemus telah memiliki jabatan dan kekayaan yang cukup membuat dirinya patut mendapat penghargaan dunia. Tetapi ia tidak memiliki kepastian untuk hidup kekal. Ia guncang akan kehidupan masa yang akan datang. Hidup sukacita, bahagia, damai sejahtera yang dirindukan jauh dari dirinya karena tiada kepastian. Hidup kekal tidak otomatis dimiliki Nikodemus dengan jabatan dan kekayaannya. Hidup kekal merupakan hidup sorgawi, yang hanya dapat dicapai dengan percaya kepada Anak Manusia.
Allah memprakarsai hidup kekal itu bagi keselamatan manusia dalam diri AnakNya, Tuhan Yesus Kristus yang diutus ke dalam dunia (16). Allah mengutus AnakNya untuk mengasihi, mengampuni manusia dalam kelembutan. Hal yang sangat menakjubkan dari pengutusan Allah terhadap anakNya, bahwa Allah bertindak bukan untuk kepentinganNya sendiri, tetapi untuk kepentingan kita ; bukan untuk memuaskan nafsu kuasaNya, bukan untuk menaklukkan dunia ini, melainkan untuk memuaskan kasihNya. Allah adalah Bapa yang tak bisa bahagia kalau anak-anakNya yang tersesat belum kembali ke rumah. Allah tidak menghajar manusia untuk tunduk menyerah ; Ia rindu kepada manusia dan memanggil mereka dalam kasih. Untuk menggambarkan kasih Allah yang besar ini, Agustinus berkata : ‘Allah mengasihi masing-masing kita seolah-olah hanya masing-masing kita inilah yang dikasihiNya’.

Manusia terlahir dalam dosa. Dosa membuat manusia melangkah semakin jauh dari Tuhan, dan harus bersembunyi. Dalam ketersembunyiannya dari Tuhan, manusia terus mencari penghargaan dunia (kesombongan), yang tidak sedikit memperolehnya dengan berbuat jahat. Semua itu hanya akan menambah keringnya hati manusia, jauh dari rasa bahagia dan sukacita. Hidup tanpa kepastian akan kehidupan kekal.
Tuhan Yesus berkata (Matius  6:33) : ‘Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu’. Tuhan berkenan atas yang dicari manusia, dan Tuhan telah mempersiapkan semua itu untuk dikuasai. Hanya saja, manusia perlu merenungkan cara dan arah dari segala yang dicari dengan berlelah-lelah. Mestinya semuanya untuk melembutkan hati, menyegarkan jiwanya.
Tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebahagiaan ; harapan untuk hidup kekal. Nikodemus yang semula datang pada Yesus dengan keduniawiannya dapat diubahkan. Hatinya dibaharui, ia menyadari bahwa di atas segala yang dicari dan yang telah diperoleh adalah hidup kekal. Nikodemus merespon kasih dan anugerah Allah untuk hidup kekal dengan penyembahan dan persembahan. ‘Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya’ (Yohanes 19:39). Karena itu, datanglah kepada Yesus ; dengarkanlah sabdaNya dan lakukanlah perintahNya.
Orang yang tak pernah dilahirkan kembali, bukan saja ia tidak dipuaskan (bahagia) di dunia, tetapi ia juga tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Hendaklah kita lahir kembali dengan membaharui hati kita yang berkenan bagi Tuhan, supaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar