6 Agustus 2012

Yohanes 6:41-51


                                                            ROTI DARI SORGA
6:41 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."
6:42 Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"
6:43 Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut.
6:44 Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.
6:45 Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku.
6:46 Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.
6:47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.
6:48 Akulah roti hidup.
6:49 Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati.
6:50 Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati.
6:51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

19 Juli 2012

Efesus 2:11-22 (Khotbah, 22 Juli 2012)


GEREJA ADALAH PERSEKUTUAN PENDAMAIAN
Di tengah-tengah gencarnya semangat  pekabaran Injil, Paulus harus dimampukan menerobos berbagai perbedaan. Ketika orang-orang Yunani bertobat menjadi Kristen tetapi mereka sulit menyatu dengan orang Yahudi Kristen. Yahudi merupakan umat pilihan Tuhan. Di dalam keterpilihannya itu, mereka bertumbuh menjadi suatu bangsa yang memiliki ‘kelebihan’ dibandingkan  dengan bangsa lain. Bagi orang Yahudi, sejarah mempunyai arah dan tujuan. Mereka begitu yakin, bahwa masa depan adalah masa gemilang. Hidup adalah suatu perjalanan menuju Allah. Mereka memiliki pengharapan akan masa depan. Jelaslah, bahwa suatu bangsa yang menyadari tujuan hidup yang seperti itu akan menampilkan hidup yang dinamis. Sedangkan bagi bangsa lain, sejarah tidak mempunyai arti, kehidupan hanyalah pengulangan belaka. 

9 Juli 2012

Presiden Masa Depan


Posted by Picasa

Amos 7:7-15 (Khotbah, 12 Juli 2015)


TUHAN MENGHUKUM PENYEMBAH-PENYEMBAH BERHALA
Menjadi hamba Tuhan bukanlah pilihan tetapi panggilan. Artinya, sekalipun jarang orang bercita-cita menjadi hamba Tuhan tetapi Tuhan memiliki cara khusus memanggil orang menjadi hambaNya. Setiap hamba Tuhan memiliki latar belakang yang berbedabeda; ada yang dari peternak, petani, perampok. Ada juga karena kurang pintar di sekolah sekuler, akhirnya mengambil sekolah Pendeta. Semua latar belakang itu tidak menjadi soal, yang utama, apakah hamba Tuhan itu melaksanakan tugas panggilannya. Amos bukanlah orang yang memiliki pendidikan formal, ia hanya seorang peternak kecil. Tetapi Tuhan yang memanggil Amos menjadi hambaNya. Tuhan memanggil Amos untuk suatu tugas yang teramat berat. Amos dipanggil untuk memberi kritik atas ketidakadilan sosial yang terjadi ditengah-tengah bangsanya.

6 Juli 2012

Yehezkiel 2:1-5 (GKPI, 8 Juli 2012)


TUHAN YANG MENGUTUS PEMBERITA FIRMANNYA

Keunikan panggilan Yehezkiel ; ia adalah bagian dari orang-orang yang ikut terbuang. Ia turut menderita sebagai orang yang terbuang. Di tengah-tengah pembuangan dan penderitaan itulah Yehezkiel dipilih/dipanggil/ditetapkan Tuhan sebagai nabi. Panggilan Yehezkiel ditandai dengan masuknya Roh Allah ke dalam dirinya. Roh Allah itulah maka Yehezkiel akan dimampukan untuk menyatakan firman Tuhan. Seorang hamba Tuhan akan dimampukan menyatakan firman Tuhan apabila ia telah dipenuhi oleh Roh Allah.

Sebagaimana layaknya nabi, Yehezkiel dipanggil untuk memperingatkan umat agar tidak menyimpang dari perintah-perintah Allah ;  (a) perlunya pembaharuan hati dan jiwa, serta tanggung jawab setiap orang atas dosa-dosanya sendiri. (b) Ia juga menyatakan pembaharuan hidup bagi bangsa Israel secara menyeluruh, sebab dosa itu telah merasuki seluruh sendi kehidupan berbangsa. Untuk mencapai hal itu betapa pentingnya hidup dengan menuruti kehendak Tuhan.
Yehezkiel diutus kepada orang-orang pemberontak melawan Tuhan. Mereka dan nenek moyangnya telah durhaka terhadap Tuhan (3-5). Inilah tugas Yehezkiel yang sangat berat. Karena kedegilan ; keras kepala dan tegar hati mereka itu, firman Tuhan kepada Yehezkiel : terserah, mereka mendengarkan atau tidak - ;  Yehezkiel tidak perlu pusing dengan itu. Sebab, jangankan Yehezkiel yang hanya manusia biasa, terhadap Tuhan pun mereka memberontak dan durhaka. Satu hal yang perlu, sekalipun mereka telah berdosa dan mengalami penderitaan, Tuhan tidak membiarkan mereka. Tuhan tetap mengutus hambaNya untuk mengingatkan mereka agar mengalami hidup baru.

Setiap orang yang telah mengalami hidup baru adalah orang yang telah menerima Roh Allah. Roh itulah yang berkuasa pada dirinya. Dengan Roh itulah ia menyatakan firman Tuhan dalam berbagai bentuk : baik melalui khotbah, nasehat, keteladanan dsb. Dengan demikian, orang lain mengalami pembaharuan hidup.
Resiko orang yang menyatakan firman Tuhan sangat mungkin diabaikan, ditolak, dicemooh, bahkan dianiaya. Itulah resiko seorang hamba Tuhan. Tetapi seorang hamba Tuhan harus menyatakan firman Tuhan.
Lalu, bagaimana kita mendengar firman Tuhan ? Adakah firman Tuhan itu kita berlakukan di dalam hati kita. Atau, bukankah kita sering merasa terganggu mendengar firman Tuhan ? Kita menggerutu, dan merasa sakit hati ketika mendengar firman Tuhan. Kalau demikian, kita telah menjadi seperti umat Tuhan ; pemberontak, durhaka degil, keras kepala, dan tegar hati.

Kita semua adalah orang – orang yang telah menerima Roh Allah. Itu berarti kita semua adalah hamba Tuhan, yang terpanggil untuk menyatakan firman Tuhan, sehingga banyak orang mendekatkan diri kepada Tuhan. AMIN

27 Juni 2012

Ratapan 3:22-33 (Minggu, 28 Juni 2015)

                  TAK BERKESUDAHAN KASIH SETIA TUHAN

Dalam perjalanan hidup ini berbagai peristiwa menyertai kita. Dalam setiap peristiwa adakalanya kita dipenuhi sukacita tetapi tak jarang dukacita datang menghampiri. Semua peristiwa itu; sukacita maupun dukacita perlu lebih sungguh-sungguh kita renungkan ; apakah kita merasakan keterlibatan Tuhan dalam setiap peristiwa kehidupan ini ?

Kitab Ratapan merupakan suatu renungan bagi umat Tuhan atas kehidupan ini. Mereka telah dipilih dan diberkati Tuhan menjadi suatu bangsa yang besar. Tetapi mereka seringkali mengabaikan Tuhan dengan menyembah berhala dan bersandar pada bangsa lain. Sikap umat yang bersandar pada kehidupan dunia ini adalah dosa. Akibat dosa itu adalah penderitaan ; bangsa lain menjajah mereka,  kota Yerusalem diluluhlantakkan, dan Bait Allah dihancurkan. Kehancuran Bait Allah itulah yang sangat memilukan umat Tuhan, sebab Bait Allah merupakan identitas mereka sebagai umat Tuhan. Situasi itu membuat mereka hanya bisa meratap dan menangis. Mereka meratapi dan menangisi dosa dan akibat yang harus mereka tanggung.  

20 Juni 2012

Ayub 38:1-11 (GKPI, 24 Juni 2012)


                          HIKMAT DAN PENGERTIAN HENDAKLAH TERUS MEMULIAKAN TUHAN

Kitab Ayub mengisahkan perjalanan hidup seorang manusia saleh.  Ayub taat melakukan firman Tuhan; ia berdoa, melakukan segala kewajibannya, suka menolong, sopan dan ramah.
Kehidupan Ayub pun penuh dengan kemakmuran. Ia menikah dan dikaruniai putra-putri. Ia juga memiliki harta yang luar biasa. Ia menjadi orang yang sangat dihormati. (HAMORAON, HAGABEON, DAN HASANGAPON)

Sampai disini, kita bisa mengatakan : “Pantas Ayub mendapatkan  semua itu, sebab Tuhan memberkati yang berkenan kepadaNya.” Tetapi perjalanan hidup Ayub berubah. Yang berubah bukan sifat baik atau kesalehan Ayub. Ia tetap saleh dan baik. Tetapi yang berubah adalah hidupnya ; secara beruntun semua anaknya  meninggal, seluruh hartanya ludes. Tidak cukup sampai disitu, ia juga mengalami penyakit yang luar biasa. Yang menyedihkan lagi, isterinya mengomel supaya meninggalkan Tuhan yang diimaninya. Inilah yang kemudian menjadi pergumulan Ayub : “MENGAPA ORANG YANG BAIK MENGALAMI PENDERITAAN ? “