16 Maret 2013

Mazmur 126:1-6 (Khotbah, 17 Maret 2013)


ALLAH MEMULIHKAN ORANG YANG MENDERITA

Dalam suatu Ibadah Syukur, sambutan dari keluarga yang diwakili sang bapak memberitahukan dasar dilaksanakannya acara syukur. Dia bercerita tentang perjalanan hidupnya. Sang bapak begitu keras bekerja sehingga ia mencapai sukses dalam usaha bisnisnya. Ia memang menikmati hasil kerja kerasnya. Namun, suatu waktu usahanya hancur, sampai terlilit hutang. Dalam hitungannya, seandainya seluruh harta yang ada dijual maka tidak cukup untuk membayar hutangnya. Sang bapak menyimpan semua situasi itu, sehingga tidak banyak orang mengetahui. Yang membuatnya sangat sedih, kebangkrutan itu memberi pengaruh bagi keluarga intinya. Isteri dan anak-anaknya yang sudah terbiasa hidup dalam kecukupan, harus ikut menanggung penderitaan (bapak menangis). Sang bapak sungguh-sungguh tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia mempertanyakan, dimana Allah yang adil itu ? Dalam kepasrahan dan penuh tanya tentang Allah, ia tetap menjalankan usahanya. Di dalam kepasrahan itu, sepertinya ada titik kebangkitan. Sang bapak kembali semangat dan senantiasa berdoa yang memang tidak pernah lekang dari hidupnya. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, usaha itu mengalami pertumbuhan sampai dipulihkan seperti semula. (sang bapak kembali mencucurkan air mata). Mengakhiri kisahnya sang bapak berkata, apa yang terjadi baginya semua di luar teori-teori bisnis. Sang bapak mengakui ada kuasa yang mengendalikan. Dan penguasa itu adil. Itulah Tuhan. Kini, tengah-tengah kesibukan bisnisnya, ia juga mempersembahkan hidupnya menjadi pelayan di gereja. Allah itu adil.
Mazmur 126 ini merupakan kesaksian umat atas perbuatan Tuhan bagi kehidupan mereka pada masa lalu. Mereka telah menjadi tawanan dari satu bangsa yang kuat. Mereka mengalami banyak tekanan dan penderitaan, tidak memiliki kebebasan untuk menyembah Tuhan. Hebatnya kekuatan bangsa yang menindas, membuat mereka merasa tidak mungkin lagi terbebas. Perjalanan waktu boleh mengubah segala sesuatu. Umat Tuhan terbebas dari bangsa kuat yang menindas. Umat Tuhan boleh kembali ke negerinya. Namun, mereka seperti tidak percaya akan situasi itu. Peristiwa yang terjadi bagaikan mimpi, sehingga mereka tertawa, mentertawai diri sendiri. Mereka mencoba meyakinkan diri akan kelepasan ini dengan bersorak-sorai. Sikap umat Tuhan yang penuh sorak-sorai itu membuat orang lain berkomentar, : "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Akhirnya mereka sadar, takjub, heran, tercengang, dan kagum. Mereka percaya, Tuhan yang adil itu telah memulihkan mereka.
Aneh tapi nyata. Itulah yang dirasakan umat Tuhan. Tuhan memulihkan, mengembalikan umatNya pada yang semula. Tuhan memulihkan umatNya, berarti : Tuhan mengembalikan umatnya dari pembuangan ke negeri mereka di Sion, Tuhan mengembalikan umatnya dari tawanan menjadi bangsa yang merdeka, Tuhan mengembalikan umatNya dari penindas nan penuh derita menjadi kelegaan. Umat menjadi sadar, bahwa peristiwa aneh tapi nyata ini merupakan tindakan Tuhan. Tuhan melakukan pemulihan bukan melalui kekuatan umat untuk membebaskan diri, tetapi melalui raja lain yang membebaskan mereka. Ini adalah pekerjaan Tuhan yang bisa membuat kemustahilan menjadi keniscayaan. Ketidakpastian menjadi kepastian. Penderitaan menjadi kebahagiaan. Tuhan memulihkan mereka kembali sebagai umat pilihanNya. Kesadaran atas perbuatan Tuhan ini membuat mereka mencucurkan air mata tetapi air mata sukacita.
Bagi Pemazmur, Tuhan itu adil. Tuhan memberi keadilan bagi manusia. Tuhan memberi keadilan bagi umatNya. Karena keadilan Tuhan itu pula, maka pemazmur mengajak umat Tuhan untuk senantiasa melakukan segala perintah Tuhan. Perintah Tuhan itu terkadang sulit tapi Tuhan akan memberkati melebihi kesulitan yang melakukannya. Pemazmur menggambarkan hidup orang percaya seperti kehidupan petani. Mereka memang harus berlelah-lelah mencangkul tanah, menabur benih, dan merawatnya. Atas semua yang telah dilakukan, mereka meletakkan pengharapan pada pertumbuhan benih yang ditabur. Dan ketika tiba waktunya, para petani menuai hasilnya. Mereka membawa pulang hasil panennya dengan sorak-sorai. Demikian umat Tuhan boleh pulang dari pembuangan dengan sukacita dan menikmati keadilan Tuhan.

Sadar atau tidak, hidup manusia mengalami perubahan yang disertai suka dan duka. Lalu, bagaimana manusia menyikapi perubahan itu ? Ketika datang sukacita, maka kita bersyukur. Tetapi dikala duka, penderitaan menghampiri hidup, maka hidup menjadi apatis, dan tidak jarang timbul keputusasaan dan hilangnya pengharapan. Kita tidak sabar dan ingin segera mengusir realita itu, kita marah pada situasi dan mungkin pada orang di sekitar kita. Keadilan seperti tidak menyertai kita. Pada kurun waktu tertentu kita mungkin memang merasa tidak adil. Tetapi sesungguhnya, jika kita beriman, maka akan ada keadilan. Kita jangan hanya melihat keadilan menurut ukuran kita tetapi marilah kita memandang keadilan menurut Tuhan. Tuhan itu adil. Belajar dari umat Tuhan, maka di saat duka, penderitaan menghampiri hidup, kita perlu memandangnya dengan iman. Kita perlu membangun pengharapan (optimis), bahwa Tuhan itu adil. Tuhan memberikan keadilan bagi setiap umatNya.
Tuhan memulihkan umatNya. Tuhan mengembalikan umatNya pada situasi dan hakekat manusia. Perubahan zaman sekarang ini bukan tidak mungkin telah menyeret manusia jauh dari kehendak Tuhan. Manusia secara tidak sadar menjadi individual, konsumtif, hedonis. Ia lupa akan fungsi dan hakekatnya sebagai manusia yang Tuhan kehendaki. Manusia terbawa arus gelombang kehidupan yang menimbulkan penderitaan. Saat demikian, manusia telah jatuh dalam pencobaan. Manusia perlu tersadar akan langkah yang telah dilalui.
Tuhan berkenan memulihkan manusia itu untuk kembali menjadi manusia sesuai dengan gambar Allah. Sesungguhnya, di situ manusia menikmati keadilan Tuhan itu. Sebagai orang percaya, kita tentunya telah meikmati keadilan Tuhan. Tindakan Allah yang telah kita alami harus direspon dengan sukacita, semangat, vitalitas, dan ucapan syukur dalam menjalani hidup. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar