5 Juni 2015

2 Korintus 4:13 - 5:1 (Minggu, 7 Juni 2015)



          MANUSIA BATINIAH DIBAHARUI HARI DEMI HARI

Pada gereja mula-mula, kehidupan orang-orang Kristen mengalami ancaman ; baik dari penguasa maupun ajaran-ajaran yang menyesatkan. Semua itu membuat orang-orang Kristen sangat merasa tertekan. Lalu, apakah karena tekanan itu membuat gentar orang Kristen ? Satu kata yang membuat orang Kristen tetap kokoh adalah ‘percaya’. Percaya bahwa Yesus Kristus dibangkitkan. Keyakinan itulah membuat semangat orang Kristen berkobar-kobar, bahkan membuat semakin banyak orang menjadi percaya. Kebangkitan itu membuat orang-orang Kristen mengarahkan hidupnya pada kehidupan kekal. Buahnya, orang-orang Kristen bukan hanya dikuatkan tetapi turut dimampukan bersyukur di tengah-tengah penderitaan itu untuk memuliakan Allah. Bagaimana orang bisa bersyukur sementara penderitaan menghampiri dirinya ? Paulus melihat bahwa manusia terdiri dari lahiriah dan batiniah. Manusia lahiriah hanya mampu memperhatikan yang kelihatan. Tak dapat disangkal, penderitaan yang dialami umat Kristen itu membuat manusia lahiriah mereka makin merosot. Mereka menjadi manusia yang tak diperhitungkan, tetapi semua itu hanya sementara. Penderitaan, ancaman, tekanan, kemiskinan dsb hanyalah lahiriah dan sementara. 

26 Februari 2015

Markus 8:31-38 (Minggu, 1 Maret 2015)



         MENYANGKAL DIRI DAN MEMIKUL SALIB

Ada sebuah nyanyian Sekolah Minggu yang sudah cukup menggereja:
Mengikut Yesus keputusanku…
Mengikut keputusanku
Mengikut Yesus keputusanku…`
ku tak ingkar - `ku tak ingkar
Lagu ini bukan hanya digemari oleh anak-anak Sekolah Minggu tapi orang tua. Menyanyikan lagu itu memang sangat menyenangkan dan dapat meneguhkan hati. Tapi apakah orang yang sudah menyanyikan lagu itu sanggup mengikut Yesus ? Mengikut Yesus diperlukan kesiapan menghadapi ancaman, sebab Yesus sendiri disebutkan (ay.31) : ‘Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh tua-tua, imam-imam, ahli Taurat, lalu dibunuh’.

Kejadian 17:1-7 ;15-16 (Epistel)


                     PERJANJIAN ALLAH DENGAN ABRAHAM

Abraham dikenal sebagai ‘bapa orang percaya’. Sebutan itu melekat pada Abraham karena perjalanan hidupnya dipenuhi oleh janji-janji Allah. Ia taat dengan mem-pasrah-kan hidupnya pada janji itu. Ia tidak takut dan hanyut pada godaan dan ancaman dunia.
Perjanjian Allah dengan Abraham ditandai dengan syarat agar Abraham hidup dengan tidak bercela. Dalam hidup yang demikianlah, Allah memenuhi janji-janjiNya kepada Abraham.

Mazmur 119:9-16 (Epistel)



        BERSUKACITA MENAATI FIRMAN TUHAN

119:9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
119:10 Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.
119:11 Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.
119:12 Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
119:13 Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan.
119:14 Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta.
119:15 Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu.
119:16 Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan. AMIN

20 Februari 2015

Markus 1:9-15 (Sermon)


                                       BAPTISAN

Baptis mulai dikenal dalam Perjanjian Baru. Tokoh yang cukup sentral memperkenalkan baptisan ialah Yohannes ; sampai ia kemudian dijuluki Yohannes Pembaptis. Baptis mempunyai arti mencemplungkan diri, menyelamkan diri dengan sekujur tubuh ke dalam air. Kegunaan baptisan pada awalnya adalah untuk mereposisi masyarakat Yahudi yang menyelewang dari norma Hukum Taurat.  Kata ‘baptis’ kemudian menjadi bahasa rohani yang berarti : penyucian diri/pembersihan diri, menguburkan segala dosa.

12 Februari 2015

2 Korintus 4:3-6 (Minggu, 15 Pebruari 2015)



          TERANG DARI PENGETAHUAN TENTANG KEMULIAAN ALLAH


Dunia akan terus mengalami perubahan seiring dengan cara berpikir manusia. Perubahan itu akan membawa dampak bagi kehidupan manusia; menjadi kebaikan atau keburukan. Muatan perubahan itu layaknya membawa kebaikan (misalnya perkembangan technology), tetapi manusia dapat saja menyalahgunakannya, sehingga memberikan dampak buruk. Jika muatan zaman itu buruk, maka manusia akan makin menderita. Bila zaman itu menawarkan kebaikan tetapi manusia menyalahgunakannya, itupun akan membawa penderitaan bagi manusia. Manusia memang tidak bisa menghempang perubahan zaman, tetapi setiap orang harus memiliki sikap kritis atas perubahan. Jika sikap kritis tidak muncul dalam memandang sebuah situasi, maka manusia akan jatuh pada kesusahan.

Mazmur 25:1-10 (22 Pebruari 2015)



           JALAN TUHAN : KASIH SETIA DAN KEBENARAN

Ragam pengalaman manusia di dalam menjalani hidup ini. Bagaimanapun perjalanan hidup ini, kita perlu renungkan : siapakah kita dihadapan Tuhan ? Pernahkah kita merasakan peran Tuhan dalam hidup ini ? Apakah kita mengimani, bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini merupakan kehendak Tuhan ? Ketika kita mengaminkan bahwa segala yang terjadi dalam hidup ini dalam kendali Tuhan, maka kita akan menikmati indahnya hidup ini.