5 Februari 2016

2 Korintus 3:12 - 4:2 (Minggu, 10 Peb 2016)


               ROH YANG MEMERDEKAKAN
           

Kita sering menyapa orang yang sudah kita kenal sambil memberitahukan raut wajahnya. Misalnya : - eh…kok kamu bersedih, wah….ceria sekali kelihatannya, bah….kok ngelamun ? Yah,…kita memang diberikan kemampuan membaca wajah orang-orang yang ada di sekitar kita. Kondisi wajah seseorang dapat dipengaruhi faktor dari luar maupun dari dalam. Kita bisa memberi perawatan rambut, wajah, kulit, sehingga tampak anggun, cerah, cantik. Itu pengaruh dari luar. Sedangkan pengaruh dari dalam ditentukan oleh hati, jiwa, pikiran kita. Ketika hati kita sedang sukacita, jiwa kita tentram-damai, atau pikiran kita begitu tenangnya, maka wajah kita turut memancarkan sukacita.

11 Januari 2016

Wahyu 5:11-14 (MISERICORDIAS DOMINI)



  PUJIAN DAN KEMULIAAN BAGI ANAK DOMBA



Menyimak perjalanan gereja mulamula, betapa hebatnya penderitaan orang-orang percaya. Mereka sangat menderita ; ditangkap, disiksa dan dibunuh secara sadis. Namun, sekalipun umat Tuhan mengalami penganiayaan yang sangat menyakitkan tetapi iman mereka tidak goyah pada Yesus Kristus. 
Yohanes turut melihat dan merasakan penderitaan itu. Yohanes menyaksikan penyiksaan terhadap orang-orang percaya, sementara ia sendiri dibuang ke pulau Patmos. Di tempat itu pula Yohanes mengalami penglihatan, yang kemudian mencatatkannya. Itulah yang dituliskan di dalam kitab Wahyu.
Kitab Wahyu secara keseluruhan menggambarkan kekejaman pemerintahan Romawi terhadap orang-orang percaya kepada Kristus yang telah bangkit. Kristus yang bangkit diimani sebagai yang berkuasa atas segala bumi. Ia patut dipuji dan dimuliakan. Kristus menjadi jaminan bagi setiap orang percaya untuk beroleh kehidupan kekal.
Secara khusus, kitab Wahyu memberikan penguatan kepada orang-orang percaya atas penderitaan yang dialami. Nas bacaan kita memperlihatkan bagaimana malaikat dan seluruh makhluk memperdengarkan suara nyaring untuk memberikan pujian kepada Yesus Kristus (12) : "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" 
Bagaikan nyanyian yang bersahutan, suara nyaring itu dibalas dengan pujian sehingga seluruh makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya : "Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!" Ini merupakan pengakuan orang-orang percaya pada Kristus.
Suara yang bersahutan itu diakhiri dengan kata ‘Amin’ oleh keempat makhluk.
Pada akhir nas ini dicatatkan tentang tua-tua yang jatuh tersungkur dan menyembah. Yohanes hendak menggambarkan bahwa seluruh kuasa-kuasa dunia ini menjadi tak berarti di hadapan Sang Anak Domba.
Anak Domba menggambarkan Kristus yang telah mengorbankan diriNya. Pengorbanan Kristus  merupakan karya terbesar karena memberikan perdamaian, pengampunan dan keselamatan. Di dalam pengorbanan Kritus itu pula orang-orang percaya beroleh hidup kekal.
Pengorbanan Kristus merupakan belas kasihNya kepada umatNya. Sekalipun mereka mengalami penganiayaan, penderitaan namun Tuhan senantiasa menyertai dan memberikan keselamatan.

Firman Tuhan ini membawa kita pada sebuah gambaran hidup yang indah. Hidup adalah anugerah Allah. Oleh sebab itu, kita layak mensyukuri segala pemberian Allah. Itulah kehidupan bahagia. Tuhan memberikan waktu bagi kita menikmati kehidupan ini. Kita harus menggunakan kesempatan hidup yang Tuhan berikan untuk menyembah Dia, memuji Tuhan, berdoa dan mendengar firmanNya. Hidup seperti itu akan membuat kita makin  merasakan betapa besar kemurahan Tuhan memelihara dan memberkati kita.
Sebagai anak-anak Allah, maka kita adalah ahli-ahli waris dari janji-janjiNya. Anak-anak Allah akan mewarisi kehidupan kekal. Inilah yang telah dijanjikan Allah bagi anak-anakNya. Janji Allah itu begitu indahnya, melampaui segala sesuatu yang  ada pada diri kita.
Di tengah-tengah kehidupan ini kita terkadang diperhadapkan dengan gelombang kehidupan. Ini hanya merupakan ujian, sejauhmana kedalaman iman percaya kita pada firman Tuhan. Setiap orang yang percaya pada firman Tuhan, ia akan selalu merasakan kasih setia Tuhan di dalam hidupnya.
Jika kita merasa menderita di dunia ini maka itu tidak sebanding dengan yang akan Allah limpahkan bagi kita. Syaratnya, kita hidup dengan RohNya. (Wahyu 8:18) : ‘Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.’ Segala yang dialami oleh anak-anak Tuhan tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang. Inilah janji Allah yang akan diterima oleh anak-anak Allah. Betapa indahnya pengharapan anak-anak Allah.
Firman ini mengajak kita semua untuk hidup sebagai pribadi anak-anak Allah; dan menjadikan setiap keluarga/rumah tangga sebagai keluarga Allah. Hidup sebagai keluarga Allah haruslah diwarna dengan sukacita, karena kita memiliki pengharapan akan hidup kekal. Demikianlah kita hidup sebagai anak-anak Allah sambil  menantikan Janji Allah yang penuh sukacita dan kebahagiaan kekal. 
Minggu ini disebut MISERICORDIAS DOMINI = Nyanyikanlah segala belas kasih Allah. Nama minggu ini mengajak kita untuk meneguhkan iman percaya kita pada belas kasih Allah. Belas kasih Allah adalah tindakan Allah yang menguatkan dan menyelamatkan kita. Belas kasihNya menjadi kekuatan bagi kita untuk mengarungi hidup yang penuh pergumulan ini.
Belas Kasih Allah  mengingatkan kita agar jangan khawatir, jangan takut, jangan putus asa sekalipun ada pergumulan. Kita orang-orang yang telah dibenarkan mestinya menyerahkan kehidupan kita pada Tuhan Yesus Kristus. Hanya di dalam Yesus Kristus, kita mengalami ketenangan hidup.
Kita kini boleh menikmati kehidupan ini sebagai anugerah Tuhan. Dan lebih utama lagi, kita memiliki kepastian akan keselamatan yang kekal itu. AMIN

6 Januari 2016

Lukas 3:15-17+21-22 (Minggu, 10 Jan 2016)



                   KEPADAMULAH AKU BERKENAN

Menanti dan berharap merupakan bagian dari kehidupan manusia. Manusia menantikan yang diimpikan, dan berharap segala impiannya dapat terwujud. Kita meyakini, bahwa apa yang kita impikan itu dapat membawa pada kehidupan yang lebih baik.  Oleh sebab itu, selama yang kita impikan itu belum tercapai akan menimbulkan kegelisahan. Dan memang, untuk mencapai suatu impian tidaklah mudah, ada hambatan yang harus dihadapi.
Pada zaman Yohanes, umat Tuhan sedang menghadapi kondisi hidup yang sangat buruk disebabkan oleh para penguasa. Para pemimpin menjalankan kekuasaan dengan kekerasan, otoriter, serta penuh ketamakan.  Hidup menjadi tidak tenteram. Rakyat tidak lagi memiliki pegangan hidup. Kegelisahan menyelimuti kehidupan mereka.      

11 Desember 2015

Yesaya 12:2-6 (Minggu 13 Des 2015)



  BERMAZMURLAH BAGI TUHAN SEBAB PERBUATANNYA MULIA



Siapakah Allah dan bagaimanakah sifatNya ? Ini dua pertanyaan yang tidak mudah dijawab, karena logika tak mampu menjawab dengan pasti. Kita hanya dapat menjawabnya dengan iman : ‘Allah adalah Pencipta langit dan bumi’. Lalu, bagaimana sifatNya ? Baik dari Alkitab maupun pengalaman sehari-hari muncul pemahaman tentang Allah yang berubah-ubah. Di dalam Alkitab, kita menemukan Allah itu terkadang pemarah tetapi sering juga muncul dengan penuh kelembutan dan cinta kasih (yang pasti tak pakai humor). Demikian juga dalam pengalaman hidup manusia, kita sering kali mengalami hidup sukacita, dan saat demikian kita memahami Allah itu baik. Tetapi saat kita mengalami suatu pergumulan berat, kita seperti merasakan Allah itu jauh bahkan sedang menghukum. 

3 Desember 2015

Filipi 1:3-11 (Minggu, 6 Des 2015)



          SUCI TAK BERCACAT MENJELANG HARI KRISTUS

Seorang hamba Tuhan akan merasakan sukacita di dalam pelayanannya  bila persekutuan yang dilayani terajut dalam cinta kasih Yesus. Persekutuan yang demikian tentu saja menghasilkan buah-buah kasih.
Paulus sebagai pemberita Injil memiliki segudang pengalaman dalam bersentuhan dengan berbagai jemaat. Tampaknya Filipi merupakan jemaat yang paling dikasihi (kesayangannya). Ada alasan Paulus menjadikan Filipi sebagai jemaat ‘kesayangan’. (a) persekutuan Jemaat Filipi hidup dengan penuh kasih, kebersamaan, saling menerima, sehati sepikir, sepenanggungan, ada empaty, simpati terhadap sesama. Persekutuan yang demikian membuat jemaat Filipi begitu hidup dan penuh sukacita. (b) Persekutuan jemaat Filipi bukanlah sekedar berkumpulnya orang-orang bagi kesenangan mereka sendiri melainkan untuk kemuliaan Tuhan. Mereka mengutamakan pemberitaan Injil ketimbang hal-hal lain. Pemberitaan Injil menjadi skala prioritas. Karena pemberitaan Injil sebagai yang utama maka tidak boleh apapun yang dapat menjadi penghambat. Gerakan pemberitaan Injil begitu hidup dalam persekutuan jemaat Filipi. Mereka begitu antusias memberitakan Injil yang diimani sebagai tanggung jawab orang Kristen. Jemaat Filipi memberi dukungan cukup tinggi untuk pemberitaan Injil. Setidak-tidaknya mereka mengumpulkan persembahan secara rutin, lalu dikirimkan untuk mendukung pekabaran injil yang langsung dilaksanakan oleh Paulus (4:14-19). Inilah yang sangat disyukuri oleh Paulus, yakni persekutuan yang memberitakan Injil.

14 November 2015

Daniel 12:1-13 (Minggu, 15 Nop 2015)



               BIJAKSANA SAMPAI AKHIR ZAMAN

Daniel adalah orang Yahudi yang turut serta menjadi orang buangan ke Babel. Namun, ia memperoleh ‘keberuntungan’ di pembuangan. Daniel memiliki hikmat (bijaksana) sehingga  terpilih menjadi pegawai di istana raja Nebukadnezar. Ia terpilih menjadi seorang juru minum (bartender) bagi raja. Ia menjadi pelayan minuman bagi raja Nebukadnezar dan tamu-tamunya. Namun, sekalipun Daniel selalu memiliki kesempatan menikmati anggur tetapi ia tidak menajiskan dirinya. Daniel cukup bijaksana, sehingga ia tidak menajiskan dirinya dengan minuman yang memabukkan.

21 Oktober 2015

Markus 10:46-52 (Khotbah, 25 Okt 2015)



       KUASA YESUS MENYELAMATKAN ORANG BERIMAN
                  
Dalam kehidupan sehari-hari kita berjumpa dengan orang-orang kecil. Sejauh mana kita mau mendengar atau peduli dengan orang-orang kecil. Bukankah orang yang demikian sering terabaikan ? Keuntungan apa yang diperoleh dengan mendengar suara orang bawah, apalagi seorang pengemis yang buta. Namun, mereka adalah orang-orang yang mendambakan sentuhan dan harapan. Demikianlah sesungguhnya keinginan orang kecil.