Tampilkan postingan dengan label Pastoralia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pastoralia. Tampilkan semua postingan

21 Februari 2012

Hadir Untuk Turut Menderita


Saat menonton salah satu tayangan TV swasta kita “Jika aku Menjadi”, ada banyak hikmah yang didapat dari sana. Obyek acara itu adalah orang-orang ‘kecil’ yang kehidupan sehari-harinya dipenuhi pergumulan. Subyeknya adalah mereka yang terbiasa hidup dengan fasilitas lengkap. Selalu ada airmata dalam setiap acaranya, airmata dari subyek yang tertumpah setelah sungguh-sungguh merasakan derita si obyek.

Dalam beberapa kali menghadiri suatu peristiwa kemalangan, saya perhatikan orang-orang yang hadir berusaha untuk menghibur,  namun yang terjadi justru makin menambah beban orang yang kemalangan itu. Dengan banyaknya ucapan-ucapan belasungkawa dan kata-kata yang dimaksud untuk menghibur mereka menganggap akan cukup menolong. Padahal, tidak satu pun ucapan dan kata-kata itu yang masuk ke hati orang yang kemalangan itu. Bahkan tidak jarang, justru kata-kata itu menyakitkan perasaan mereka yang kemalangan, “Yah… ini adalah pertanda dari Tuhan, supaya kalian rajin ke gereja!”  Saya rasa, orang yang kemalangan akan tersinggung dengan kata-kata itu. Benar bahwa mereka termasuk orang yang jarang ke gereja, namun apakah harus diumumkan di depan umum? Pada saat kemalangan seperti ini?