6 April 2017

Yesaya 50:4-9a (Khotbah Minggu)



         TUHAN ALLAH MENOLONG AKU

Anda pernah melihat orang bisu, bukan ? Suaranya besar sekalipun tak jelas yang diucapkan. Orang sekampung bisa heboh dibuat karena suaranya itu. Orang bisu itu memang harus berkoak dengan suara besar karena ia menganggap orang lain tidak mendengar suaranya, seperti dirinya. Ya….orang bisu biasanya dibarengi dengan tuli, sekalipun tidak semua membenarkan teori itu.

Anda juga pernah melihat (mendengar cerita) orang yang disiksa tapi tidak melawan, bukan ? Jangan langsung mengatakan bahwa orang itu tidak berani atau tidak mampu melawan. Jangan juga katakan bahwa orang yang tak berani melawan itu karena ia bersalah. Tidak selalu. Ya…orang itu sangat mungkin mengutamakan perdamaian, dengan merendahkan hatinya. Pernah lho ada Pendeta mangalotak seorang Majelis sampe KO, tapi itu pasti bukan Kebenaran.
Kemampuan berbicara dan kerendahan hati menjadi sangat penting bagi seorang hamba Tuhan. Tetapi di atas semua itu, Tuhan memiliki kuasa atas pemilihan hambaNya. Itulah pengalaman iman nabi Yesaya sebagai hamba Tuhan. Ketika dipanggil sebagai nabi, Yesaya menyadari bahwa ia adalah seorang yang najis bibir (fasal 6). Tetapi ia terus melatih dirinya dengan dengar-dengaran akan firman Tuhan, bahkan mengambil waktu rutin setiap pagi. Tuhan pun membuka telinganya, sehingga ia mampu memahami dan memberlakukan firman Tuhan dengan ucapannya. Ia siap menjadi murid Tuhan untuk mengumandangkan firmanNya. Tuhan mengokohkan Yesaya (deutro) yang berada di pembuangan untuk menghibur, memberi semangat baru, memberitakan bahwa  Yahwe akan menyelamatkan umatNya. 
Selain kemampuan berbicara, Seorang hamba Tuhan harus hidup dalam ajaran Tuhan, termasuk bukan menjadi pemberontak. Adalah suatu resiko bagi seorang hamba Tuhan yang memberitakan kebenaran. Ia sangat mungkin mengalami penganiayaan ; dihina, dipukuli, dinodai, dan diludahi bagaikan seorang penjahat. Ia menderita. Penganiayaan justru datang dari orang-orang yang dilayani. Sebagai seorang hamba Tuhan yang hidup dalam kebenaran tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan balaslah kejahatan dengan kebaikan.  Inda tolap ? martangiang ho !
Yesaya mengalami itu dalam hidupnya, tetapi Tuhan tidak pernah berdiam diri. Yesaya begitu meyakini bahwa Tuhan menolongnya, sehingga ia tidak ternoda. Sebagai orang yang tak bersalah ia meneguhkan hatinya (tidak goncang) bagaikan kokohnya sebuah gunung batu. Keteguhan hati Yesaya bukan karena ‘kejugulan’nya sendiri tetapi karena Tuhan yang menolongnya. Yesaya meyakini bahwa Tuhan Penyelamat dan Kebenaran itu akan tiba.
Deutro Yesaya berusaha meyakinkan umat Tuhan agar tetap berpegang pada Tuhan saja. Berita itu sangat tepat di tengah-tengah kehidupan agama yang politheistis di Babel. Umat Tuhan tidak perlu terpesona dengan illah-illah dan takut dengan kuasa Babel. Hamba Tuhan yang berkuasa menyelamatkan akan segera tiba. Bahkan ia bukan hanya berkuasa atas Israel dan Babel saja tetapi mesias bagi seluruh dunia (Yesaya 42:1-9). Hamba itu sedang dipersiapkan oleh Tuhan dan menyadari kesulitan tugas yang bakal ditanggungnya. Penderitaan yang ditanggung mengandung makna pengampunan. Penderitaan itu bukan dianggap sebagai konsekwensi dari tugas sang hamba, melainkan sebagai bagian tugas itu sendiri.
Yesus Kristus…..itulah Penolong. Yesus adalah Kebenaran. Yesus menyapa setiap insan dengan kata-kata yang menghibur, menguatkan bagi yang letih lesu. Yesus memberi pengharapan, semangat baru, dan mengampuni orang-orang berdosa. Telinga Yesus cukup tajam mendengar setiap keluh-kesah, jeritan umat manusia. Dan Yesus menaatkan diriNya pada tugas utamaNya, rela menderita demi penebusan dosa-dosa manusia.

Kita adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Tuhan, namun dosa akan terus menggoda kehidupan ini. Sebagai orang yang ditebus oleh Yesus Kristus, Tuhan memakai kita sebagai hambaNya. Tuhan dapat memakai kita melalui ucapan yang menghibur dan menguatkan. Perkataan baik yang diucapkan dengan bijak memperlihatkan bahwa orang yang berbicara mempunyai akal sehat, tetapi kata-kata fasik akan menuntun kepada hukuman bagi orang yang mengatakannya. Kata-kata mempunyai kuasa untuk mendatangkan kebaikan dan kejahatan. Kita dapat berbicara agar menjadi berkat bagi kita dan orang lain, bila kita senantiasa mendengar firman Tuhan yang mengubahkan hati dan pikiran kita.
Orang yang bibir najis tidak layak menjadi hamba Tuhan karena bukannya menguatkan orang lain tapi malah menjadi sandungan. Tuhan memberikan mulut bukan sekedar tempat memasukkan saksang dan panggang saja, tetapi lebih utama supaya dari dalamnya keluar kata-kata yang memberi semangat bagi banyak orang.
Bangunlah mulut kita dengan mendengarkan firman Tuhan, sehingga kata-kata kita tidak menjadi sandungan bagi orang lain melainkan mengubahkan setiap orang menjadi murid Tuhan. AMIN

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar