8 Maret 2019

Amsal 4:18-21 HIDUP DALAM TERANG FT



       HIDUP DALAM TERANG FIRMAN TUHAN

Sadar atau tidak, manusia terus menerus dirayu oleh dunia ini. Manusia pun mengikuti arus dunia ini tanpa hikmat. Manusia tak enggan menghabiskan energy, waktu, hati dan pikirannya untuk dunia ini. Akibatnya, seringkali jiwa manusia mengalami kekeringan. Dalam kondisi jiwa yang kering itu, manusia menjadi hidup di luar yang seharusnya.  Jiwa yang kering itu ditandai dengan penuh ketakutan, keraguraguan, dan ketidakpastian. Hidup seperti meraba-raba di antara bayang-bayang tanpa pegangan. Keadaan seperti itu membuat manusia gelisah menjalani hidup ini, dan penuh keanehan.

Melalui firman Tuhan hari ini, kita disuguhkan jalan yang mestinya kita tempuh dalam hidup ini, agar kita beroleh kebahagiaan. Membaca kitab Amsal maka kita diingatkan oleh kata ‘hikmat’, yang berisi nasehat-nasehat praktis. Manusia seringkali keliru dalam memahami hidup ini. Karena itu, Salomo memberikan nasehat melalui kitab Amsal ini, yang bersumber dari Allah.
Dalam nas ini digambarkan adanya dua jalan : orang benar dan jalan prang fasik.
ORANG BENAR
‘Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar (18), yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.’ Orang benar dicirikan dengan orang yang berjalan di tempat yang terang. Ia mengetahui ke arah mana ia harus melangkah. Ia melangkah dengan mantap di tempat yang makin bercahaya.
Orang benar dalam terang firman Tuhan. Ia menghidupi dirinya dengan merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Orang yang hidup di dalam terang Firman Tuhan akan dimampukan menghadapi tantangan hidup ini. Ia memiliki ketahanan terhadap ujian atau pergumulan. Ia tidak goyah dengan arus dunia yang berubah-ubah. Ia sungguh-sungguh memiliki karakter sebagai anak Tuhan.
ORANG FASIK  
Sementara, jalan orang fasik seperti dikegelapan (19). Kalau orang dalam berjalan dalam gelap tentu saja dapat tersandung dan terjatuh oleh hal yang tak diketahui. Ciri-ciri orang fasik : (a) Karena orang fasik memuji-muji keinginan hatinya, dan orang yang loba mengutuki dan menista TUHAN (Mazmur  10:3), (b) ‘Orang-orang fasik berjalan ke mana-mana, sementara kebusukan muncul di antara anak-anak manusia’ (Mazmur  12:9 ).
Orang fasik ini disebutkan ‘Seperti sekam yang ditiup angin’ (Mazmur 1:14). Hidupnya adalah kosong. Kekosongan yang dialami orang fasik membuat dirinya tidak mempunyai daya tahan dalam ujian hidup.
Bagaimanakah supaya kita dapat menjadi orang yang benar ?
Hati adalah pusat kehidupan. Hati menggerakkan semua sisi hidup ini, yang menghasilkan tindakan nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Apapun yang tejadi dalam hidup kita (perbuatan dan tingkah laku), semuanya berasal dan dilandasi oleh keputusan hati. Tidak mungkin seseorang melakukan perbuatan tertentu, jika tidak didorong oleh hatinya.
Dalam Amsal 4 : 23 ini, memberikan catatan yang penting untuk kita perhatikan, yaitu menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Ini adalah nasehat dengan tujuan agar memiliki hati yang benar. Hati akan mengedepankan simpati dan empati. Jika hati kita benar, maka kata dan pikiran kita pun juga akan benar. Karena apa yang ada di dalam hati seseorang, itu juga yang ada dalam tindakannya. Kita perlu menjaga hati dengan : mengisi hidup oleh Firman Tuhan, merenungkan sesuatu sebelum bertindak, membuang sifat egois, menjauhi segala bentuk kejahatan. Dengan menjaga hati pula, maka orang akan berbicara dengan baik (4:24) : ‘Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu’.

Kita hidup bersama dengan berbagai macam watak dan pemikiran manusia. Banyak hal yang dapat menggoda atau mempengaruhi pikiran manusia. Oleh karena itu, kita jangan mudah tertiup oleh pengajaran lain, yang kelihatan menarik, tetapi ketika berhadapan dengan suatu pergumulan langsung menjadi layu. Kita hidup dari air kehidupan yang bersumber dari Yesus.
Dunia memang menuntut kecepatan dalam segala sesuatu. Tetapi dalam tuntutan zaman ini kita tetap berada di dalam kebenaran, tidak melakukan dusta sekedar menyenangkan orang lain. Itu sangat berbahaya. Tetapi marilah kita senantiasa melihat kehendak Allah berlangsung di dalam kehidupan ini. Tindakan itu akan membuat orang merasakan kesejukan, ketenangan batin, dan menikmati damai sejahtera.
Melalui Amsal ini diingatkan, agar dalam menjalankan seluruh hidup aktifitas, kita senantiasa merenungkan akan firman Tuhan. Firman Tuhan harus menjadi santapan rohani kita. Kehidupan orang beriman, yang hidup dalam firman Tuhan tidak akan pernah merasa lelah dan putus asa. Yesus berkata (Lukas 11:28) ‘Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya’. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar