14 November 2015

Daniel 12:1-13 (Minggu, 15 Nop 2015)



               BIJAKSANA SAMPAI AKHIR ZAMAN

Daniel adalah orang Yahudi yang turut serta menjadi orang buangan ke Babel. Namun, ia memperoleh ‘keberuntungan’ di pembuangan. Daniel memiliki hikmat (bijaksana) sehingga  terpilih menjadi pegawai di istana raja Nebukadnezar. Ia terpilih menjadi seorang juru minum (bartender) bagi raja. Ia menjadi pelayan minuman bagi raja Nebukadnezar dan tamu-tamunya. Namun, sekalipun Daniel selalu memiliki kesempatan menikmati anggur tetapi ia tidak menajiskan dirinya. Daniel cukup bijaksana, sehingga ia tidak menajiskan dirinya dengan minuman yang memabukkan.

21 Oktober 2015

Markus 10:46-52 (Khotbah, 25 Okt 2015)



       KUASA YESUS MENYELAMATKAN ORANG BERIMAN
                  
Dalam kehidupan sehari-hari kita berjumpa dengan orang-orang kecil. Sejauh mana kita mau mendengar atau peduli dengan orang-orang kecil. Bukankah orang yang demikian sering terabaikan ? Keuntungan apa yang diperoleh dengan mendengar suara orang bawah, apalagi seorang pengemis yang buta. Namun, mereka adalah orang-orang yang mendambakan sentuhan dan harapan. Demikianlah sesungguhnya keinginan orang kecil. 

16 Oktober 2015

Yeremia 8:4-7 (Minggu, 18 Okt 2015)



        YANG JATUH BANGUN ! YANG BERPALING KEMBALI

 ‘Hidup adalah perjuangan’, demikian sebuah ungkapan yang diaminkan banyak orang. Manusia harus berjuang untuk memperoleh yang dikehendakinya. Namun, perjuangan untuk mencapai tujuan bukan harus dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Ada etika dan moral yang harus menjadi pegangan. Orang yang hanya berfokus kepada tujuan dengan melanggar etika dan moral adalah kejahatan. Realita dalam kehidupan manusia seringkali berlaku demikian. Orang yang telah menikmati kejahatan, rasanya sulit untuk kembali pada ajaran etika dan moral. 

8 Oktober 2015

Ibrani 4:12-16 (Minggu, 11 Okt 2015)


           BERPEGANG TEGUH PADA PENGAKUAN IMAN

Di dalam kehidupan sehari-hari kita sudah sering mendengar firman Allah, baik di rumah, di sekolah, dan tentunya di gereja. Sejak kecil kita sudah diajarkan tentang firman Allah, bahkan orangtua sering menggunakan firman Allah sebagai landasan untuk mengajar dan mendidik anak-anaknya. Firman Allah begitu indahnya mewarnai hidup ini karena dapat menyejukkan hati. Namun, apakah kita mau dituntun oleh firman Allah kepada kehendakNya, atau kita ‘memaksa’ firman Allah mengikuti kehendak kita ? Sejauh mana firman Allah menjadi landasan hidup kita, dan sedalam apa keyakinan kita atas pengakuan iman terhadap firman Allah itu ?

18 September 2015

Mazmur 107:33-43 (Minggu, 27 September 2015)



          ORANG BERHIKMAT MEMPERHATIKAN SEGALA KEMURAHAN TUHAN

Siapalah manusia ? Kalimat tanya pendek ini hendak mengajak manusia untuk merenungkan dirinya, bahwa ia tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Manusia boleh merencanakan banyak hal dalam perjalanan hidupnya tetapi pada akhirnya mesti berserah kepada si pemberi dan pengendali hidup, yaitu Tuhan. Tuhan yang menciptakan dan menata langit dan bumi, Tuhan dapat mengubah alam yang memberi kehidupan, tetapi Ia juga dapat membuatnya menjadi kematian bagi manusia.

Markus 9:38-50 (Minggu, 27 Sept. 2015)



               SETIAP ORANG AKAN DIGARAMI DENGAN API

‘Hidup itu indah’. Ungkapan ini singkat dan dikehendaki semua manusia. Keindahan hidup adalah ketika kita dapat hidup berdampingan dengan damai bersama seluruh umat manusia. Tuhan menghendaki agar semua orang dapat hidup berdampingan dalam damai. Yesus mengajarkan bagaimana bersikap terhadap orang lain, sehingga tercipta hubungan harmonis. 

10 September 2015

Markus 8:27-38 (Minggu, 13 September 2015)



    MENGIKUT YESUS : MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB

Betapa mudah dan enak untuk mengatakan bagi orang Kristen, saya mau ikut Yesus. Apalagi menyanyikan lagi Kidung Jemaat No. 375 dengan meresapinya, kita menjadi orang yang begitu teguh dan tulus hendak mengikut Yesus. Namun, seberapa besar ketulusan dan keteguhan kita mengikut Yesus. Bukankah kita berkehndak mengikut Yesus agar dapat menikmati kehidupan dunia yang penuh pesona ini. Adakah kita pernah membayangkan bahwa mengikut Yesus berarti melepaskan diri dari kemegahan dunia ini, dan itu berarti kesiapan menderita ?