6 Februari 2014

Matius 5:13-20 (Khotbah, 9 Pebruari 2014)


        MENJADI GARAM DAN TERANG DUNIA (Matius 5:13-20)

Matius 5 – 7 disebut sebagai Khotbah Yesus di Bukit, yang didengar oleh orang banyak. Yesus membuka khotbahNya dengan ucapan-ucapan berbahagia. Yesus menguatkan para pengikutNya, bahwa setiap orang dapat memperoleh kebahagiaan. Di dalam khotbah di Bukit ini kita menemukan nilai-nilai Kristiani, standar etika, dan ketakwaan religious. Khotbah ini mengajarkan, bagaimana sikap anak-anak Tuhan menghadapi gaya hidup manusia yang terus berkembang.
Yesus dalam Matius 5:13-20 yang merupakan cuplikan dari Khotbah di Bukit menyebutkan bahwa para pengikutNya adalah ‘garam dan terang dunia’. Garam sangat bermanfaat untuk memberi cita rasa bagi makanan dan sebagai bahan pengawet dari pembusukan. Tanpa garam, makanan memang menjadi hambar. Garam akan bermanfaat apabila garam itu meresap pada makanan yang digarami. Garam itu melebur hancur, tetapi keberadaannya sangat berpengaruh. Garam memberikan pengaruh baik untuk yang digarami, tetapi garam itu sendiri menjadi tidak tampak. 

Ungkapan Yesus yang mengatakan ; ‘Kamu adalah garam dunia’ berarti kehadiran pengikut Yesus haruslah memberi pengaruh yang baik bagi dunia. Pengikut Yesus menggarami dunia agar tidak terjadi pembusukan oleh kelompok-kelompok jahat. Yesus mengajar para pengikutnya agar senantiasa berbuat baik bagi orang lain, sebagaimana garam ‘membantu’ makanan menjadi lezat dan awet. Perbuatan yang baik dan bermanfaat tidak akan hilang begitu saja. Setiap orang yang memberi pengaruh baik akan dapat dirasakan orang-orang sekitarnya. Perbuatan yang baik itu akan menjadi terang bagi banyak orang untuk meneladaninya. Dengan pengaruh itu maka dunia akan bergerak ke arah yang lebih baik.
Yesus menyadari agar dapat menjadi garam dan terang memerlukan pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap hukum Taurat.  Matius 5:17 menyebutkan bahwa Yesus tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Kata ‘menggenapi’ tidak berarti bahwa dengan kedatangan  Yesus nubuat-nubuat Perjanjian lama telah genap atau bahwa Yesus melengkapi hukum Taurat. Yang dimaksud ialah bahwa dengan penuh kuasa, Yesus menjelaskan arti dan makna hukum Taurat sebagaimana dimaksudkan oleh Allah. Hukum Taurat memang tidak menyelamatkan tetapi harus tetap dipelihara sebagai pagar yang mengatur hidup keagamaan. Dengan penjelasan Yesus itu maka orang Kristen tidak bebas dari pelaksanaan hukum Taurat, melainkan perlu lebih memahami sehingga tercapai tujuan dari makdsud hukum Taurat itu.   
Yesus perlu memberi ketegasan tentang hukum Taurat ini karena telah terjadi perdebatan-perdebatan di antara para pengikut Yesus. Ada yang mengatakan bahwa hukum Taurat itu usang, sehingga tidak berlaku lagi. Selain itu ngotot mengatakan masih berlaku tetapi memberikan tafsiran yang salah. Orang-orang Farisi melakukan kewajiban keagamaan tetapi penuh kemunafikan. Dalam menyembah dan membawa persembahan kepada Tuhan haruslah berlaku setia dan jujur. Bukan hanya sewaktu-waktu dan bukan untuk dilihat orang. Matius 6:1-6 mengatakan : ‘Ingatlah, jika kamu melakukan kewajiban agamamu, jika engkau memberi sedekah, apabila kamu berdoa, janganlah kamu melakukannya supaya dilihat oleh mereka; janganlah kamu mengharapkan upah dari manusia ! Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya ! Itulah kemunafikan orang-orang Farisi.
Justru dengan hukum Taurat itu menjadi penuntun bagi umat Tuhan untuk melaksanakan kewajiban keagamaan (20). Pengikut Tuhan Yesus haruslah membuang kemunafikan tetapi hendaklah memiliki ‘kebenaran yang lebih benar’.   Kebenaran yang lebih benar berarti pengikut Yesus tidak sekedar melaksanakan hukum Taurat, melainkan selalu mempraktekkan hukum kasih, sekalipun tidak disaksikan orang lain. Demikianlah pengikut Yesus melaksanakan kewajiban agama dengan benar sesuai dengan kehendak Allah. Ritual keagamaan harus benar dalam penghayatan, sehingga prakteknya menghasilkan buah yang dapat dirasakan dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, pengikut Tuhan menjadi garam dan terang. Lagi pula, keutamaan menjadi garam dan terang bukan untuk manusia tetapi bagi kemuliaan Tuhan.

Dalam perkembangan zaman ini segala sesuatunya tampak makin terbuka ; kejahatan dan kebaikan begitu tampak nyata. Dalam alam keterbukaan ini diberikan kebebasan kepada setiap orang. Manusia tidak lagi takut menyuarakan kebenaran, keadilan, penegakan hak azasi manusia. Pada awalnya tidak sedikit manusia kehilangan nyawa untuk memperjuangkan kebenaran, kita sebut saja Munir. Perjuangan itu berlangsung dalam proses panjang. Nelson Mandela menghabiskan sebahagian besar masa hidupnya untuk memperjuangkan keadilan, bahkan harus mendekam dalam penjara selama 27 tahun. Mungkin, baik Nelson Mandela atau Munir dan pejuang lainnya, kelak akan dilupakan orang. Namun, kebaikan yang telah dilakukan akan terus diperjuangkan sampai setiap orang sungguh-sungguh menikmati keadilan dan perdamaian dunia. Mereka telah menjadi garam dan terang dunia.
Bagaimanakah orang Kristen dalam praktek kehidupan nyata ? Tidak sedikit orang Kristen melakukan tiga hal ; (a) tidak memperlihatkan dirinya sebagai Kristen, (b) memperlihatkan dirinya sebagai orang Kristen melalui asesoris belaka, (c) mempertontonkan kekristenannya secara vulgar, yang malah menjadi sandungan.
Tuhan Yesus menyebut kita adalah garam dunia. Garam memberi pengaruh yang baik bagi makanan, sekalipun ia menjadi tidak tampak. Yang aneh, banyak orang yang berkata atau berbuat tetapi yang menonjol adalah dirinya. Segala yang ia lakukan tidak memberi arti bagi sekitarnya. Sebab, yang menjadi perhatian orang adalah penonjolan dirinya. Kalaupun kehadirannya memberi pengaruh tetapi pengaruh buruk. Ia tidak menjadi garam.
Sebagai garam dunia, kita hendaknya memberi pengaruh yang baik bagi dunia sekitar kita ; entah di keluarga, gereja, dan masyarakat. Sekalipun kita tidak diingat orang tetapi jika perbuatan baik itu menjadi teladan bagi banyak orang, maka kita telah menjadi garam dan terang dunia. Kebaikan orang-orang percaya akan memberi pengaruh bagi banyak orang untuk memuliakan Bapa yang di sorga. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar