2 November 2017

Mikha 3:5-12 NABI PALSU



    ANDALKAN TUHAN MENEGAKKAN KEADILAN

Dalam mempelajari kitab Perjanjian Lama dikenal dua jenis nabi, yaitu nabi besar dan nabi kecil. Perbedaan ini bukan karena tubuh mereka tinggi atau pendek dan gemuk atau kurus (juga bukan yang satu nabi putih dan yang lain nabirong), tetapi dibedakan atas tebal atau tipisnya tulisan mereka. Namun, setipis-tipisnya tulisan para nabi itu tidaklah setipis daun sangge-sangge.

Selain perbedaan nabi besar dan kecil ada juga yang disebut nabi tanpa ‘atribut’ dan nabi dengan atribut. Nabi yang dengan ‘atribut’ disebut nabi palsu (panurirang pargapgap). Nabi yang dengan atibut dan para pemimpin umat Tuhan inilah yang dikritik oleh nabi Mikha pada bacaan kita ini.
Israel adalah umat milik Allah, dan para nabi adalah juru bicara Allah yang secara khusus dipanggil oleh Allah sendiri. Nabi berfungsi untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk (kritik) kepada bangsa dan Negara dalam kaitannya dengan segala persoalan. Nasib dan masa depan bangsa adalah juga tanggung jawab para nabi.
Selain raja, Israel dipimpin oleh ‘kepala daerah’ dari masing-masing kaum Israel. Mereka dilengkapi dengan para kepala (hakim) yang berwewenang memutuskan segala perkara, para imam yang bertugas memberi pengajaran (moral), dan dilengkapi dengan nabi sebagai ‘penyambung lidah Allah’ agar bangsa itu tidak melenceng. Mereka semua memiliki tugas agar hidup bangsa (umat) itu sesuai dengan kehendak Allah. Wajarlah jika mereka menerima upah (gaji). Tetapi mereka menjadi ‘kurang ajar’ karena mereka menyelewengkan tugas jabatannya.
Para kepalanya (Hakim) memutuskan hukum karena suap.
Mereka menangani untuk memutuskan segala perkara rakyat. Namun dalam memutuskan perkara, mereka tidak berlaku adil. Keputusan yang mereka buat selalu menyakiti hati rakyat. Mereka memutuskan perkara bukan dengan keadilan. Persoalan akan selalu dimenangkan oleh orang-orang yang sanggup memberi suap. Mereka memperkosa hak-hak umat. Para pemimpin telah memimpin tanpa keadilan.
para imamnya memberi pengajaran karena bayaran.
Para imam memiliki tugas untuk mendidik rakyat, secara khusus pengajaran moral. Namun mereka tidak menjalankan tugasnya dengan baik bila tidak mendapat upah tambahan (bayaran). Mereka lebih banyak duduk di kantin atau dan pura-pura membaca Taurat. Mereka tidak memiliki tanggung jawab moral sekalipun mereka mengajarkan tentang ahlak.
para nabinya menenung (bernubuat) karena uang.
Nah ini dia …. nabi-nabi yang secara khusus dikritik oleh Mikha dalam nas ini. Merekalah yang disebut nabi palsu. Mereka adalah nabi yang bertugas mengawasi agar penyelengaraan Negara berlangsung dengan benar. Mereka harus mengingatkan para penguasa jika kebijakannya melenceng. Namun para nabi ini tidak menyampaikan kritik, sekalipun para pemimpin bangsa telah melanggar titah Tuhan. Mereka membiarkan bahkan mendukung tindakan para pemimpin membengkokkan kebenaran.
Nabi palsu memang nabi yang lebih mementingkan perutnya. Pemimpin yang berlaku tidak adil tetapi mendapat dukungan dari nabi palsu. Para nabi palsu itu memberitakan ‘damai’ kalau mereka mendapat imbalan cukup untuk khotbah-khotbah mereka. Namun mereka akan memberitakan ancaman kalau mereka tidak mendapat imbalan yang cukup (Mikha 3:5-8). Tidak ada kejelasan nubuat (ramalan) mereka. Bagi nabi palsu hanya satu yang jelas, mendapat imbalan. Kebijakan para pemimpin selalu mendapat dukungan dari nabi palsu, sekalipun itu menghasilkan ketidakadilan. Bahkan tanpa ada rasa malu dan bersalah para nabi palsu menyatakan bahwa tindakan para pemimpin dibenarkan oleh Tuhan. Sautma maup bangso i….
Mikha tergolong nabi kecil. bekerja dan bernubuat di daerah terpencil, bergaul dengan orang-orang kecil, miskin, dan berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Nabi Mikha tampil dengan kritiknya atas para pemimpin bangsa, khususnya para ‘nabi negara’. Nabi Mikha memberi kecaman yang sangat pedas terhadap para nabi yang menipu rakyat.
Persekongkolan para pemimpin dan nabi palsu ini merupakan penyelewengan yang hebat. Sebagai hukuman terhadap penyelenggaraan Negara yang penuh ketidakadilan itu, maka Mikha menubuatkan, bahwa kota Yerusalem sendiri akan hancur dan bahkan Bait Allah yang suci itu akan tinggal puing-puing. Yerusalem akan menjadi timbunan puing, dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan (9-12).

Kita harus melakukan keadilan. Di tengah-tengah dimana kita berada, baik di kota maupun di desa, kita dapat menyaksikan kesenjangan sosial. Ada yang kaya dan miskin. Mereka yang miskin menjalani hidup dengan berbagai penderitaan diiringi cucuran keringat dan air mata untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada kehidupan yang kontras, kesenjangan sosial. Salah satu penyebab kondisi ini adalah banyaknya penyelenggara negara yang korupsi. Jika saudara salah seorang di antaranya, maka mulai sekarang hentikan itu sebelum anda menjadi penghuni kamar 13.
Kerja merupakan sebuah tanggung jawab dan kesempatan untuk berkarya sebagai bagian dari panggilan Tuhan bagi hidup kita.  Memang, kita tidak dapat memungkiri bahwa bekerja adalah memperoleh uang. Tetapi kita harus tetap memperhatikan  unsur keadilannya. Kita juga perlu merenungkan akan segala yang kita peroleh. Perenungan atas semua itu akan membawa kita untuk menemukan makna kehidupan ini.
Para pengkhotbah yang melayani di kantor (pemerintah) harus mau berkata kebenaran. Ingatkan mereka untuk tugas dan tanggung jawab serta tidak korupsi. Demikian juga yang melayani di perusahaan. Ingatkan para pemilik akan gaji layak bagi pegawai, jangan hanya mangoncop keringat mereka. Ingatkan juga para buruh untuk bekerja sebaik-baiknya. Jangan takut anda tidak lagi dipanggil berkhotbah. Pilih : anda hamba Tuhan atau anda budak penguasa dan pengusaha ?
Sebagai umat Tuhan, kita juga harus mewarisi sifat-sifat yang mau berkorban. Kelakuan yang berkeadilan perlu kita aplikasikan di dalam berbagai kehidupan kita. Keadilan harus kita upayakan secara terus menerus. Kita melakukan itu sebagai bagian dari kesetiaan kita pada Tuhan. Dan itu kita lakukan dengan segala rendah hati, sebab kita dapat melakukan itu karena Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita. Kita dimampukan melakukan keadilan hanya bila kita mengandalkan Tuhan. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar