25 Februari 2021

Roma 4:18-25 IMAN ABRAHAM

      ALLAH MEMPERHITUNGKAN ORANG PERCAYA

Orang Yahudi mengklaim bahwa mereka secara langsung termasuk umat pilihan Allah karena mereka dilahirkan sebagai orang Yahudi. Namun bagi Paulus, orang Yahudi sejati bukanlah manusia yang secara darah daging keturunan Abraham, melainkan ia adalah orang yang telah mengambil keputusan untuk menyerahkan diri kepada Allah di dalam iman sama seperti Abraham. 

Allah memanggil Abraham untuk pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui. Ia juga tidak memiliki perlengkapan yang dapat memberikan jaminan hidup kepadanya. Ia tidak memiliki dasar atas panggilan Allah. Satu hal yang membuat ia melangkah adalah percaya pada janji Allah.

Allah pun menjanjikan keturunan yang banyak baginya, tidak memiliki dasar, karena ia telah mencapai ratusan tahun. Demikian juga isterinya Sara telah tertutup kandungannya, karena usianya sudah tua. Allah menjanjikan keturunan kepada Abraham, pada usia yang tidak mungkin memiliki keturunan.

Namun Abraham percaya kepada janji Allah bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan. Abraham melakukan yang Allah perintahkan. Bagi Abraham, Allah berkuasa, Allah dapat berbuat apa saja diluar kemampuan dirinya.

Abraham tampil sebagai orang yang taat kepada firman Allah, dan percaya kepada janji Allah yang berkuasa. Dan sebagai orang percaya, Abraham senantiasa memuliakan Allah (20). Memuliakan Allah berarti menjalani kehidupan yang Allah kehendaki.

Zaman Perjanjian Baru, persekutuan orang percaya terus bertumbuh. Persekutuan umat Tuhan begitu menguat untuk pengharapan hidup yang kekal. Umat Tuhan menantikan kehidupan kekal itu. Adapun yang mendasari keyakinan mereka adalah bahwa Allah membangkitkan Yesus dari orang mati. Yesus yang mati dan bangkit untuk menjadikan benar. Pengalaman persekutuan yang percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus untuk pembenaran umatNya, adalah juga merupakan tindakan iman.

Iman tidak dipengaruhi oleh kondisi/keadaan (19-21) tetapi percaya kepada janji Allah, sebab Allah berkuasa

 

Iman yang dimiliki Abraham, itulah yang hendak Paulus sampaikan kepada jemaat Tuhan yang ada di Roma, dan juga bagi kita saat ini. Paulus menunjuk pada keyakinan, bahwa pengampunan dan pembenaran diberikan dengan cuma-cuma sebagai karunia dari anugerah Tuhan. Ini semua tergantung kepada kasih Allah  dan hanya diterima oleh iman.

Dalam dunia ini, logika menjadi andalan dalam bertindak. Sesuatu yang tidak masuk logika, sulit dipertimbangkan untuk bertindak. Walaupun pada kenyataannya, yang tidak masuk logika dapat menjadi kenyataan.

Kita tidak bermaksud mengabaikan logika, sebab mengabaikan logika dapat dianggap sebagai orang bodoh. Walaupun tindakan orang beriman memang acapkali seperti  orang bodoh.

Yang hendak ditekankan adalah, kita boleh percaya kepada firman Allah. Firman Allah diyakini dengan iman, yang membawa manusia kepada kebaikan dan kebenaran.

Firman ini mengajak kita untuk hidup sebagai orang beriman. Hidup sebagai orang beriman haruslah diwarna dengan memuliakan Allah.  Demikianlah kita hidup sebagai anak-anak Allah sambil  menantikan Janji Allah yang penuh sukacita dan kebahagiaan kekal.

Janji Allah bukan hanya kepada Abraham tetapi juga kepada semua orang, dan kepada kita (sekarang ini).

Abraham yang tidak punya dasar dapat percaya, apalagi kita yang memiliki dasar untuk percaya, yakni Allah telah membangkitkan Yesus.

Anak bukan soal banyak/darah daging, Anak adalah soal kwalitas

Sebagai anak-anak Allah, maka kita adalah ahli-ahli waris dari janji-janjiNya. Anak-anak Allah akan mewarisi kehidupan kekal. Inilah yang telah dijanjikan Allah bagi anak-anakNya. Janji Allah itu begitu indahnya, melampaui segala sesuatu yang  ada pada diri kita.

Kesimpulan Paulus menunjuk kepada dua keyakinan yang telah dikatakan sebelumnya, yaitu bahwa pengampunan dan pembenaran diberikan dengan cuma-cuma sebagai karunia dari anugerah Tuhan. Bahwa Abraham diterima oleh Allah dan bahwa ia menerima kepastian tentang keturunan. Ini semua tergantung kepada anugerah Allah  dan hanya diterima oleh iman.

Jika kita merasa menderita di dunia ini maka Allah akan mengubahnya di dalam janjiNya. Dan kalau kita sudah merasa memiliki sesuatu di dunia ini, maka itu tidak sebanding dengan yang akan Allah limpahkan bagi kita. (Roma 8 : 18) : ‘Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.’ Segala yang dialami oleh anak-anak Tuhan, tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang. Inilah janji Allah yang akan diterima oleh anak-anak Allah.

Betapa indahnya pengharapan anak-anak Allah.

Tanpa mengurangi pengharapan akan nilai-nilai dunia ini, Paulus mendorong dan menekankan pentingnya pengharapan yang jauh lebih indah. Pengharapan orang percaya bukan sekedar keamanan dan hal dunia ini saja, tetapi pengharapan yang melampaui akal dan pikiran manusia, yang belum dilihat, yaitu pengharapan batin manusia, yaitu tanah air sorgawi. AMIN

 

15 Februari 2021

Kejadian 9:8-17 NUH

                JANJI DAN KUASA ALLAH

 Kisah air bah memberikan banyak perenungan kepada umat manusia. Pertama, mengingatkan manusia bahwa air bah terjadi akibat dosa-dosanya. Begitu buruknya dosa manusia. Terjadi bunuh membunuh ....dst. Kedua, peristiwa air bah juga menunjukkan keadilan dan kemurahan hati Allah. Allah memusnahkan bumi yang dipenuhi dosa, dan Allah di dalam belas kasihNya membaharui dunia ini. Dalam kebaharuan itu, Allah akan memberi keselamatan bagi manusia dan kebaikan atas dunia. Allah memilih Nuh dan  keluarganya, untuk mewujudnyatakan keselamatan itu. Ketiga, Allah mengikatkan diriNya pada suatu perjanjian, bahwa Allah tidak lagi akan mendatangkan air bah.

Keluarga Nuh mengalami ‘peristiwa mengerikan’. Betapa traumanya Nuh beserta keluarganya saat menjalani hidup baru di bumi yang baru saja dilanda air bah.

- Ketika hujan turun, mereka cemas ; bagaimana kalau hujan ini tidak berhenti ?

- Ketika mendengar suara Guntur, mereka akan ketakutan ; apakah air bah akan datang lagi?

Rasa trauma itu sangat mengganggu hidup dan pikiran mereka. Keluarga Nuh membutuhkan jaminan. Setelah tsunami Aceh banyak orang trauma, terlebih orang-orang yang tinggal di pinggir pantai. Mereka bukan hanya gemetar atas gempa yang telah berlalu, tetapi segera was-was dengan datangnya Tsunami.

(Saya teringat dengan gempa di Yogya. Saat hati masyarakat masih gemetaran akibat gempa, satu jam kemudian ada berita bahwa tsunami datang. Semuanya kalut).

Allah mengerti dengan kondisi keluarga Nuh, maka Allah membuat perjanjian dengan Nuh, bahwa Allah tidak akan memusnahkan bumi ini lagi dengan air bah. Allah tidak lagi membinasakan  manusia tetapi mengikutsertakannya sebagai mitra-Nya dalam janji keselamatan.

Untuk meyakinkan mereka, Allah membuat ‘tanda’ untuk menguatkan janjiNya.

Pada ay. 12-13, Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi”. Tanda perjanjian keselamatan Allah yang penuh anugerah dinyatakan melalui simbol busur.

Busur – pelangi = qeset (ibrani)

Pemahaman orang Yahudi dahulu kala, bahwa Allah menghukum segera setiap umat yang berdosa. Allah menghukum setiap orang yang berdosa dengan busur yang dilengkapi dengan anak panah. Busur dipakai oleh Allah untuk memanah setiap umat yang berdosa, sehingga mereka binasa. Karena dosa sudah merajalela, Allah mendatangkan air bah, untuk membersihkan bumi dari perbuatan dosa. 

Selanjutnya, Allah memutuskan untuk membaharui bumi. Allah menandai keputusannya dengan menaruh busurnya di awan, dalam wujud pelangi. Oleh sebab itu, Pelangi itu bermakna ‘tumbuhnya pengharapan dan keselamatan yang baru’. (saya ingat ; jangan menunjuk pelangi).

Busur Allah yang pernah membinasakan kehidupan umat kini berubah fungsi menjadi busur Penebus dan Penyelamat bagi umat yang berdosa. Allah mengubah busur dari senjata menghukum menjadi pengingat untuk  menjaga dan melindungi manusia. Dengan pelangi itu, juga mengingatkan manusia agar mengingat kasih karunia Allah.

Dalam suasana kasih karunia itulah, umat diberi pengharapan dan kesempatan untuk bertobat. Sehingga umat dapat menjaga diri dari dorongan dan daya tarik dunia seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang pada zaman Nuh.

Allah telah berjanji bahwa tidak lagi akan menghukum bumi ini dengan ‘air bah’. Allah telah memenuhi janji-Nya itu selama lebih dari 4.000 tahun. Sebagai umat Tuhan, kita percaya akan janji Allah itu.

Namun demikian kita harus meresponi janji Allah itu dengan sikap yang bijak, yaitu tidak lagi mengulangi dosa-dosa, perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan, tetapi kita turut serta menjaga dan memelihara bumi ini. 

 

Dalam praktek hidup sehari-hari, betapa sering kita melupakan dan mengabaikan perjanjian keselamatan Allah itu. Hal itu ditandai dengan sikap perjalanan hidup  manusia, yang tidak  menghayati hidup sebagai suatu ziarah iman. Tetapi menjadikan hidup sebagai rangkaian panjang petualangan akan dosa. Padahal relasi khusus yang diikat oleh Allah dalam perjanjian-Nya bertujuan agar kehidupan kita dapat menjadi suatu ziarah iman di mana kita selalu haus kebenaran-Nya. Ketika rasa haus kita tidak lagi terarah kepada kebenaran Allah, maka akan berubah menjadi rasa haus akan kenikmatan dunia ini. Sementara, kenikmatan dunia tidak akan memuaskan jiwa kita.

Namun, jika kita telah berada pada kenikmatan dunia itu, kita perlu bersikap seperti pemazmur (25 : 4 – 5) : “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari”.

Tuhan Yesus, Pelangi Bagi Orang Percaya

Air, api, gempa bumi, angin badai ;  bisa saja memusnahkan mahluk di bumi ini. Namun ada satu jaminan bagi setiap orang percaya, dimana mereka tidak akan binasa oleh sesuatu apapun. Dalam Yoh. 3:16 dikatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Tuhan Yesus Kristus menjadi tanda pelangi bagi setiap orang percaya. Mari kita merendahkan hati di hadapan Tuhan, dengan mendengar ajaranNya, percaya akan firmanNya, dan melakukan perintahNya. Dengan demikianlah kita menikmati janji Allah, yang penuh dengan keselamatan, dimana hidup kekal akan menghampiri kita. AMIN

4 Februari 2021

Yesaya 40:27-31 Minggu, 7 Pebruari 2021

ALLAH KEKUATAN KITA

 

Kitab Yesaya dibagi dalam dua tema besar, pada bagian pertama berbicara tentang hukuman Allah karena dosa (Pasal 1-39), dan pada bagian kedua tentang keselamatan yang dijanjikan (pasal 40-66).

Nas Yesaya 40:27-31 ini merupakan bagian kedua, dimana umat Tuhan sedang berada di pembuangan Babel. Di pembuangan ini, mereka menganggap ditinggalkan oleh Tuhan. Mereka merasa lesu. Seolah-olah Tuhan tidak sanggup menolong mereka. Keadaan ini membuat bangsa ini merasa putus asa dan tidak punya pengharapan lagi.

Di tengah-tengah perasaan seperti itulah, Yesaya mengingatkan agar umat tidak putus asa sekalipun penderitaan melilit kehidupan mereka. Tuhan akan datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya yang berkuasa.

Yesaya menguatkan Israel, bahwa mereka adalah umat yang dikasihi Allah. Yesaya mau menumbuhkan semangat bangsa Israel supaya tidak berputus asa.

Karena bangsa ini dikasihi maka Tuhan akan memberikan kekuatan yang luar biasa kepada umat-Nya. Allah sumber kekuatan yang telah menciptakan langit dan bumi. Tuhan akan memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada umat yang tidak berdaya.

Orang yang mendapat kekuatan dari Tuhan akan seperti burung rajawali. Burung rajawali memang burung yang dapat melintasi benua, tidak dapat dikalahkan oleh badai. Berjalan…. Terbang tidak mengenal lelah demikianlah orang yang menanti-nantikan Tuhan.

Umat yang berada pada saat itu di pembuangan (Babel) akan dibebaskan Tuhan. Allah akan memberikan keselamatan bagi umatNya. Keselamatan itu diberikan karena anugerah melalui kuasa Allah sang penebus.

Sekalipun pembuangan yang menyakitkan bagi umat Tuhan, namun bagi Tuhan pembuangan bukanlah hukuman yang kekal melainkan suatu pembinaan (pendidikan). Dengan pengalaman sebagai umat yang terbuang, maka mereka akan mengerti akan maksud Tuhan bagi kehidupan mereka sebagai umat pilihan. Itu sebabnya, sekalipun mereka telah mengalami pembuangan tetapi Tuhan tidak pernah melupakan mereka. Tuhan selalu mengingat umatNya’

 

Dalam menjalani kehidupan ini, kita seringkali menghadapi tantangan dan pergumulan hidup. Tantangan hidup itu bukan karena Tuhan melupakan kita. Tuhan akan selalu menyertai kita. Hanya saja kita perlu melihat makna dari sebuah pergumulan (salib) yang kita pikul. Tuhan sesungguhnya sedang menjadikan kita baru dan berharga dimataNya. Tuhan penuh Kasih, sebab Dia tidak akan pernah melupakan kita, bahkan  Ia telah mengampuni segala dosa pelanggaran serta menebus hidup kita.

Tuhan Yesus telah menebus kita dengan kasih setiaNya. Kita telah dianugerahi keselamatan. Oleh karena itu, dengarlah seruanNya dan hiduplah dengan segala perintahNya. Di dalam Tuhan selalu ada pengharapan baru. Bahkan ketika kita telah berdosa dan dihukum oleh Tuhan, janganlah berputus asa karena Ia adalah Allah yang telah membentuk kita menjadi umat-Nya, dan Ia adalah Penebus kita dan yang akan tetap setia untuk menolong kita. Karena itu, percayakanlah hidupmu senantiasa kepada penyertaan Tuhan.

Dalam kehidupan dunia sekarang ini, manusia seperti dipacu untuk mengejar segala sesuatu. Semestinya manusia sadar, bahwa ia tidak akan pernah memperoleh segala yang ada di dunia ini. Jika manusia menguras energy dan waktu serta perasaan untuk menguasai semuanya, maka manusia itu mendatangkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Dan itu adalah dosa. Dosa itu membuat kita menderita.

Ketika manghadapi cobaan dan penderitaan, janganlah mata kita 100% tertuju kepada masalah itu, tetapi pandanglah kepada Tuhan yang jauh lebih besar dan berkuasa atas masalah yang kita hadapi. Paulus berkata (2 Korintus 12 : 9) : "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Orang yang berharap kepada Tuhan akan dijanjikan :

a.    Kekuatan Allah menyegarkan kita ditengah-tengah kelelahan dan kelemahan, penderitaan dan pencobaan

b.    Kita dimampukan menghadapi persoalan hidup ini, bagai rajawali yang mampu menaklukkan badai, tidak mengenal lelah dan putus asa (Filipi 4:13)

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (I Pet 5:7) andalkan lah Tuhan dalam menghadapi segala permasalah hidup, karena terlalu kecil bagi kita untuk memikirkan semua persoalan hidup ini, terlalu kecil mata kita untuk melihat solusi problem yang kita hadapi. Tapi dengan memandang Tuhan, kita diberi semangat baru menghadapi semua pergumulan hidup ini.

Saat-saat sekarang ini, banyak sekali orang merasa lelah, hilang harapan atas kehidupan ini, terutama disebabkan covid19.  Banyak sekali orang merasa putus asa dan kecewa secara berlebihan dan berlarut-larut. Keadaan ini justru melemahkan diri sendiri. Ada baiknya kita move on. Kita menerima situasi ini dengan tetap penuh kehati-hatian, yaitu mengikuti protokol kesehatan.

Kita tidak berdiam diri dan menunggu berakhir covid ini. Tetapi kita tetap beraktifitas menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat dan sukacita. AMIN.