5 Maret 2013

Lukas 15:11-32 (Khotbah, 10 Maret 2013)


SUKACITA ATAS KEMBALINYA ORANG BERDOSA

Orangtua yang memiliki harta, wajar dan lazim mewariskan kepada anak-anaknya. Namun, kapan dibagi dan bagaimana membagi, itu satu masalah lain. Di zaman dahulu apalagi sekarang, harta warisan dapat dibicarakan ketika si orangtua masih hidup, tetapi pembagiannya baru dilaksanakan setelah meninggal dunia. Dalam perumpamaan ini, si anak digambarkan sebagai orang yang tidak sabaran. Ia meminta warisan dengan memaksa bapanya. Si bapa memenuhi permintaan anaknya. Lalu anak pergi ke tempat yang jauh, dan ia memfoyafoyakan seluruh harta miliknya sampai habis, sehingga ia tidak lagi memiliki bekal. Ia jatuh ke dalam pencobaan. 

Di saat penderitaan itu, si anak pun  tersadar dan berucap (17) : „Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan“. Lalu, dalam segala penyesalan ia mengambil keputusan (18) : „Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa“. Dengan segala penyesalan dan keputusan, si anak kembali kepada bapanya.
Kembalinya si anak itu disambut bapanya dengan belas kasihan. Bapanya mendapatkan dia, merangkul dan menciumnya. Sang bapa sungguh-sungguh menunjukkan kerinduan yang telah lama dinantikan, mengharapkan si bungsu kembali. Si bungsu yang menyesali perbuatannya disambut sang bapa  dengan memakaikan jubah sebagai tanda kehormatan layaknya tamu agung. Mengenakan cincin sebagai tanda kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang diberikan. Mengenakan sepatu sebagai tanda bahwa ia adalah orang merdeka. Si bapa melihat si bungsu waktu berangkat adalah tindakan kematian, tetapi tindakan kembali kepada bapa adalah tindakan kehidupan.
Sikap bapa yang ditampakkan dalam perumpamaan ini bukan sikap yang biasa, tetapi sikap bapa yang luar biasa. Sikap ini hanya ada pada Allah bapa yang selalu menginginkan manusia yang berdosa kembali dan bertobat dari dosa-dosanya. Bapa di sini adalah Allah yang mengasihi manusia sebagaimana ia ada. Bapa adalah bapa yang menghidupkan, memelihara dan selalu mengharapkan kembalinya orang berdosa.
Firman Tuhan ini merupakan satu perumpamaan tentang kasih Allah bagi manusia. Allah memberi kebebasan bagi manusia, tetapi manusia seringkali menyalahgunakan yang Allah berikan. Manusia tidak kuasa mengendalikan diri. Keinginan bebas manusia tidak terkendali. Bahkan ajaran firman Allah dianggap sebagai penghambat terhadap yang diinginkan. Manusia jatuh ke dalam dosa.
Dosa yang digambarkan oleh ‘anak yang hilang’ ini lebih dalam dari sekedar kesalahan atau pelanggaran moral. Dosa adalah dimana manusia tidak merasa senang dengan Allah Bapa, dan aspek ‘aku’nya menjadi pusat kehidupan, yang melahirkan perpisahan dengan Allah.
Demikianlah akan keberdosaan manusia. Manusia jatuh ke dalam berbagai kejahatan tanpa memperdulikan norma-norma Kristiani. Manusia memerankan dirinya sebagai yang licik dan tamak. Bukan saja cara memperoleh yang tidak lagi memperhatikan norma-norma Kristiani, tetapi juga tidak menggunakan miliknya, sebagaimana layaknya yang dikehendaki Tuhan.
Manusia seringkali memang tergoda oleh dunia ini, akibatnya ia jatuh ke dalam pencobaan, ia menderita. Tetapi firman Tuhan berkata, pencobaan yang engkau alami adalah pencobaan biasa. Manusia bisa berada di dalam pencobaan itu terus-menerus, tetapi sesungguhnya ada jalan keluar. Ini yang disadari oleh anak bungsu yang telah jatuh ke dalam pencobaan itu, ia tersadar akan segala kesalahannya. Dalam kesadarannya dan keberanian rohaninya itu, ia mengaku akan dosa-dosanya. Ia menghampiri bapanya.
Manusia perlu merenung tentang kehidupan ini. Sudah seberapa jauh kita melangkah dari kehendak Allah ? Bukankah kita hanyut dalam rayuan dunia, yang membuat diri kita jauh dari kehendak Allah ? Manusia perlu menyadari keberdosaannya. Dan bila kita sudah menyadarinya, maka kita perlu mengambil keputusan yang tepat, sekalipun keputusan itu tidak populer, yaitu bertobat. Tetapi pertobatan akan mengangkat harkat manusia dihadapan Allah. 
Allah berkenan menerima dan mengampuni. Allah tidak akan bertanya seberapa besar dosa yang telah kita lakukan, tetapi Allah tersenyum dengan penuh sukacita menyambut setiap orang yang datang kepadaNya. Allah mau mengangkat kita kepada kedudukan yang terhormat, dimana kita memperoleh sukacita dan damai sejahtera. Pintu kerajaan sorga terbuka bagi setiap orang yang mengakui dosadosanya.
Betapa besar kasih Allah bagi umatNya. Kasih Allah Bapa tidak melepaskan atau menolak manusia berdosa. Allah dalam kasihNya akan menerima manusia sebagaimana adanya, tanpa memperhitungkan kemampuan moral seseorang. Secara dogmatis, ‘manusia dibenarkan bukan karena perbuatan atau amal baiknya (Roma 11:6). Pembenaran terjadi di luar perbuatan kita.
Kasih Allah Bapa dalam Yesus Kristus membuka kesempatan kepada semua manusia dalam segala kondisi kerusakannya. Allah mengangkat manusia yang rusak dan berdosa itu sebagai anakNya. Kedatangan Yesus adalah untuk menyembuhkan yang sakit, mengampuni orang berdosa. Kasih Allah Bapa melupakan seluruh kelemahan dan dosa-dosa kita, tetapi Dia membangkitkan serta membangun kita kembali menjadi manusia yang dikasihiNya.
Saat ini banyak anggota gereja yang berada di luar gereja (persekutuan) kita dengan berbagai alasan/argumen. Gereja harus menjadi tempat menerima orang-orang yang berdosa. Gereja perlu membangun persekutuan yang indah, sehingga setiap orang yang datang beribadah menikmati perjumpaan dengan Allah dengan penuh sukacita. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar