11 Juli 2013

Yohanes 15:9-17 (Khotbah Minggu, 21 Juli 2013)



AKAR SALING MENGASIHI

Kata kasih sudah begitu melekat dalam kehidupan Kristiani, bahkan seperti sudah milik Kristen. Kasih itu memang layak menjadi milik Kristen jika kasih yang dilakukan orang Kristen itu berakar pada kasih Kristus. 

Kasih Kristus sendiri bersumber dari hubungan kasih Allah dengan AnakNya, Yesus Kristus. Yesus tinggal di dalam Bapa dan Bapa di dalam Yesus. Hubungan antara Bapa dengan Anak, dimana AnakNya, Yesus Kristus tinggal di dalam Bapa, maka mengalirlah kasih Bapa kepada AnakNya. Hubungan kasih yang demikian itulah Allah berkenan mengutus Yesus ke dalam dunia. Dalam pengutusannya, Yesus membagi kasih dengan Ia menderita, dan taat sampai mati. Kesetiaan Anak, yang menerima kasih dari Allah Bapa  itulah yang kemudian memberikan keselamatan bagi umat manusia. (Yohanes 14:10 b) : ‘Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.’ Yesus tampil sebagai manusia tetapi Ia berkarya berdasarkan kuasa Allah yang mengutusnya.
Demikian juga Yesus berkata kepada murid-muridNya, supaya mereka tinggal di dalam kasih Kristus. Tinggal di dalam Kristus berarti senantiasa melakukan kontak denganNya dan para murid menjadi penerima kasih Yesus. Hubungan murid dengan Kristus harus senantiasa dipelihara agar kasih yang dari Yesus senantiasa mengalir dalam kehidupan para murid. Dengan memelihara hubungan secara terus-menerus dengan Kristus, maka para murid dimampukan mengalahkan kelemahan manusia duniawinya. Tinggal di dalam Kristus juga akan memampukan para murid memperoleh sukacita. Sekalipun para murid tampaknya menderita tetapi mereka akan mengalami sukacita yang sempurna. Mengapa ? Karena kuasa Kristuslah yang sesungguhnya bekerja di dalam dirinya. Itu sebabnya, ketika Paulus di penjara karena kebenaran Injil, tetapi dari dalam kurungan ia mampu menyerukan sukacita (Filipi 4:4), ‘Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan.’  Itulah orang yang tinggal di dalam kasih Kristus. Dengan hidup di dalam Kristus, maka tindakan atau perbuatan para murid bukan lagi berdasarkan kuasa dirinya sendiri melainkan Kristus yang bertindak.
Selanjutnya, hanya dengan tinggal di dalam Kristuslah maka para murid dimampukan perintah Yesus. Perintah Yesus adalah supaya saling mengasihi. Perintah untuk saling mengasihi ini, pertama-tama untuk kedua belas muridnya, tetapi juga mengasihi orang lain, termasuk mengasihi musuh (Matius  5:44) ‘Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.’
Perintah Tuhan di dalam kehidupan manusia adalah untuk saling mengasihi, seperti Yesus mengasihi murid. Kasih Yesus kepada murid-muridnya bukanlah kasih yang pura-pura tetapi kasih yang tulus, kasih kepada seorang sahabat. Kasih yang dilakukan seseorang kepada sahabatnya, maka perbuatannya itu tidak mengikat, tidak mengharapkan balas jasa tetapi murni menolong sahabatnya itu. Sebab, sekalipun seorang sahabat itu tidak berbuat apa-apa, mereka akan tetap bersahabat. Tetapi, seorang sahabat yang baik tidak ragu-ragu untuk memberikan yang termahal dari dirinya, termasuk nyawanya demi sahabatnya. (entahlah kalau lagu ‘Anak Medan). Seseorang yang menyebut dirinya bersahabat tetapi tidak rela memberikan miliknya untuk kebutuhan sahabatnya itu, maka mereka sesungguhnya belum bersahabat. Yesus berkata (ay.14), ‘Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.’ Atau, jika kamu tidak berbuat yang kuperintahkan, maka kamu bukanlah sahabatKu.
Para murid yang telah tinggal di dalam Yesus, maka perbuatan untuk mengasihi bukan lagi pilihan tetapi ketetapan Allah. Artinya, orang yang berbuat kasih itu bukan lagi perintah dari dirinya melainkan perintah Tuhan. Mengasihi akan menjadi karakter dari orang yang tinggal di dalam Kristus.

Seringkali orang berkata sulit untuk melakukan perintah Tuhan. Belajar dari firman Tuhan ini, ketidakmampuan kita untuk mengasihi sesama karena kita tidak tinggal di dalam Tuhan. Kita hendaknya tinggal di dalam Tuhan. Kita tinggal di dalam Tuhan melalui hubungan yang kita lakukan dengan doa atau bersaat teduh. Kita juga dapat membangun hubungan dengan Tuhan melalui perenungan atas segala kehidupan ini. Kita juga boleh berupaya menikmati kebaikan Tuhan atas pengampunan dosa, betapa baiknya Tuhan di dalam kehidupan ini. Kita juga perlu meng-aminkan bahwa Tuhan telah memberikan kasihNya bagi kita. Kita juga perlu menyadari, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Pada akhirnya, semua manusia akan meninggalkan dunia ini dan menghadap Tuhan. Semua itu membuat kita tinggal di dalamnya. Tentu kita tidak boleh lalai melalui Ibadah setiap minggunya dan kebaktian lingkungan disela-sela hari kerja. Semua itu akan membangun relasi yang begitu indah bersama Tuhan. Dengan hubungan yang indah dengan Tuhan maka kita dimampukan melakukan perintahNya, untuk saling mengasihi.
Menjadi renungan juga bagi kita, apakah tindakan yang kita lakukan selama ini sudah kasih yang berakar di dalam Kristus ? Seringkali kita ditengah-tengah kehidupan ini menggugat kebaikan yang pernah kita perbuat. Akibatnya, kebaikan yang pernah ditanam menjadi sia-sia. Kita tidak memperoleh sukacita, dari perbuatan yang pernah kita lakukan.
Yesus telah mengutus kita menjadi dutaNya ke tengah-tengah dunia ini untuk memberlakukan kasihNya. Tindakan kita yang didasari atas kasih dari Kristus akan memampukan kita untuk saling mengasihi. Bukan hanya mengasihi orang yang dekat dengan kita ; suami/isteri, anak-anak, orangtua, tetapi juga orang-orang lain yang memang layak menerima kasih yang kita miliki, bahkan kita juga dituntut untuk mengasihi musuh. Semua itu dapat kita lakukan jika kita senantiasa membangun hubungan dengan Yesus. Saat kita berbagi kasih yang dari Tuhan maka kita akan mengalami sukacita yang penuh. AMIN



Artikel Terkait



1 komentar: