11 Desember 2015

Yesaya 12:2-6 (Minggu 13 Des 2015)



  BERMAZMURLAH BAGI TUHAN SEBAB PERBUATANNYA MULIA



Siapakah Allah dan bagaimanakah sifatNya ? Ini dua pertanyaan yang tidak mudah dijawab, karena logika tak mampu menjawab dengan pasti. Kita hanya dapat menjawabnya dengan iman : ‘Allah adalah Pencipta langit dan bumi’. Lalu, bagaimana sifatNya ? Baik dari Alkitab maupun pengalaman sehari-hari muncul pemahaman tentang Allah yang berubah-ubah. Di dalam Alkitab, kita menemukan Allah itu terkadang pemarah tetapi sering juga muncul dengan penuh kelembutan dan cinta kasih (yang pasti tak pakai humor). Demikian juga dalam pengalaman hidup manusia, kita sering kali mengalami hidup sukacita, dan saat demikian kita memahami Allah itu baik. Tetapi saat kita mengalami suatu pergumulan berat, kita seperti merasakan Allah itu jauh bahkan sedang menghukum. 

Tetapi Yesaya atas pengalaman imannya tampil dengan pernyataan yang tegas (2) : ‘Allah itu keselamatanku’. Keyakinan Yesaya begitu kokohnya, sehingga lebih lanjut ia berkata, ‘aku percaya dengan tidak gementar’. Peran Allah dalam hidupnya diyakini bukan hanya pada masa yang akan datang tetapi juga pada masa kini. Itu sebabnya ia berkata, ‘TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku’. Tuhan memberinya kekuatan dan penghiburan, sehingga ia merasa layak memuji dan memuliakan Tuhan.
Pengalaman iman yang dialami Yesaya membuatnya terpanggil agar orang lain turut percaya kepada Allah. Dan jika mereka percaya kepada Allah itu, ‘Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan’. Allah akan memberikan kelengkapan hidup orang-orang percaya, sehingga mereka akan merasakan hidup tenang, nyaman, dan jiwa yang segar.
Bermazmurlah bagi Tuhan sebab perbuatanNya mulia. Melalui kasih Allah yang dirasakan umat Tuhan, maka mereka juga patut bermazmur bagi Tuhan dan memberitakan kasih Allah itu. Kesaksian umat Tuhan yang sungguh-sungguh sudah merasakan kasih Tuhan akan membuat orang banyak turut percaya, bahwa Allah adalah keselamatan seluruh bumi.

Kapankah kita merasa bahagia dalam hidup ini ? Ketika kita merasakan dan mensyukuri kemurahan Allah. Sesungguhnya, Allah kita adalah Allah Keselamatan. Sekalipun manusia itu telah bergelimang dengan dosa tetapi Allah tidak membinasakan manusia, melainkan Allah senantiasa memberikan kemurahanNya. Allah menganugerahkan kemurahanNya supaya manusia dituntun kepada pertobatan. Mereka yang mensyukuri kemurahan Allah akan tekun berbuat baik, sehingga mereka akan memperoleh damai sejahtera.
Sebagai orang percaya, kita seharusnya mensyukuri segala kehidupan yang kita alami. Kita harus melihat semua peristiwa di dalam hidup ini sebagai kemurahan Allah. Semua yang kita miliki adalah kemurahan Allah. Kekayaan, jabatan, harta, kesehatan ; mari kita imani sebagai kemurahan Allah. Segala kemurahan Allah itu hendaknya menguatkan kita untuk menerima kehidupan yang kekal.
Sebagai orang yang telah merasakan kemurahan Allah, kita patut bermazmur bagi Tuhan sebagai tanda sukacita. Mazmur kita adalah mewartakan perbuatan Tuhan yang mulia itu. Perbuatan yang penuh pengampunan, tindakan yang memberi keselamatan.
Tuhan memakai Gereja untuk mewartakan Injil kepada orang-orang sengsara. Kesengsaraan manusia masa kini bukan hanya soal ekonomi, tetapi lebih lagi orang-orang yang dilanda berbagai pergumulan. Pergumulan-pergumulan itu membuat orang kehilangan semangat hidup, putus asa. Mewartakan kasih Allah bukan dengan menyerang keyakinan orang lain, tetapi menjadi saksi atas kemurahan Tuhan.
Banyak orang-orang yang kehilangan semangat hidup karena berbagai pergumulan. Bahkan orang Kristen sendiri banyak yang bergumul, baik di luar maupun di dalam gereja. Seringkali karena pergumulan itu membuat mereka menjauh dari Tuhan, dan mereka tidak datang lagi ke gereja.
Kita mestinya terpanggil untuk mewartakan kasih Kristus bagi mereka. Gereja harus mewartakan kasih Kristus itu dengan sentuhan cinta kasih. Gereja (persekutuan) haruslah hadir untuk membangun mental-spiritual (partondion). Gereja perlu kembali memperkokoh persekutuan, membangun kerohanian, mengajak setiap warga gereja turut ambil bagian dalam persekutuan.  Saat ini menjadi sebuah moment bagi kita warga gereja untuk saling mengasihi, menyentuh hati yang berbeban berat, menjamah hati yang remuk.
Saat ini dinamakan dengan minggu penantian, Minggu mempersiapkan diri untuk memperingati hari Kelahiran Tuhan Yesus, Sang Pemberi Keselamatan. Disamping kita mempersiapkan hal-hal dunia, persiapan yang paling utama, adalah mempersiapkan rohani kita. Mempersiapkan diri menghayati sifat, jiwa, dan perbuatan Kristus. Kita perlu mempersiapkan diri untuk mampu mengampuni, memaafkan bahkan mengasihi orang yang menyakiti, yang mengganggu hidup kita. Dengan demikian, menyongsong Natal dan Tahun Baru maka kita merasakan perjumpaan dengan Tuhan dalam damai sejahtera. Hendaklah kita semuanya bersukacita. Maka ketika Tuhan yang kita nanti-nantikan datang, Dia mengangkat kita semua dalam kasihNya. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar