21 Februari 2012

Kejadian 9:8-17 (Khotbah Minggu, 26 Februari 2012)


Pelangi: Tanda Janji Kasih Setia Allah

Pendahuluan
Nuh dan keluarganya baru saja melewati suatu peristiwa yang paling mengerikan sepanjang sejarah umat manusia. Semua mahluk di bumi, kecuali mereka yang ada dalam bahtera telah musnah dalam peristiwa banjir besar. Mereka keluar dari bahtera sebagai mahluk hidup yang masih bertahan di planet bumi ini, untuk melanjutkan kehidupan baru sesuai rencana Allah.

Bumi yang semula dipenuhi mahluk berdosa telah musnah oleh murka Allah. Namun dibalik murka Allah itu ada celah pengampunan sebab Allah tidak hanya bermaksud menghukum bumi tetapi juga membaruinya. Nuh, keluarganya dan segala binatang yang ada dalam bahtera terpilih untuk memulai kehidupan yang baru itu. Mereka akan menjalani rangkaian sejarah keselamatan yang telah dirancang oleh Allah.

Pelangi Sebagai Jaminan
Orang yang baru saja mengalami ‘perstiwa mengerikan’ memerlukan jaminan. Bayangkan betapa traumanya Nuh beserta keluarganya saat menjalani hidup baru di bumi yang baru saja dilanda air bah yang mematikan. Ketika hujan turun, mungkin mereka akan cemas. Bagaimana kalau hujan ini tidak berhenti? Ketika mendengar suara Guntur, mungkin mereka akan ketakutan. Apakah air bah akan datang lagi? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan mengganggu pikiran mereka.

Allah mengerti itu, maka secara sepihak Allah membuat perjanjian dengan Nuh, keluarganya dan seluruh binatang dan ternak yang bersama-sama mereka. Bahwa Allah tidak akan memusnahkan bumi ini lagi dengan air bah. Untuk meyakinkan mereka, sampai berkali-kali Allah mengucapkan janji-Nya (Kej. 8:21-22; 9:11,15) bahkan membuat ‘tanda’ untuk menguatkan janji itu (ay 13-14).

Setelah peristiwa air bah, Allah tidak lagi mengambil solusi hukuman yang membinasakan umat manusia tetapi mengikutsertakan manusia sebagai mitra-Nya dalam perjanjian keselamatan. Dalam Kej. 9:12-13, Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi”. Tanda perjanjian keselamatan Allah yang penuh anugerah dinyatakan melalui simbol busur (qeset). Semula dengan busur yang dilengkapi dengan anak panah dipakai oleh Allah untuk memanah setiap umat yang berdosa, sehingga mereka binasa. Tetapi setelah bumi dibersihkan dari perbuatan dosa, Allah mengambil keputusan untuk menempatkan kasih-karunia-Nya yang membarui kehidupan umat yang berdosa. Karena itu simbol busur (qeset) yang dilambangkan dalam wujud pelangi bermakna ‘tumbuhnya pengharapan dan keselamatan yang baru’.

Busur Allah yang pernah membinasakan kehidupan umat kini berubah fungsi menjadi busur senjata  Penebus dan Penyelamat bagi umat yang berdosa. Sebagai Penebus dan Penyelamat, Allah menggunakan busur dan senjata-Nya untuk  menjaga dan melindungi umat agar  mereka terjaga dari serangan kuasa maut. Itu sebabnya dosa umat yang begitu besar tidak lagi menghalangi kasih-karunia Allah terus bekerja dalam kehidupan ini, sehingga umat dikaruniai pengharapan dan kesempatan untuk bertobat. Sekaligus busur Allah yang ditampilkan dalam bentuk pelangi untuk mengingatkan umat agar mereka selalu ingat akan kasih karunia Allah yang menjaga dan melindungi mereka. Sehingga umat dapat menjaga diri dari dorongan dan daya tarik dunia seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang pada zaman Nuh.

Refleksi
Allah telah berjanji bahwa Dia tidak akan lagi menghukum bumi ini dengan ‘air bah’. Allah telah memenuhi janji-Nya itu selama lebih dari 4.000 tahun. Sebagai orang percaya saya yakin dan saya memegang janji Allah itu. Namun demikian kita harus meresponi janji Allah itu dengan suatu sikap yang bijak, yaitu dengan menjaga dan memelihara bumi ini sebagai mandataris Allah. Jika Allah sendiri berkenan menjadikan pelangi sebagai alat untuk mengingatkan diri-Nya akan janji-Nya sendiri, maka pelangi itu juga harus menjadi peringatan bagi kita, manusia. Agar kita turut “memegang” janji Allah itu, dengan menjaga dan memelihara “stabilitas kosmis” sebagaimana dikehendaki-Nya.

Dalam praktek hidup sehari-hari, betapa sering kita melupakan dan mengabaikan perjanjian keselamatan Allah yang telah dianugerahkan dalam kehidupan kita. Itu sebabnya perjalanan hidup tidak lagi kita hayati sebagai suatu ziarah iman, tetapi sebagai rangkaian panjang petualangan akan dosa. Padahal relasi khusus yang diikat oleh Allah dalam perjanjian-Nya bertujuan agar kehidupan kita dapat menjadi suatu ziarah iman di mana kita harus selalu haus akan kebenaran-Nya. Tetapi ketika rasa haus kita tidak lagi terarah kepada kebenaran Allah, maka rasa haus kita akan berubah menjadi rasa haus akan kenikmatan dunia ini. Dalam situasi yang demikian, kita perlu bersikap seperti pemazmur yang berkata: “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari” (Mzm. 25:4-5).

Dalam 2 Petrus 3:6-7 dikatakan, “dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah.  Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.” Nas ini mengingatkan kita bahwa air bah tidak akan datang, namun api neraka pasti menjadi hukuman bagi orang-orang berdosa. Mari kita merenungkan ‘pemanasan global’ yang terjadi di zaman ini, yang jelas-jelas terjadi akibat ulah manusia, meyebabkan bumi ini semakin panas. Lapisan ozon yang meyelimuti  bumi dari sinar matahari semakin menipis akibat emisi (pengeluaran) karbondiokasida yang berlebihan yang berasal dari pembakaran hutan, asap pabrik, kendaraan bermotor dan gas. Oleh karenanya, panas sinar matahari yang sampai ke bumi pun berlebihan. Di Amerika, pada tahun 2005, ribuan orang mati karena sengatan sinar matahari. Di Banglades, ribuan orang mati karena kelaparan sebab panas matahari menggagalkan hasil pertanian. Saat ini juga bermacam-macam penyakit muncul akibata radiasi sinar matahari. Daya tahan tubuh mahluk hidup pun berkurang oleh karena radiasi sinar matahari yang membuat cacat kromosom dalam tubuh. Menjadi masuk akal bahwa Nuh bisa berumur 600 tahun sebelum peristiwa air bah, namum setelah itu – sampai sekarang ini umur manusia semakin berkurang. Sebab lapisan-lapisan air yang melindungi bumi sudah banyak tercurah pada peristiwa air bah (Kej. 7:11-12).

Tuhan Yesus, Pelangi Bagi Orang Percaya
Air dan api bisa saja memusnahkan mahluk di bumi ini. Namun ada satu jaminan bagi setiap orang percaya, dimana mereka tidak akan binasa oleh sesuatu apapun. Dalam Yoh. 3:16 dikatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Tuhan Yesus Kristus menjadi tanda pelangi bagi setiap orang percaya. Bertobatlah lalu percaya pada-Nya, dengarlah ajaran-Nya, lakukanlah perintah-Nya, maka kita akan terhindar dari hukuman Allah dan hidup kekal akan menghampiri kita. Amin.


Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar