26 Februari 2015

Kejadian 17:1-7 ;15-16 (Epistel)


                     PERJANJIAN ALLAH DENGAN ABRAHAM

Abraham dikenal sebagai ‘bapa orang percaya’. Sebutan itu melekat pada Abraham karena perjalanan hidupnya dipenuhi oleh janji-janji Allah. Ia taat dengan mem-pasrah-kan hidupnya pada janji itu. Ia tidak takut dan hanyut pada godaan dan ancaman dunia.
Perjanjian Allah dengan Abraham ditandai dengan syarat agar Abraham hidup dengan tidak bercela. Dalam hidup yang demikianlah, Allah memenuhi janji-janjiNya kepada Abraham.

Janji Allah adalah Abraham akan memiliki keturunan yang banyak. Keturunan yang banyak itu bukan saja dari segi jumlah tetapi lebih utama lagi berkwalitas. Keturunannya akan menjadi raja-raja di berbagai bangsa.
Yang menarik dari janji ini adalah, perjanjian itu berlangsung pada saat Abraham berusia Sembilan puluh Sembilan tahun, dan saat isterinya Sara sudah pada usia yang tak mungkin lagi mampu melahirkan anak. Tetapi dua puluh empat tahun setelah janji itu, Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dengan suatu berita dan sebuah tuntutan dari Sara.

Janji Allah untuk "menjadi Allahmu" adalah janji terbesar dalam Alkitab. Janji ini merupakan janji pertama yang melandasi semua janji lainnya. Ini juga berarti bahwa kasih karunia, pengampunan, janji-janji, perlindungan, bimbingan, kebaikan, pertolongan, dan berkat diberikan kepada mereka di dalam kasih. Semua orang Kristen mewarisi janji yang sama melalui iman kepada Kristus (Gal 3:15).
Allah juga berjanji bagi setiap orang-orang percaya. Allah menjanjikan kehidupan indah bagi setiap orang yang percaya padaNya. Janji-janji tersebut adalah dasar dari Injil Kristus. Karenanya, sebagaimana Abraham mendapat panggilan dari Allah, begitu juga yang dialami oleh orang-orang Kristen. Janji itu pasti akan terpenuhi asalkan orang-orang percaya taat dan setia kepada Tuhan, yaitu untuk meninggalkan hal-hal yang bersifat sementara dalam hidup ini. Orang percaya senantiasa dituntut untuk hidup dengan setia dalam iman pada Kristus. Kita dapat membayangkan bagaimana Abraham mempertimbangkan janji-janji tersebut selama perjalanannya. “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat  ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tuju’ (Ibr. 11:8). Sebagaimana Janji-janji Allah diberikan pada waktu pertama kali diberikan, demikian juga yang kita alami. Walaupun kita tidak tahu dengan pasti, seperti apakah Kerajaan Allah itu, tapi dengan iman kepada firman Allah, akan membuat kita berhasrat untuk mematuhinya.
Dalam mencapai kehidupan indah yang Kristus janjikan, kita mungkin mungkin menghadapi hal-hal yang menyedihkan. Kita diperhadapkan dengan tantangan, ancaman, derita, cemohan, ejekan oleh dunia ini. Tetapi hal itu memang merupakan konsekuensi dari menerima dan melaksanakan janji-janji Allah. Satu-satunya hal yang tersedia sebagai motivasi dalam menempuh perjalanan sampai terpenuhinya janji tersebut adalah kesetiaan. Kita harus mengingat dan merenungkannya setiap hari untuk mengetahui maksud yang sebenarnya dari janji Allah itu.
Dengan memperlihatkan iman yang sama, dan melakukannya, maka kita akan mendapat kehormatan seperti yang diterima Abraham, yaitu kehidupan abadi dalam Kerajaan Allah. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar